Opini, Sastra dan Diary

Tambang Untuk Kesejahteraan?


Kemarin, saat diskusi dan bedah buku Mas Hendra Try Ardianto berjudul "Mitos Tambang Untuk Kesejahteraan", yang diselenggarakan MAPCorner-KlubMKP, semua paparannya menarik dan baru di mata saya.

Logika mayoritas pemimpin daerah memang menganggap bahwa dengan adanya tambang, nanti akan tumbuh dengan sendirinya kesejahteraan bagi masyarakat sekitar tambang.

Logika ini berpangkal dimana sektor pertambangan mampu menyumbangkan PAD yang cukup besar bagi suatu daerah dan bisa membuka lapangan pekerjaan. Disisi lain, ada trikel down efek dimana pundi-pundi tambang itu akan menetes ke masyarakat sekitar tambang dengan jaminan akses terhadap usaha-usaha kecil menengah dan pengikutsertaan warga dalam proyek-proyek skala kecil -selain program CSR.

Namun, sayangnya, logika tersebut pada praktik dilapangan sungguh mengironiskan.

Pertama PAD yang didapatkan dari tambang tidak semuanya mengalir untuk wilayah administratif dimana tambang berada. Ada mekanisme pengaturan dimana PAD tersebut akan dibagi ke pusat, provinsi, lalu kabupaten dst.

Belum lagi, pemanfaatan PAD tersebut, pada praktiknya, tidak semua diorientasikan pada sektor-sektor yang secara langsung mengena dan menyejahterahkan masyarakat sekitar tambang.

Selain itu, ini yang selau dielu-elukan pemerintah daerah, perihal trikel down efek. Apa yang sebenarnya terjadi, menurut mas Hen, adalah "suatu semburan keatas", dimana manfaat tambang justru menyembur deras ke kalangan atas yang sudah mapan.

Dalam kasus CSR misalnya, perusahaan lebih memilih menyupport usaha-usaha warga yang sudah mapan, karena tingkat keberhasilan lebih menjamin daripada menyupport usaha-usaha warga kecil mulai dari nol.

Salah satu pemantik, Pak rikardo yang merupakan dosen hukum agraria, juga menyampaikan beberapa pandangan yang menarik. Ia mengatakan bahwa diatas kertas, tambang memang sudah sulit untuk menyejahterahkan rakyat. Hal itu dikarenakan mekanisme-mekanisme logis dimana tambang sejak awal memang tidak akan membukakan dirinya kepada pelaku-pelaku kecil. Seperti misalnya pada tataran alih fungsi lahan warga.

Tidak ada mekanisme aturan yang mengatur bahwa warga akan mendapatkan berapa persen saham jika dia memberikan tanahnya untuk pihak perusahaan. Yang ada adalah perusahaan hanya membeli tanahnya, tidak ada perusahaan yang mau mengganti rugi tanah warga itu dengan saham warga di perusahaannya.

Disisi lainya, diatas kertas, tidak ada aturan penyertaan saham bagi warga sekitar tambang (diluar persoalan ganti rugi tanah).

Selain itu, sektor tambang adalah sektor yang high techology. Tidak mungkin warga sekitar akan menjadi pemimpin dalam perusahaan tambang itu. Dan pada kecendrungannya warga sekitar hanya menjadi buruh dan sekuriti pabrik. Hal-hal itu dibenarkan oleh salah satu penanya dimana di daerahnya New Mount justru mempekerjakan orang-orang dari luar daerahnya, pada level-level pekerjaan menengah keatas.

Hal yang kemudian membuat saya cukup tercengang adalah bahwa rezim tambang itu sejatinya ikut ditopang oleh suatu rezim bernama ilmu pengetahuan. Kecendrungan perguruan tinggi lebih mengorientasikan penelitiannya pada hal-hal yang bersifat kebaruan.

Artinya, produksi ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi tidak menyentuh level-level aksiologis yang mempunyai dimensi transformatif (perubahan, pembebasan atas ketertindasan dll). Ilmu pengetahuan berada di level yang kemudian seolah netral, tapi sebenarnya mereka tidak bebas nilai.

Kecendrungan tidak bebas nilai itu dilihat dari praktik-praktik berilmu pengetahuan yang justru sarat akan kepentingan politis dan ekonomi untuk menunjang aktor pemroduksi ilmu itu sendiri dan kelas mapan disisi-lainnya.

Hal ini dibuktikan dalam praktik dimana ilmu pengetahuan justru melegitimasi pertambangan melalui aktor-aktor akademisi dengan penelitian-penelitiannya. Disatu sisi lain, ketika berbicara gerakan sosial, aktor-aktor akademisi ini justru bermain aman ketika menyikapi konflik warga dengan usaha tambang.

Maka saran mas Hen, kita musti mengintervensi ruang-ruang ilmu pengetahuan yang seperti itu dengan banyak memproduksi ilmu pengetahuan yang aksiologis-transformatif sehingga bisa melawan kecendrungan-kecendrungan itu.

#Cobacoba #latihanmerangkumdiskusi #CMIIW

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.