Opini, Sastra dan Diary

Merawat Kendeng Demi Anak Cucu Kelak

"Gerakan Warga Peduli Pegunungan Kendeng Itu Untuk Keselamatan dan Kesejahteraan Kolektif, Bahkan Bagi Mereka Yang Bertindak Keji Membakar Tenda dan Langgar."

Semalam 50-an pekerja di pabrik semen PT. SI kalap. Mereka begitu mudahnya menghancurkan sekaligus membakar tenda perjuangan yang dibangun warga ProKendengLestari, yang sejak 2014 berdiri. Tak hanya itu, langgar sederhana yang dibuat warga untuk aktivitas ibadah juga dibakar habis dengan Kitab Suci, mukenah dan pakaian sholat lainnya.

Ke-kalap-an ini, entah, bisa saja menjadi titik klimaks dari akumulasi amarah yang bertumpuk selama ini ketika melihat gerakan tolak semen yang begitu massif dijalankan-bahkan sampai menang di Putusan Mahkamah Agung.

Belum lagi, beberapa jam sebelum peristiwa tsb, warga kontra semen melakukan upaya menegakkan hukum dengan menyegel/menutup pabrik semen, mengingat surat ijin lingkungan yang merupakan dasar pabrik itu berdiri telah dicabut.

Para pekerja ini berhak marah karena gerakan tolak semen bisa mengancam kehidupannya yang dalam kutip "terjamin" oleh pabrik semen. Namun, kemarahan mereka bukan berarti dengan seenaknya dilampiaskan secara keji seperti ini.

Semen telah mengeraskan hati nurani para pekerja ini. Semen membutakan mata mereka. Sikap keras hati juga tampil dari siapapun yang pro terhadap semen.

Sikap keras hati ini tak lain dan tak bukan karena para mereka ini masih terbelenggu oleh pemikiran semen bisa mensejahterahkan mereka. Pun pemikiran-pemikiran berbalut moralis yang menganggap sumber daya alam yang besar ini harus dikeruk untuk dimanfaatkan.

Yang perlu diketahui, Karst adalah karunia Tuhan. Namun ada satu waktu dimana kita para manusia mesti bijak mengambil keputusan, bahwa tidak semua sumber daya alam ini harus dikeruk, dikeruk dan dikeruk untuk kebutuhan manusia yang tak terbendung ini.

Ada kalanya kita manusia-lah yang harus sadar, bahwa alam ini telah mulai rapuh akibat ulahnya sendiri. Dan satu hal yang mesti kita lakukan adalah menjaga alam itu agar tetap sedemikian rupanya dan mengambil secukupnya saja dari alam itu sendiri (bertani, bercocok tanam, berkebun, beternak).

Seharusnya mereka, para pekerja yang membabi-buta membakar tenda warga ini, harus banyak-banyak bersyukur.

Gerakan warga tolak semen bukanlah bertujuan untuk kepentingan pihak kontra semata. Perjuangan para sedulur-sedulur Kendeng membawa semangat kepentingan kolektif (tak hanya manusianya) untuk menjaga kelestarian pegunungan kendeng dan alam sehingga karunia alam yang diberikan oleh-Nya ini masih bisa dirasakan anak cucu kita semua.

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu kafir (nikmat-ku), maka pasti azab-ku sangat berat." (QS. IBRAHIM 14:7)

Salam Progresif
Pantik Geni

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.