Opini, Sastra dan Diary

Sedikit Catatan, Bendungan dan Gempa Bumi

Ada hal yang menarik ketika membaca buku lama karya Edward Goldsmith & Nicholas Hildyard tentang Dampak Sosial dan Lingkungan Bendungan Raksasa. Disalahsatu bab dipaparkan bahwa Bendungan-bendungan raksasa diduga bisa menimbulkan gempa bumi dalam radius dekat sampai, bahkan, 15 km jauhnya dari pusat gempa.

Diskusi seputar ini menimbulkan perdebatan bagi para ahli-ahli geofisika, geoteknik, seismologi dll. Penelitian awal, yang dikutip Goldsmith & Hildyard, yang bisa dilakukan adalah dengan merekam intensitas guncangan yang terjadi disuatu kawasan dari bendungan berdiri sampai terisinya air. Dari berbagai pengamatan, seperti contoh kasus Bendungan Hoover yang dibangun 1936, ketika ketinggian air mencapai 120 meter, dirasakan 100 kali guncangan. 

Tahun 1938, stasiun-stasiun seismologi mencatat ribuan guncangan yang tidak dapat dirasakan oleh indra manusia. Ketika air mencapai ketinggian 145 meter dan volume air meningkat, pada tahun 1939, terjadi guncangan besar dengan magnitute mencapai 5. Setelah itu kegiatan seismis meningkat.

Hal yang sama terjadi juga di bendungan-bendungan lain yakni Bendungan Kariba, Bendungan Koyna, Bendungan Voajont. 

Dalam kasus bendungan Koyna sendiri, pengisian dilakukan tahun 1962 dan berakhir tahun 1964. Pada waktu-waktu diantara 1962 dan 1964 itu, intensitas guncangan meningkat sampai betul-betul tenang pada tahun awal 1967. Namun, pada bulan September 1967, terjadi guncangan yang menyebabkan ratusan orang meninggal dan ribuan orang luka-luka. Menurut Jean Pierre Rothe, daerah seputar bendungan Koyna itu adalah daerah dengan tingkat seismik yang kecil. Namun ahli-ahli lain tetap menyangkal bahwa bendungan adalah penyebab dari terjadinya bencana

Tahun-tahun selanjutnya, dilakukan berbagai penelitian mendalam oleh para ahli. Komisi Gabungan Seismologi dan Keahlian Teknik Gempa Bumi merekomendasikan agar Unesco memanggil para ahli untuk menyelidiki fenomena waduk dan gempa bumi. Kelompok itu dengan suara bulat menyatakan bahwa perlu adanya kondisi-kondisi geoteknis dan hidrologis untuk dapat menimbulkan gempa bumi. Sederhananya, faktor berdirinya waduk di beberapa tempat memang cukup mempengaruhi timbulnya gempa bumi, dalam skala terkecil.

Kelompok tersebut pun melakukan pertemuan kedua dan menyepakati bahwa berdasarkan pengetahuan yang ada sekarang, "Tidak mungkin untuk menetapkan sebelumnya dengan pasti, apakah gempa bumi-gempa bumi berbahaya itu disebabkan pengisian air terhadap waduk-waduk besar."

Kelompok kerja tersebut mengakui bahwa tidak ada suatu metode yang dapat memperkirakan berapa besarnya tekanan-tekanan waduk terhadap kerak bumi, dampak terhadap lapisan-lapisan batu yang mendukungnya dan dampak-dampak lainnya.

Perkembangan penilitian berlanjut, karena kelompok itu merekomendasikan suatu program riset. Akhirnya bukti-bukti yang menyangkut hubungan antara waduk dan gempa bumi mulai terbuka. Penelitian awal menunjukan bahwa aktivitas seismik meningkat pada waktu pengisian waduk dan segera ketika permukaan waduk mencapai ketinggian maksimum.

Selanjutnya ditemukan bahwa aktivitas seismik meningkat ketika waduk tersebut dikuras dan kemudian disi kembali. Hal itu terjadi pada bendungan Vouglans di Prancis yang mempunyai ketinggian 110 meter. Belakangan hal serupa juga terjadi dibeberapa bendungan besar, bahkan kecil (dibawah 100 meter). Perdebatan bahwa bendungan kecil juga ikut mempengaruhi seismisivitas

Sepertinya saat itu, susah bagi para ahli untuk menentukan kondisi geologis yang menyebabkan timbulnya gempa bumi, dengan kaitannya dengan waduk. Namun, paling tidak, muncul suatu pola umum. Potensi seismisivitas timbul besar di daerah-daerah yang lapisan tanahnya secara normal bergeser.

Persoalan yang belum terselesaikan adalah bagaimana mekanisme aktual dimana waduk-waduk memicu gempa bumi. Dalam hal ini, Rothe menjelaskan bahwa sudah cukup untuk memberikan penjelasan bahwa berat air didalam waduk membuat tekanan kedalaman tanah.

Pada prinsip ini, tekanan air terhadap tanah itu akan berpotensi memicu aktivitas-aktivitas dalam tanah. Saya tidak punya kapasitas untuk menjabarkan hal ini karena masih proses belajar juga. Namun, wacana tentang bendungan dan gempa bumi ini, bagi saya, adalah hal baru yang menarik untuk didiskusikan.


0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.