Opini, Sastra dan Diary

,

Rambut Putih


Puluhan kilometer rakyatmu berjalan, dari Rembang ke Semarang, tidak juga kau sambut dengan batang hidungmu. Kau malah sirna dihadapan rakyatmu sendiri. Sekian tahun rakyatmu berjuang, kau cuma cari aman, melempar kesana-kemari dan memastikan biar hukum yang berjalan.

Kini hukum sudah dipastikan, diam-diam kau mengelabui rakyatmu dengan lihai. Ucapanmu, yang kau bilang waktu itu, "Keputusan apapun dari pengadilan akan saya lakukan," malah kau ludahi sendiri.

Kini rakyat sudah tahu siapa kau yang sebenarnya. Memangnya rakyat dengan begitu akan mengendorkan ikat pinggang? Kemudian terlena dalam jurang kekecewaan?

Hei kau Rambut Putih, asal kau tahu ya, semakin kau berkeras hati, 100 kali lipat lebih keras juga rakyat yang kau sakiti hatinya itu. Kendeng akan terus melawan. Perlawanan akan terus hidup di bumi kendeng, sampai semen angkat kaki dari bumi kendeng itu sendiri.

Tunggu saja kau, hari dimana bumi dan Tuhan akan berpihak kepada rakyat yang ingin menyelamatkan alam dan sesamanya dari tangan-tangan rakus membabi buta yang lihai merenggut kehidupan.

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.