Opini, Sastra dan Diary

Taufan Rintangan

Semoga tempat saya belajar memahami dinamika kemahasiswaan dan pemikiran ini tetap bertahan, hidup, dan berkembang, Amin ya Allah. Saya tidak piawai mengurusi orang. Saya tidak seperti Bung Karno atau Tjokroaminoto yang pandai dalam berbicara dan mengambil hati orang. Saya terkadang cuma bisa menulis sesuatu yang remeh. Usaha merawat ingatan tentang peran dan fungsi sebagai warga negara Indonesia, sebagai muslim dan mahasiswa ini, tahun-tahun ke depan, dalam komunitas ini, akan menemui banyak rintangan.

Maka dari itu cara-cara yang pasti-mendasar, yang bikin kita tidak menundukan kepala dan bermuram durja, dalam menghadapi masa-masa itu, adalah dengan merenungkan kembali hakikat kita sebagai manusia, sebagai seorang warga Indonesia, sebagai seorang muslim, dan sebagai orang yang terdidik (baca: mahasiswa).

Sebagai seorang manusia yang mempunyai akal dan batin, kita telah sadar bahwa kita tidak hidup sendiri. Kita ternyata hidup diantara sebuah komunitas masyarakat yang majemuk dan memiliki berbagai macam pandangan. Sebagai seorang manusia kita juga dituntut untuk mempunyai pedoman hidup.

Dalam keterkaitannya dengan pedoman hidup itu, kita bersyukur terbantu dan dianugerahi oleh Tuhan YME suatu karunia bahwasanya kita terlahir di bumi pertiwi yang indah, sejuk, damai, hijau, yang memiliki kekayaan yang luar biasa ini: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Disisi yang lain, kita juga patut bersyukur bahwa kita terlahir dan dibesarkan di keluarga yang berpegang teguh terhadap ajaran Islam yang cinta damai, anti-penindasan dan sosialistik, tanpa merongrong habis persoalan kepemilikan pribadi.

Kemanusiaan, Ke-Indonesiaan dan Ke-Islaman. Inilah yang jadi anugrah terbesar yang diberikan kepada kita oleh Tuhan YME untuk dijadikan pedoman dalam hidup kedepannya.

Anugrah lain yang mesti kita lihat adalah bahwa kita ternyata adalah bagian dari masyarakat yang mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan. Maka dari itu sudah pasti kita dididik agar menjadi orang terdidik yang nanti bisa mendidik. Identitas sebagai mahasiswa ini adalah anugrah sekaligus tanggung jawab yang sangat besar bagi kita. Bukan ingin dibesar-besarkan, tapi kita, mahasiswa, adalah manusia-manusia yang diharapkan kedepannya bisa menjadi motor dalam membangun peradaban bangsa. Maka dari itu, selain menyerap ilmu pengetahuan secara teoritik dan praktik, kita juga mesti memiliki pengetahuan-pengetahuan tentang masyarakat dan bagaimana bertindak laku sebagai seorang intelektual.

Disatu sisi yang lain, anugrah Tuhan yang patut kita syukuri bersama adalah kita sebagai seorang pers mahasiswa. Dikala organisasi kemahasiswaan lain masih sibuk membaca, berdiskusi dan turun ke jalan, kita sebagai persma sudah selangkah lebih kedepan: Yakni dengan senjata menulis. Sebagai seorang yang bergerak dibidang pers, dikala organisasi lain mudah terhasut oleh berbagai kepentingan, kita diajarkan untuk tidak mudah terhasut. Melainkan berpikiran jernih. Menganalisa peristiwa itu dari berbagai macam perspektif, serta menulis dengan patokan kebeperpihakan kepada metode (objektifitas) yang berimbang tanpa menodai perasaan kemanusiaan.

Maka sejak dari awal, kita di persma sudah diajarkan menghargai perbedaan. Bahwa suatu peristiwa itu bisa ditafsirkan berbeda oleh orang yang berbeda. Dan kita bukan berarti menegangkan perbedaan itu.

Sebagai seorang persma kita juga tidak anti terhadap ilmu pengetahuan. Karena sumber kita dalam bergerak adalah ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan adalah salah satu alat untuk mencerdaskan kehidupa bangsa. Maka selain mengasah kemampuan ilmu kita, kita juga diajak untuk berkontribusi nyata dengan menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan, keindonesiaan, keislaman, melalui produk-produk yang sudah kita buat.

Ingatlah, senjata pers mahasiswa adalah kekuatan mereka dalam menerjemahkan realitas kedalam bahasa-bahasa mayoritas ataupun minoritas, lalu mendistribusikannya dengan cara berkarya.

Maka jika kadang kala kita lemas, ragu, bimbang ataupun kurang bersemangat tentang apa yang kita lakukan selama ini dalam berorganisasi dan ber-persma ria, maka "Bersyukurlah, bersyukurlah yang banyak dan banyak lagi, karena kita telah diberikan karunia Tuhan YME untuk bisa, walaupun sedikit, untuk menyuarakan kesewenang-wenangan dan ketidakadilan melalui ilmu pengetahuan, dengan jalan berkarya."

Semoga kita selalu diridhoi-Nya

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.