Opini, Sastra dan Diary

,

Mahasiswa Anti Kemelaratan


Sebuah catatan anti kemapanan

Berbeda dari jaman dulu yang hidupnya serba susah, mahasiswa jaman sekarang hidupnya bergelimang harta, apalagi kampus-kampus swasta seperti UII ini.Saya terkadang jijik dan jengkel melihat manusia-manusia itu berjalan di kampus yang punya semangat kerakyatan ini.

Lihat saja, ditengah badai persoalan yang menempa kaum melarat di Indonesia, mereka, mahasiswa menye-menye dengan segala kegemerlapannya itu, masih enak-enakan: Pagi kuliah, siang pulang, sore jalan-jalan ke mall, malamnya ikut party dll.

Saya yang berasal dari keluarga yang berlatar belakang ekonomi cukup (tak kaya tak juga melarat) ini merasa heran, kok bisa manusia-manusia itu masih terus dipelihara olel kampus?

Ditengah arus zaman yang berkembang ini, ada baiknya kita optimis menatapnya, tapi bukan juga optimis dengan gaya hidup yang gemerlap seperti itu. Ingat, mayoritas masyarakat Indonesia itu tak berkecukupan.

Latar belakang mahasiswa yang berasal dari keluarga kaya cukup dan sangat mempengaruhi pola kehidupan mereka sendiri. Dari kecil sudah diberi kenyamanan, maka besar pun inginnya yang enak-enak terus. Apalagi fenomena arus globalisasi melalui media-media seperti televisi juga ikut melancarkan pengaruh, sehingga para remaja ini mengalami apa yang dinamakan krisis identitas. Hal itu ditunjukan dari caya berpakaian, cara berbicara, apa yang dibahas, dan kemudian apa yang disenangi, selalu mengikuti tren kekinian.


Maka tak heran, mahasiswa kaya-hedonis anti kemelaratan ini jika diajak berpikir soal kepentingan umum, soal penindasan rakyat, dan lain sebagainya tidak akan nyambung. Karena kehidupan mereka sudah sangat nyaman dan otak mereka sudah terpengaruh oleh kultur pop yang menjerumuskan kehidupannya kepada konsumerisme dan hedonisme.


Anehnya, kampus sebagai institusi pendidikan tinggi sampai saat ini juga belum mampu membebaskan mahasiswanya dari jeratan anti kemelaratan tersebut. Kampus justru ikut memfasilitasi dan membentuk budaya atau pola pikir mahasiswa sehingga hanya berorientasikan kepada pemenuhan kebutuhan pribadi. Seperti halnya lulus cepat karena dunia pekerjaan sudah menanti, lulus cepat agar sukses (baca:kaya) kelak, dan hal-hal lain yang secara tidak langsung memapankan sistem/pola gaya hidup mahasiswa anti kemelaratan tersebut.


Bentuk lain dimana kampus juga ikut berperan dalam membentuk budaya hedonistik mahasiswa adalah dari mulai berganti rupanya wujud kampus menjadi, seolah-olah, seperti pusat perbelanjaan. Mobil dan motor berserakan di seluruh kampus. Bangunan kampus dipermegah bak istana. Bahkan sampai menyediakan alat parkir otomatis seperti di mall-mall besar itu!


Dosen-dosen sebagai kaum intelektual juga ikut berlomba-lomba memamerkan kekayaan dan gemerlap hidup. Apa yang diceritakan oleh mereka di kelas adalah bagaimana mereka dulu bekerja dan mendapat gaji yang lumayan besar. Pun bagaimana mereka saat ini sedang dapat berbagai macam proyek. Maka dari hal tersebut terbentuk anggapan bahwa dosen yang berprestasi adalah dosen yang sering mengerjakan proyek-proyek dan mempunyai mobil yang mewah serta gawai yang canggih. Bukan justru melihat prestasi dosen dari karya intelektualnya, keberpihakan mereka kepada rakyat kecil, sampai terlibatnya dia didalam agenda-agenda kerakyatan. (Berlanjut)









0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.