Opini, Sastra dan Diary

,

Ikan Hias

Baru bangun tadi pagi, aku langsung terpikirkan untuk membeli ikan hias. Akuarium soalnya sudah ada, mubazir kalau tidak dipakai. Setahun yang lalu aku memang sempat memelihara ikan hias. Jumlahnya tiga buah. Tapi belum juga sampai satu minggu semuanya sudah terkapar, terapung, dan menghadap haribaan-Nya.

Aku bergegas, tanpa cuci muka, langsung keluar dari kamar dan memanaskan motor.  Tadinya ingin membeli ikan di jalan kaliurang kilometer sepuluh, tapi sayangnya tutup. Aku jadinya pergi ke SunMor UGM. Ya, terhitung sejak tadi, aku sudah ke-tiga kalinya menginjakan kaki ke SunMor, selama empat tahun lebih merantau.

Setelah jalan kaki sejauh itu, ternyata yang menjual ikan hias cuma satu kios. Ikannya pun tak lengkap. Cuma sedikit. Akhirnya dengan kecewa, aku berjalan kaki lagi, Dari bundaran Masjid Kampus UGM sampai ke tempatku memarkirkan motor: Emm, mungkin Sebelah Utara Fakultas Perikanan, aku lupa juga tempatnya.

Kemudian aku pergi ke daerah Pasar Ngasem, sebelah barat Alun-Alun Utara. Disanalah pertama kalinya aku membeli ikan hias ditemani seorang rekan wanita, yang dulu sempat dekat denganku. Aku memutuskan untuk membeli ikan cupang. Harganya lima ribu rupiah. Ukurannya sepanjang 1/7 dari panjang jari kelingking. Kata bapak yang jual ikan cupang cuma bisa hidup sendiri. Kalau beli dua bisa bertengkar, dan itu bahaya.

Akhirnya bisa memelihara ikan lagi. Semoga langgeng. Aku akan panggil dia "Bung".

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.