Opini, Sastra dan Diary

,

Miskin Bersama



Untukmu,
Tak ada yang lebih romantis daripada pertanyaan yang kau ajukan tentangku. Pertanyaan yang membuat senyumku sedikit melebar, tanganku gemetar, mata terpejam, dan kepala yang kemudian terangkat keatas. Aku tidak mau tahu alasan kenapa kau menanyakan itu padaku.

Yang jelas, kaulah, yang setelah beberapa tahun ini, kembali membuat hatiku berdebar tak karuan. Kau tahu, selama beberapa tahun ini hatiku tidak gemetar. Berapa juta kali lihat wanita cantik pun, hatiku biasa saja.

Tapi, bisakah aku secara langsung, menjadi "bukan pengagum rahasiamu". Mungkinkah aku tidak main kucing-kucingan dan tidak hanya melihatmu dari kejauhan saja, bak seorang agen rahasia dalam film-film SPY di barat itu?

Mungkinkah aku--dengan menggunakan celana yang sobek, sendal jepit skiway, kemeja yang sudah lusuh, rambut yang di ikat seperti Genji "crowzero" dan tangan kiri yang memegang rokok kretek--mengatakan "Hai, aku cinta kamu" ?

Mungkinkah?

Kau tahu, aku ini bukan seorang yang taat beragama. Beribadah pun jarang. Tapi, mungkin, saat-saat seperti itulah aku baru menyadari bahwa Tuhan itu ada dan hadir bersamamu. Semoga saja aku bisa melihat Tuhan ada bersamamu. Sehingga aku sekaligus mendapatkan 2 anugrah.

Tapi ingat, dengan atau tanpa Tuhan pun, saat ini hatiku tetap tertuju padamu. Saat ini sampai kita miskin bersama, tak mementingkan harta dan hanya melakukan hal-hal yang kita senangi atau tidak kau gemari dan aku sukai. Sampai saat dimana pertengkaran hanya bumbu-bumbu cinta, bukan akhir dari sebuah romansa.


0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.