Opini, Sastra dan Diary

Soreng

Enak sekali hidup desa. Disini masyarakatnya sangat santun dan ramah. Saya beberapi kali sempat mampir ke rumah warga. Saya dijamu mulai dari hidangan ringan sampai berat seperti nasi dan lauk. Saya juga senang melihat kerukunan masyarakat di desa ini. Apa-apa selalu gotong royong. Membangun rumah saja dengan gotong royong. Kadang beberapa masyarakat urunan duit, material bahan bangunan seperti pasir, batu, semen dll. Dan tak lupa pula menyumbangkan bahan makanan dan cemilan untuk para masyarakat yang ikut bergotong-royong membangun rumah tersebut.

Saya beberapa kali sering ikut terlibat dalam gotong royong tersebut. Tepat disamping posko saya ada warga yang sedang membangun rumah. Namanya pak Riyadi. Anaknya, Nanto, masih SD kelas 1. Dia sering main ke posko, belajar atau bermain dengan teman sebayanya. Saya biasa datang jam 10 pagi ke proyek. Pekerjaan yang saya alami selama ini yakni meratakan bakal ruang tamu rumah. Terus mengangkat genteng, mengangkat campuran semen pasir kerikil dengan ember untuk proses pengecoran dan masih banyak lagi. Semuanya kerja tenaga, Meskipun saya orang teknik sipil, saya enggan untuk memberikan saran. Saya tahu diri. Paling tidak saya cuma bertanya seputar pemasangan kuda-kuda atap, atau mengapa rumah tersebut tidak menggunakan kolom dll.

Tadi, barusan, saya habis ikut latihan soreng. Soreng merupakan salah satu kesenian jawa. Awalnya saya mendengar lantunan gamelan. Selama beberapa minggu KKN ini, baru kali itu saya mendengar lantunan gamelan tersebut. Terus saya mengikuti sumber suara. Akhirnya saya menemukan ada sedikit kerumunan warga yang sedang memainkan gamelan. Semakin lama gamelan dilantunkan, semakin banyak mengundang warga. Akhirnya sampai pada latihan gerak tarian. Disitu lebih ramai lagi warga yang menonton.

Yang saya senangi, dusun tempat saya KKN ini, sangat hidup. Artinya, banyak kegiatan warga yang melibatkan banyak warga juga. Seperti kesenian tadi. Belum lagi pengajian rutin warga yang hampir 4 kali dalam seminggu. Artinya lagi, warga sini sering banyak berkumpul. Kesatuannya sangat erat. Kerukunannya juga. Mulai dari anak-anak, remaja, pemuda, sampai orang tua, semuanya berkumpul pada saat latihan tadi. Ada yang hanya ikutan "joget" seperti saya tadi. Ada juga yang memang akan menjadi calon penari Soreng betulan.

Saya sangat senang dan bahagia melihat itu semua. Hal ini jarang sekali saya temui di kampung halaman saya. Ternyata, masyarakat desa itu jauh lebih plus-plus dibandingkan masyarakat kota yang hidupnya sendiri-sendiri. Ah, saya jadi ingin hidup di desa saja.

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.