Opini, Sastra dan Diary


Akhir-akhir ini saya jadi malas menulis dan sangat tidak produktif. Sesampainya di Jogja kesibukan saya paling banyak ialah menonton film. Sejak hari selasa ini, saya sudah menonton beberapa film: Eps 10 Season 6 Game of Thrones, The Danish Girl, Warcraft. Eh, ternyata cuma tiga ya, lantas apa kesibukan saya paling banyak? Yang paling jelas dan mengakomodir semuanya adalah "duduk di depan laptop". Entah itu menonton film, Youtube, atau membaca beberapa berita dan artikel.

Kemarin saya sempat menonton, di Youtube, dialog antara Ulil Abshar (Jaringan Islam Liberal) dan forum kiai muda NU yang diwakilkan oleh, saya lupa nama kiai-nya. Sejak akhir ramadhan saya memang banyak membaca dan tertarik kepada gagasan-gagasan dalam situs Islamlib.com, sebuah situs yang menulis banyak opini terkait persoalan agama, keislaman yang bercorak liberal.

Video berdurasi 2 jam itu tidak selesai kutonton. Ada beberapa poin yang saya dapatkan. Pertama dialog itu diadakan sebagai proses/ajang untuk mendiskusikan pemikiran-pemikiran Ulil Abshar dan JIL yang dianggap sebagian pemuka agama islam itu "nyeleneh".

Beberapa poin-poin permasalahan terkait pemikirannya yang cukup megganjal, yang dibahas di dialog itu antara lain mengenai isu kebebasan beragama dan pluralisme agama yang dimana, menurut pandangan pihak Kiai Muda yang berangkat dari tulisan-tulisan Ulil, ia (Gus Ulil) memandang kebebasan disini sebagai kebebasan yang tidak terbatas sehingga orang beragama itu diibaratkan seseorang yang masuk toko dan memilih baju/pakaiannya.

Menurut Kiai, yang berangkat dari tradisi keislaman yang diyakini NU bahwa kebebasan beragama itu bukanlah kebebasan yang mutlak sebebas-bebasnya, melainkan kebebasan yang berisiko, atau pilhan-pilihan kita yang akan berisiko kedepannya. Hal ini berkaitan dengan hidayah yang diterima seorang manusia. Jika dia telah diberikan hidayah, maka fitrahnya adalah ia tidak mungkin mengelak bahwa islam adalah satu-satunya agama yang paling benar. Jika tidak, maka ia akan menerima konsekuensi/resiko nya kelak.

Selanjutnya Kiai memaparkan pandangan Gus Ulil bahwa seseorang berhak menentukan keyakinannya, yang dilandaskan pada sebuah ayat surah Al Baqarah, dan maka dari pada itu seseorang yang telah meyakini suatu agama juga bebas mencari pemahamannya terkait keislaman itu sendiri. Menuruk kiai, seseorang yang belum masuk Islam memang tidak boleh dipaksa untuk masuk, semua diserahkan kepada individu itu sendiri. Tapi ketika dia sudah menjatuhkan pilihannya kepada Islam, maka dia harus menjalankan ketentuan-ketentuan sesuai Islam itu sendiri. Maka dari pada itu jika kita sebagai penganut manhaj, misalnya, Aswaja, maka individu itu harus menyesuaikan diri dan mengikuti tradisi/manhaj itu.

Selanjutnya yakni mengenai persoalan semua agama itu sama. Pandangan yang diyakini dalam tradisi NU adalah, "Bagi kami, islam adalah satu-satunya yang benar, tetapi keyakinan kami tersebut tidak menutup kami untuk bertoleransi, untuk berbuat baik, untuk berdialog, untuk menghargai pandangan orang yang beragama lain yang berpandangan bahwa agama mereka adalah yang paling benar menurut mereka". Tetapi, lanjut Kiai, bahwa kita tidak boleh sampai pada batas membenarkan keyakinan mereka.

Yang menjadi persoalan adalah ketika logika yang digunakan Ulil bahwa semua agama adalah benar, berarti seorang muslim ikut juga dipaksa untuk membenarkan agama lain.

Terkait itu Gus Ulil mengklarifikasi dan memaparkan bahwa isu-isu seputar pluralisme beragama adalah sebuah isu yang masuk dalam suatu diskursus perdebatan modern. Dalam arti, isu-isunya sangat berkaitan erat dengan komplesitas kehidupan pada zaman modern misalnya terkait kemajemukan masyarakat. Dan hal tersebut, pada akhirnya mengundang banyak kalangan teolog agama untuk memikirkan dan menafsirkan kembali tradisi-tradisi keislaman, yang kemudian barangkali menimbulkan gagasan yang sedikit berbeda dengan tradisi yang telah ada.

Gus Ulil memberikan contoh terkait tradisi dialog antar agama. Dari kegiatan tersebut muncul teolog muslim yang berusaha untuk menggeluti persoalan tersebut terus menerus. Pada beberapa kesempatan, di pihak katolik ada suatu perkembangan yang mengubah lanskap agama katolik yang menyatakan bahwa model keselamatan bukanlah monopoli katolik dan menerima keselamatan dari agama-agama diluar katolik itu sendiri.

Hal ini menurut Ulil menantang teolog muslim untuk melakukan pemikiran ulang terkait doktrin islam. Salah satu teolog muslim kemudian memunculkan konsep kesatuan transedental agama yang mana mengarahkan kita kepada ide tentang kesamaa suatu agama.

Gus Ulil sendiri kemudian mengakui bahwa gagasan itu marak dilontarkan didunia internasional dan berpotensi tidak diterima oleh banyak kalangan dari agama apapun. Seperti misalnya dalam katolik, kelompok-kelompok yang masih meyakini tradisi yang telah ada menentang gagasan pembaruan tersebut, dan terjadi banyak pertentangan.

Namun, pada titik ini Gus Ulil mengklarifikasi bahwa menurutnya  agama itu tidak semua sama, ada perbedaan fundamental, tetapi tidak bisa juga  menolak bahwa ada beberapa kesamaan tertentu dalam beberapa agama terkhususnya dalam agama semit, yakni islam, yahudi, kristen. Ada kesatuan yang menyamakan mereka yakni percaya kepada Tuhan yang satu dan punya kitab suci, Sehingga menurut Ulil jika dia mengatakan ke 3 agama ini sama, hal itu bisa dimaklumi, karena mempunyai basis teologis yang sama.

Namun ia kembali memaparkan bahwa ia mempunyai pandangan atau sikap secara subjektif dan objektuf. Secara subjektif ia meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar, tetapi dalam hubungan dirinya keluar, kea agama-agama yang lain atau dalam berinteraksi sosial, ia bisa menerima adanya kebenaran agama yang lain.

***

Itu masih satu isu yang ku tulis. Saya kemarin menonton sampai 1 jam dan dialog melebar sampai pernikahan beda agama, terus masalah murtad, dan juga mengenai sakralitas Al-Qur'an. Sepertinya tidak akan panjang lebar ku tulis disini. Tapi sejauh ini saya masih bingung dalam melihat perdebatan ini. Namun yang selama ini ku yakini adalah bahwa kita harus menghargai keyakinan orang lain, dan tidak boleh mengkafir-kafirkan orang yang berbeda agama dengan kita, karena keyakinan itu bersifat subjektif dan transendental.  Dalam kerangka sosial, saya meyakini bahwa setiap agama mempunyai dimensi pembebasan dan progresif, dimana agama mempunyai doktrin yang membawa kedamaian bagi semua juga menolak penindasan manusia atas manusia maupun makhlup hidup serta alam.


0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.