Opini, Sastra dan Diary

,

Beranjak

Waktu berlibur telah usai. Kemarin aku telah meninggalkan kota kelahiranku, Manado. Keluargaku yang berada di Manado selalu menyambut kedatangan keluargaku dengan hangat dan bersahabat. Sepupu-sepupuku juga ia. Tak ada yang namanya kaku. Perbincangan kami begitu mengalir, lancar. Apalagi ibuku.

Kurang lebih selama 10 hari kami berada di Manado. Tidak terlalu banyak tempat kami kunjungi, tetapi yang paling menakjubkan adalah pelayanan dari keluarga di Kampung Arab. Ya, Kampung Arab. Sebuah kampung strategis yang terletak di perkotaan, bisa dibilang juga sangat dekat dengan jantung kehidupan kota. Mau kemana saja dekat, apalagi ke pusat-pusat perbelanjaan. Namun cukup jauh dari bandara dan terminal, juga pelabuhan penumpang.

Kampung Arab sendiri sebenarnya, kalau tidak salah, ada dalam kelurahan Istiqlal. Saya juga tidak tahu sejarahnya seperti apa, namun disana memang banyak orang keturunan Timur Tengah asli maupun peranakan. Sepupu saya salah satunya menikahi orang Arab.

Sekilas, kampung Arab ini bisa dibilang kampung yang mempunyai beberapa kultur yang khas. Apalagi jika menjelang dan memasuki bulan ramadhan sampai lebaran. Kampung ini terasa sangat hidup sekali saat bulan Ramadhan. Kesalehan masyarakatnya juga. Bayangkan di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, masjid Utama disana tidak terlihat sepi. Saya terheran-heran, waktu salat dzuhur saja bisa mencapai 5 Saf, belum magrib dan isya.

Disekitaran masjid juga banyak aktivitas ekonomi. Ada beberapa pedagang kaki lima yang selalu menggunakan baju gamis yang menjual perlengkapan solat seperti baju gamis, wewangian, dll.

Cukup sampai disini dulu, nanti besok paling aku lanjutkan ceritanya. Entah kenapa jika sampai di Jogja dan sendirian seperti ini aku jadi malas melakukan apa-apa. Menulis ini saja aku paksa sekuat tenaga.



0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.