Opini, Sastra dan Diary

Secuil Tentang Kapital



Note: Catatan ini hanya secuil tentang kritik Marx atas Kapitalisme, yang tentunya tidak bisa secara komprehensif membahas tema terkait.  Catatan ini ditujukan untuk menggugurkan salah satu kewajiban saya sebagai pemantik dalam diskusi/bedah buku dua mingguan LPM SOLID. Kali ini buku yang didiskusikan adalah "Das Kapital for Beginner". Buku yang saya pilih sebagai bahan diskusi ini sejatinya terinspirasi dari bedah buku beberapa minggu sebelumnya yang dipantik oleh kamerad Arifin Agus Setiawan. Kamerad-Bung Arifin, dengan buku Anti-Filsafat Marx yang dilahapnya dengan habis, kemudian ia pantik, berhasil membangunkan nalar kritis saya sebagai orang awam dalam melihat kontradiksi sistem kapitalisme. Tanpa Kamerad-Bung Arifin, kemungkinan saya tak akan pernah berjumpa dengan Marxisme yang cita-citanya sungguh mulia lagi membebaskan itu. 

Das Capital adalah salah satu mahakarya Karl Marx & Friedrich Engels yang diterbitkan dalam 3 jilid buku tebal dalam rentang waktu yang berbeda-beda. Jilid pertama diterbitkan pada tahun 1867 ketika Marx (1818-1883) masih hidup. Dua jilid setelahnya yakni volume 2 dan 3 disiapkan oleh Friedrich Engels (1820-1895) berdasarkan naskah/catatan-catatan Marx yang kemudian diterbitkan pada tahun 1885 dan 1894.

Secara umum, Das Kapital adalah proyek teoritis Marx dalam melihat dinamika ekonomi, sosial dan politik yang berkembang saat itu dimana pasca Revolusi Industri di tahun 1750 terjadi perubahan yang sangat besar pada tatanan berkehidupan masyarakat Eropa, misalnya di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi yang memiliki dampak mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Revolusi Industri dimulai dari Britania Raya dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang, dan akhirnya ke seluruh dunia.

Poin utama dalam revolusi industri adalah pemanfaatan mesin-mesin yang berbasis manufaktur dalam proses produksi yang pada akhirnya menggantikan sebagian besar kerja-kerja produksi tradisional seperti misalnya tenaga hewan dan manusia.  Sebelum terjadinya revolusi industri, sebagian besar negara lebih banyak menggantungkan perekonomian pada sektor pertanian. Perdagangan yang dilakukan masih sangat terbatas dan dalam skala yang masih kecil. Industri-industri yang berkembang di negara-negara Eropa umumnya masih bersifat industri rumahan yang hanya menghasilkan barang dalam jumlah terbatas dan waktu penyelesaian yang cukup lama. Daerah pemasaran pun masih terbatas dan barang yang dihasilkan hanya didasarkan pada pemesanan saja. 

Revolusi industri kemudian mendorong industrialisasi di berbagai belahan dunia. Di Inggris, pabrik-pabrik mulai bermunculan, dan konsekuensi logisnya tenaga kerja (kaum proletar) mengalami pertumbuhan yang masif. Tenaga kerja tersebut umumnya berasal dari masyarakat petani pedesaan yang tidak memiliki tanah, dan berharap dengan peralihan profesi tersebut akan meningkatkan taraf hidup mereka. Pada titik tersebut, garis batas antara kelas pekerja dan kelas pemilik pabrik (kaum kapitalis) menjadi kian tegas, dan sistem ekonomi kapitalisme semakin mengukuhkan diri.

Kritik Atas Kapitalisme
Kapitalisme adalah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan membuat keuntungan dalam ekonomi pasar. Apa yang terjadi dalam sistem kapitalisme adalah memungkinkan individu atau kelompok-kelompok untuk memiliki hak atas alat produksi. Titik tekan dalam kapitalisme adalah kepemilikan individu atas alat produksi sehingga memunculkan kelas-kelas dalam masyarakat seperti dalam pandangan Marxian yakni kelas pekerja dan kelas pemilik modal.

Dalam Das Capital, Karl Marx dengan sangat jelas memaparkan bagaimana kapitalisme atau kapital/modal itu bekerja. Modal bisa dibilang menjadi salah satu fondasi utama dalam bangunan kapitalisme. Modal yang dimiliki oleh kaum kapitalis adalah alat untuk produksi (tanah, mesin-mesin, pabrik, konsesi dll) dan kemudian kelas pekerja yang menjual tenaga kerjanya kepada si kapitalis. Pada akhirnya, modal juga hadir dalam skema proses penjualan hasil produksi (komoditas seperti pakaian, perkakas rumah tangga), atau simpelnya keuntungan dari penjualan komoditas tersebut.

 Apa yang menjadi kritik Marx dalam sistem kapitalisme tersebut, salah satunya, adalah menyangkut “profit” atau keuntungan yang diperoleh oleh si kelas pemodal tersebut. Pada titik ini Marx mengajukan konsep tentang “nilai lebih” sebagai profit yang didapatkan oleh kelas pemodal, dimana nilai itu diperoleh dari penghisapan kelas pemodal atas kelas pekerja.

Sebelum masuk ke “nilai lebih” lebih jauh, teori kerja dalam sistem kapitalisme adalah dimana kelas pekerja yang tidak memiliki alat produksi kemudian menjual tenaga kerjanya kepada kelas pemodal (yang memiliki produksi) untuk mendapatkan upah. Pada titik ini nampaknya kelas pemodal membeli tenaga kerja buruh dengan uang atau upah, Kapitalis membeli tenaga kerja ini dalam waktu tertentu, entah sehari, seminggu atau sebulan. Setelah membeli tenaga kerja itu, kapitalis menyuruh buruh bekerja selama waktu yang telah ditentukan. 

Dalam artikel yang ditulis Rio A, yang berjudul Nilai-Lebih Sebagai Keuntungan Kapitalis, ia menjelaskan bahwa nilai-lebih secara sederhana adalah nilai yang dihasilkan oleh kelas pekerja dalam memproduksi komoditas dan diambil alih oleh para kapitalis sebagai sumber keuntungannya. Ia memaparkan ilustrasi yang menarik:

 “Misalnya saja, seorang buruh ditarget mengerjakan 30 piece sepatu dalam sehari. Jika satu piece sepatu dijual seharga Rp 150 ribu, sedangkan harga bahannya dan biaya-biaya lain sekitar Rp 100 ribu per piece, maka buruh tersebut akan memberi Rp 50 ribu per piece per hari pada pemilik pabrik, totalnya Rp 1,5 juta per hari. Sementara ia hanya diupah sekitar Rp 85 ribu per hari (UMP DKI Jakarta). Jadi, sebenarnya sebelum menyelesaikan piece kedua pun buruh dan kapitalis sudah impas. Bahkan, sebagaimana kita lihat dalam ilustrasi di atas, buruh telah memberi keuntungan berlipat ganda pada pemilik pabrik daripada upah yang diterimanya. Tetapi, sekalipun sebelum menyelesaikan piece sepatu kedua buruh sudah impas, ia tentu tidak diperbolehkan untuk berhenti bekerja karena sistem kerja upahan mengharuskan ia bekerja selama 8 jam sehari. Dengan sistem kerja upahan yang seperti ini, kapitalis akan terus mengeruk keuntungan dari selisih antara biaya yang dikeluarkannya sebagai upah, dan nilai yang dihasilkan buruh melalui kerja. Kalaupun pengusaha memberi “insentif”, jumlahnya jauh lebih kecil daripada total nilai yang dihasilkan si buruh. Mengambil contoh yang sama, seandainya pemilik pabrik memberi insentif sebesar 10 persen dari total keuntungan yang diserahkan buruh, maka tiap buruh akan mendapat insentif sebesar Rp 150 ribu sehari. Apakah ada kejadian seperti ini kita temui sehari-hari? Pasti kita hanya bermimpi. Ketika kapitalis memperoleh nilai baru sejumlah Rp 1,5 juta per hari lewat kerja buruh, buruh hanya dapat membeli barang senilai Rp 85 ribu per hari setelah diupah. Jadi, ada selisih sebesar Rp 1.415.000.” 

Selisih tersebutlah yang disebut nilai-lebih, yang dihisap oleh kelas kapitalis. Dan dari situ pula datangnya keuntungan bagi para pemodal. Pada akhirnya konsep upah hanya sekedar gaji bagi para buruh untuk tetap bisa hidup dan kemudian agar keesokan harinya tetap datang bekerja secara produktif di pabrik lagi mampu memproduksi calon buruh yang baru.

Dari penghisapan itu, kita juga mengenal konsep-konsep dalam pemikiran Marx seperti misalnya alienasi buruh dari produk yang dihasilkannya, sampai bagaimana caranya merubah keadaan itu. Dari sini kita bisa mengambil sedikit banyak apa yang menjadi fondasi utama dalam Marxisme klasik. Beberapa intisari dari Marxisme, selain memaparkan kenyataan objektif atas kapitalisme, adalah bagaimana caranya mengubah keadaan itu. Maka kemudian munculah slogan-slogan “kelas pekerja dunia, bersatulah!” yang berakar dari instisari Marxisme yang lain yakni perjuangan kelas untuk membentuk tatanan masyarakat “tanpa kelas”, dengan mendasarkan diri kepada filsafat materialisme dialektis dan materialisme historis.

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.