Opini, Sastra dan Diary

Perlukah Beranjak?

Nampaknya, perlahan tapi pasti, Hubble mulai bisa melupakan melankolianya. Melihat wajah dambaannya di layar kaca tak membuat ia jadi salah tingkah: mengayun-ayunkan kepala dan menghentak-hentakkan kaki di lantai.

Semua perasaan yang dulu pernah ada terhadap wanita dambaannya itu kian lama makin menipis. Tapi bukan berarti hilang. Mungkin tinggal menunggu waktu saja. Tapi entahlah, mungkin saja tak akan pernah hilang, karena wanita dengan tutup kepala berwarna cerah itu menghadirkan memori-memori masa silam: Sebuah romantisme masa lalu.

Wanita itu bisa saja menjungkirbalikkan sebuah tumpukan kenangan suram menjadi tercerahkan. Kenangan pahit menjadi termaniskan. Dan kenangan kegetiran menjadi kebahagiaan. Ketidaksempurnaan menjadi kesempurnaan.

Tapi dalam sekejap ia pun bisa meluluhlantahkan semua bayangan atau cita-cita rasa surgawi itu. Dan semuanya menjadi sebegitu paradoks-nya.

"Melihat senyummu diantara wajah yang begitu pucatnya dan gestur yang menampilkan keceriaan, sementara dunia disekitarmu itu gelap pekat bak dirundung awan hitam, sejatinya membuatku semakin tidak ingin melepaskan melankolia ini," kata Hubble menyadari ketidakmampuannya.

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.