Opini, Sastra dan Diary

,

Kapitalisme, Krisis Ekologi dan Ekososialisme



Krisis ekologi telah dan sedang mengancam kehidupan dunia kita: Alam dan manusia itu sendiri. Beberapa persoalan yang kita hadapi adalah seperti polusi udara. Setiap orang tahu bahwa udara yang tercemar bisa berakibat menurunnya kualitas lingkungan dan secara otomatis berdampak kepada kesehatan manusia. Tahun 2012 World Health Organization (WHO) mengeluarkan laporan bahwa secara global 4,3 juta orang meninggal akibat efek dari udara yang terpolusi [1]. Secara umum, polusi diakibatkan oleh aktivitas penggunaan sumber daya energi fosil seperti minyak dan batu bara yang sangat masif. Sektor industri dan pertambangan juga menjadi penyebab utama tercemarnya udara selain faktor kebakaran hutan yang ujung-ujungnya akibat ulah manusia [2].

Soal air sendiri, dalam laporan WHO dan UNICEF Join Monitoring Programme, 25 Tahun Progres Sanitasi dan Air Minum, 663 juta orang masih sulit mengakses sumber air minum [3]. Beberapa faktor penyebab utamanya adalah perubahan iklim, penggunaan air yang secara berlebihan akibat meningkatnya pembangunan, dan pencemaran air akibat limbah-limbah industri dan pertambangan [4]. Tak hanya itu, paradigma air yang dipandang sebagai komoditas (barang ekonomi) juga turut berimplikasi terhadap akses air bagi masyarakat.

Dua persoalan diatas, udara dan air, adalah sekian dari ragamnya penyebab sekaligus dampak bagi perubahan iklim dan krisis ekologi yang sedang kita hadapi. Beberapa persoalan lain yang tak kalah pentingnya, yang saling bertautan dan mempengaruhi satu sama lain, adalah seperti kontaminasi pangan akibat rekayasa genetika, pencemaran terhadap tanah, penggunaan energi yang tidak terbarukan, dll. Pada akhirnya, jika ditelisik, akar dari krisis ekologi tersebut tak jauh-jauh dari bagaimana cara pandang manusia melihat alam dan memposisikan dirinya terhadap alam.

Zaman Pra-Sejarah ke Revolusi Industri
Sejak zaman pra-sejarah, misalnya paleolitikum, manusia telah memposisikan alam sebagai sumber dari penghidupannya. Pada zaman ini, manusia hidup secara nomaden atau berpindah-randah dalam kumpulan kecil untuk mencari makanan. Mereka mencari biji-bijian, umbi, serta dedaunan sebagai makanan. Mereka tidak bercocok tanam. Mereka menggunakan batu, kayu dan tulang binatang untuk membuat peralatan sehari-hari. Alat-alat ini juga digunakan untuk mempertahankan diri dari musuh [5].

Berikutnya dalam zaman mesolitikum, perbedaan yang signifikan adalah manusia mulai menetap dan mempunyai tempat tinggal kemudian mulai bercocok tanam secara sederhana. Tempat tinggal yang mereka pilih umumnya berlokasi di tepi pantai(kjokkenmoddinger) dan goa-goa (abris sous roche) sehingga di lokasi-lokasi tersebut banyak ditemukan berkas-berkas kebudayaan manusia pada zaman itu [6].

Lanjut pada neolitikum, rentang 10,200-8,800 SM, masyarakat petani muncul di Levant dan menyebar ke Asia Kecil, Afrika Utara dan Mesopotamia Utara. Mesopotamia adalah situs dari perkembangan awal Revolusi Neolitik sejak 10.000 SM. Zaman ini, menurut Beverley Milton-Edwards telah “menginspirasi beberapa perkembangan yang paling penting dalam sejarah manusia termasuk penemuan roda, penanaman gandum pertama dan pengembangan kursif skrip, matematika, astronomi dan pertanian.” [7]

Sampai akhirnya pada zaman perunggu, kemudian zaman besi dan zaman sejarah kuno (dari awal dicatat sejarah manusia dan meluas sampai awal Abad Pertengahan atau era pasca-klasik) dimana manusia mulai mengeksploitasi kandungan material alam untuk berbagai kepentingan untuk hidup seperti persenjataan, konstruksi, alat tukar dan lain-lain [8].

Dari penjabaran panjang terkait fase-fase tersebut, pada ujungnya kita bisa melihat bahwa manusia tidak akan bisa bertahan hidup jika dia tidak mengupayakan diri untuk mengelola alam yang ada disekitarnya. Perkembangan dari fase satu ke fase lainnya, jika dilihat secara dialektis, tentunya tak bisa dilepaskan dari kenyataan objektif bagaimana manusia menginterpretasikan alam dan konsekuensi logisnya adalah cara mereka memperlakukan alam. Tentunya proses itu didukung dengan ilmu pengetahuan yang terus berkembang yang dibangun dalam logika “pengelolaan atas alam” demi kebutuhan hidup.

Manusia Menjadi Superior
Hal tersebut akhirnya bisa menjadi faktor terpenting dalam kemunculan konsep antropesentrisme atau humanosentrisme di mana manusia memposisikan diri sebagai spesies terkuat atau supremasi manusia atas alam. Pada akhirnya, dalam paradigma ini, alam atau apapun di luar manusia tentu menjadi subordinasi dari manusia. Sehingga pada kecenderungannya, alam mesti diatur dan direkayasa sedemikian rupa untuk menunjang proses berkehidupan manusia.

Tanpa menafikan perkembangan teknologi dan pengetahuan, zaman kapitalisme atau tahap ke-4 perkembangan masyarakat dalam persepektif Marxian, yang kemudian secara masif digerakkan oleh Revolusi Industri di Inggris, tentunya dibangun dengan logika yang sama yakni penekanan penuh terhadap “produksi untuk kebutuhan manusia” sembari proses akumulasi kapital terus menerus terjadi tanpa henti.

Sehingga apa yang timbul dalam kontradiksi kapitalisme (yang Marx gaungkan dalam kritik ekonomi-politiknya terhadap kapitalisme) selain nilai-lebih yang kemudian meng-alienasi kelas pekerja, dan kemudian memungkinkan terjadinya penindasan oleh pemilik modal terhadap kelas pekerja. Di sisi lain hal ini juga mengonfirmasi penghancuran atas alam itu sendiri melalui pelbagai pembangunan massif kota dengan gedung-gedung pencakar langitnya dan industri eksraktif seperti pertambangan yang menghasilkan polutan bagi air, udara, tanah, dan ekosistem disampingya, termasuk manusia itu juga.

Di Indonesia sendiri kehancuran alam semakin parah. Belum lama ini kita melihat penghancuran dan pembabatan hutan dengan cara dibakar yang mengakibatkan bencana nasional yaitu kabut asap di Sumatera dan Kalimantan. Bencana itu memakan korban dan mengurangi kualitas lingkungan hidup. Kabut asap terebut terjadi karena mengkonversi hutan menjadi kebun kelapa sawit.

Hal tersebut, tak bisa dimungkiri lagi, diakibatkan oleh corak pembangunan kapitalistik yang kemudian dilegitimasi oleh pemerintah. Karena bercorak kapitalistik, logika yang pastinya dibangun adalah akumulasi kapital sebesar-besarnya dan juga hak kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi. Hal tersebut kemudian membuat tanah, hutan dan beserta sumber daya alam lainnya itu diprivatisasi dan dieksploitasi untuk pertumbuhan kapital.

Negara yang berdiri di atas modus produksi yang kapitalistik tidak akan mungkin menjalankan pembangunan yang berkelanjutan dan mementingkan perkembangan dari potensi rakyatnya. Melainkan, pembangunan justru akan dijalankan dengan pengeksploitasian seluruh sumber daya yang ada untuk kemudian dijadikan komoditas. Rakyat pekerja tentunya juga akan tetap dieksploitasi, sehingga pada kesimpulan akhirnya eksploitasi atas alam tersebut tidak akan hilang jika eksploitasi antara sesama manusia tidak dihilangkan [9].

Maka daripada itu, penting kiranya jika kita mendekonstruksi paradigma lama dan merekonstruksi lagi secara radikal paradigma kita dalam melihat alam dan manusia itu sendiri, sembari menyadari diri bahwa sistem kapitalisme saat ini telah merampas ruang-ruang kehidupan manusia dan alam disisi lainnya. Nampaknya, pada titik ini saya rasa ekososialisme penting untuk kita selami lautan paradigma dan praksisnya.

Narasi Besar Ekososialisme
Dalam salah satu esai berjudul What Is Ecosocialism? yang ditulis oleh Michael Lowy, seorang filsuf dan sosiolog Marxist asal Brazil, secara paradigmatik ekososialisme adalah, “… a current of ecological thought and action that appropriates the fundamental gains of Marxism while shaking off its productivist dross”[10]. Atau dalam artiannya adalah sebuah tradisi dari pemikiran dan tindakan ekologikal yang menyesuaikan kemajuan fundamental Marxisme sembari melempar sejauh-jauhnya tradisi produktifisme-nya.

Berangkat dari penafsiran tersebut kita bisa melihat bahwasanya ekososialisme yang mendasarkan diri kepada Marxisme tentunya mempunyai semangat yang sama yakni melawan kapitalisme yang merusak tatanan sosial serta alam. Namun, di sisi yang lain ia juga mencoba mengeliminir paradigma produktifisme ala Marxisme. Hal ini dikarenakan pandangan produktifis Marxisme cenderung menempatkan produktifitas itu sebagai kebaikan tertinggi atau “an ideology that sees productivity in itself as the highest good,” yang akan menafikan persmasalahan ekologis, karena sejak dengan sendirinya rasionalitas dari produktifisme itu akan selalu bertentangan dengan rasionalitas logis untuk memproteksi alam.

Berkaitan dengan nilai tukar suatu komoditas dalam perpektif kapitalisme, James O’Connor-seorang ekonom dan sosiolog Amerika-sendiri, dalam esai Michael Lowy, menunjukan bahwa para ekososialis akan cenderung menggunakan teori-teori dan gerakan-gerakan yang berusaha untuk mensubordinasikan nilai tukar tersebut ke nilai guna dengan cara mengorganisasikan produksi sebagai fungsi dari kebutuhan sosial dan kebutuhan untuk memproteksi lingkungan. Ekososialisme, karena mempunyai semangat sosialisme Marxian, kemudian juga ingin mencita-citakan suatu masyarakat yang mempunyai kepemilikan kolektif atas alat produksi, kesetaraan sosial, demokratis dan tentunya juga masyarakat ekologis yang menjaga kelestarian ekologis.

Dalam Deklarasi Belem dari organisasi ekososialis dunia menggariskan bahwa ekososialisme berbasiskan kepada ekonomi non-moneter yang bernilai keadilan sosial dan keseimbangan ekologi. Ekososialisme kemudian muncul sebagai respons atas ekologi pasar dan juga sosialisme produktivis pada abad 20. Maka daripada itu sosialisme dalam cita-cita Marxian akan diredefinisikan tujuannya dan dimasukkan dengan bingkai ekologis dan juga demokrasi yang partisipatoris.

Dalam langkah praksis, masih dalam deklarasi tersebut, Ekososialisme akan menjalankan perubahan sosial dengan langkah revolusioner yakni dengan mengadakan pembatasan akan pertumbuhan industrial yang merusak selagi mentransformasi kebutuhan manusia untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan yang tidak konsumeris. Pun ekonomi yang memiliki nilai guna bagi keberlangsungan hidup individu dan masyarakat. Bukan yang berbasiskan pada nilai tukar, seperti yang sudah dijabarkan diatas.

Secara subjektif-pragmatis, saya mengamini bahwasanya gerakan-gerakan bercorak ekososialisme di Indonesia, meskipun gerakan tersebut tidak mengkonfimrasi diri dengan platform ekososalis, tentu mempunyai kesamaan tujuan yang sama yakni menentang sistem kapitalisme yang menghisap buruh dan merusak alam.

Gerakan-gerakan petani yang ingin melindungi tanahnya dari cengrakaman kapital/industri ekstraktif seperti kasus di Pegunungan Kendeng Jawa Tengah, atau di Yogyakarta yakni perlawanan petani-petani terhadap pembangunan Pasir Besi dan Bandara (yang sejatinya untuk akumulasi kapital juga), atau perlawanan organisasi nirlaba terhadap kebijakan pemerintah yang masih sibuk menggunakan energi fosil, atau pemberdayaan dan pengadvokasian kasus-kasus konflik agraria oleh basis kultural masyarakat salah satu organisasi agama terbesar di Indonesia, dan masih banyak lagi yang tak dapat disebutkan disini, kesemuanya sebenarnya mempunyai tujuan yang sama yakni menginginkan ruang kehidupan sosial yang egaliter-demokratis serta harmonis dengan alamnya.

Pada akhirnya, secara umum dan sederhana, ekososialisme bisa diartikan sebagai sebuah varian dari sosialisme yang memperjuangkan keberlanjutan lingkungan dan alam manusia secara menyeluruh, yang mempunyai visi tentang masyarakat yang harmonis dengan alam berdasarkan perspektif bahwa spesies lain dan ekosistem alam adalah mitra dalam takdir yang sama.

Referensi:
1. http://climateandcapitalism.com/2014/03/26/air-pollution-kills-7-million-year/

2. http://www.conserve-energy-future.com/causes-effects-solutions-of-air-pollution.php

3. Laporan WHO dan UNICEF Join Monitoring Programme, 25 Tahun Progres Sanitasi dan Air Minum

4. http://www.conserve-energy-future.com/sources-and-causes-of-water-pollution.php

5. https://id.wikipedia.org/wiki/Paleolitikum

6. https://id.wikipedia.org/wiki/Mesolitikum

7. https://id.wikipedia.org/wiki/Neolitikum

8. https://id.wikipedia.org/wiki/Zaman_Perunggu

9. www.dipanpers.com/2015/10/25/ekososialisme-sebuah-pengantar-sederhana/

10. What Is Ecosocialism? oleh Michael Lowy

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.