Opini, Sastra dan Diary

,

Sepotong, Cukup Samar

Aku terdiam. Aku mencoba mengalihkan perhatian: Menggerak-gerakan kaki, menunduk, menggenggam kertas dll. Kehadiranmu yang seketika itulah musababnya.

Aku melihat sepotong, cukup samar, rupamu, tapi tak melihat wajahmu. Aku takut melihat wajahmu. Aku takut kau melihat wajahku. Aku takut kalau kita, walaupun hanya sepersekian detik pun, bertatap mata.

Aih, apa jadinya kalau kita bertatap mata? Banyak kemungkinan. Mungkin kau langsung menoleh ke kawanmu atau menatap dinding-dinding langit yang cerah itu, aku juga memalingkan pandangan. Atau kau menyapaku (ah itu tak mungkin), dan aku menyapamu (?)

Yang jelas, kita tahu mengenai keberadaan kita masing-masing,tapi juga sekaligus meniadakan satu sama lainnya.

Dan aku, sampai sekarang, tak tahu mengapa jantungku selalu berdebar-debar, padahal aku yang  duluan menyerah terhadapmu

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.