Opini, Sastra dan Diary

Pulau Melankolia

Entah mengapa beberapa hari ini aku merasakan sesuatu yang besar sedang berada didepanku. Jantungku kadang-kadang memacu tenaganya dengan cepat. Sesuatu yang besar itu selalu saja berhasil mengalihkan perhatianku. Dan ternyata, baru saja aku menyadari bahwa aku tidak sedang baik-baik saja. Hari ini adalah hari dan peristiwa besar  bagi dia yang sempat menemaniku. Hatiku selalu bertanya-tanya, bagaimana gerangan perasaannya menyambut hari besar itu?

Akhirnya aku terjatuh lagi dalam sebuah perasaan yang melankolis. Aku saat ini seolah sedang melintasi jalanan dengan dedaunan yang berjatuhan disetiap langkahku, dengan latar belakang warna yang muram, seperti vintage, namun tampak menyedihkan.

Aih, tiba-tiba saja dirimu muncul seketika, dan tersenyum dengan gaya khasmu, tapi kau berada di ruang yang penuh dengan warna dan kehidupan, disampingmu bermekaran bunga lili. Aku mencoba membauimu, namun ternyata aku baru menyadari bahwa bauku lebih kuat. Bau yang mana begitu terasa suramnya, sementara tanah yang kupijak, semua yang berada disekitarku perlahan-lahan mulai membisu.

Aku dulunya sungguh mengagumimu, mungkin sampai sekarang, meskipun tiap detik jam akan menggerus keyakinanku terhadapmu. Aku bertanya, bisakah kau hadir sebelum detik mulai mencampakkanmu? Sebelum detik perlahan menghapusmu dari ingatanku? Sebelum waktu tiba-tiba menjemputku, dan membawaku kepada ketiadaan?

Aih, aku mungkin yang terlalu melankolis, menyikapi hari besarmu. Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, bagaimanakah senyummu di hari yang besar itu? Baju apa yang kau kenakan? Apakah kemeja warna putih dan rok yang terang? Lipstik warna apa yang kau poles dibibirmu? Apakah masih berwarna merah, dengan polesan yang tidak terlalu tebal? Kerudung apa yang kau kenakan? Apakah kerudung dengan motif bunga-bunga dengan warna terang itu? Apakah kau masih mengenakan parfum dengan perisa stroberi itu? Yang dulu pernah kutanyakan dan tentunya dengan sombong kau katakan "ini rasa stroberi, harumkan"?

Dan aku pun menyadari, betapa gobloknya aku yang lebih dulu menyerah terhadapmu...

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.