Opini, Sastra dan Diary

Apa itu Ekososialisme?

Green Marx (source:canadiandimension.com)

Pengantar

Penerjemahan naskah ini sebenarnya berangkat dari keisengan saya. Saat itu saya sedang berselancar di dunia maya dan  mencari-cari tentang krisis ekologi. Kebetulan riset mengenai ekologi itu, ceritanya, ingin saya sertakan dalam artikel tentang konflik agraria di Jawa Tengah (kalau tidak salah dulu untuk keperluan agitasi menjelang aksi penolakan Ganjar Pranowo di UII). Alhasil, karena keterbatasan tenaga dan waktu, juga kapasitas intelektual, saya tidak jadi menyertakan itu ke dalam artikel.

Oke, saya kemudian menemukan naskah atau essay tentang ekososialisme ini. Gagasan ini cenderung baru bagi saya. Kalau mau ditelisik, gerakan-gerakan reforma agaria dan kedaulatan sumber daya alam yang saya temui di diskusi-diskusi serta artikel di media-media online, memang cenderung menitik beratkan perlawanan terhadap kapitalisme dan bahwa sistem itu yang bertanggung jawab atas kerusakan ekologis. 

Atas dasar itu, melihat naskah ini, saya jadi ingin iseng-iseng ingin menerjemahkannya. Karena memang saya belum menemukan terjemahan ke Indonesia-nya. Naskah ini aslinya digarap dengan bahasa latin pada tahun 2004 yang berjudul asli ¿QUÉ ES EL ECOSOCIALISMO?, kemudian seorang yang bernama Eric Canepa menerjemahkannya kedalam bahasa Inggris dengan judul What is Ecosocialism?. Dan kemudian dimuat di jurnal Capitalism Nature Socialism Volume 2 (Juni 2005), yang PDF-nya di unggah ke situs havenscenter.org.

Mohon maaf sebelumnya jika terjemahan ini kurang baik dan mungkin akan memusingkan pembaca. Saya mengakui bahwa kerja-kerja seperti ini, terlebih dahulu, mesti didukung dengan referensi yang luas dan pendalaman tentang basis pengetahuan tertentu. Masih banyak istilah-istilah ekonomi-sosial-politik yang sulit diterjemahkan. Lagipula, proses penerjemahan ini hanya didukung oleh google translate serta sedikit (atau banyak) interpretasi-interpretasi saya sendiri. Mohon maaf sekali lagi yang sebesar-besarnya.

Akhir kata, semoga naskah ini bermanfaat bagi kita semua yang mungkin sedang jenuh terhadap ketidakadilan sosial dan kerusakan ekologis di bumi kita tercinta. Salam damai dan lestari.

Apa itu Ekososialisme?
Oleh: Michael Lowy

Sistem kapitalis yang bercokol saat ini menunjukkan kita daftar panjang malapetaka yang tak dapat diperbaiki. Misalnya: perkembangan secara eksponensial polusi udara di kota-kota besar sampai ke pedesaan; air minum yang tercemar; pemanasan global, dengan mencairnya secara perlahan-lahan es di kutub utara dan peningkatan cuaca ekstrim yang berujung pada katasropi; deteriorasi lapisan ozon; meningkatnya penghancuran atas hutan hujan tropis; degradasi keanekaragaman hayati melalui kepunahan ribuan spesies; struktur tanah yang semakin jenuh; desertifikasi; jumlah limbah yang tak terkontrol, terkhususnya nuklir; pelipatgandaan kecelakaan nuklir yang bersamaan dengan ancaman terbaru dari-dan mungkin yang paling destruktif-Chernobyl; pangan yang terkontaminasi, rekayasa genetika, penyakit “sapi gila”, dan daging sapi yang disuntikan hormon. Semua peringatan itu sangat jelas menunjukan kita akan pencarian keuntungan yang tak pernah puas. Para kaum produktifis dengan logika merkantil dari peradaban kapitalis industrial sedang memimpin kita menuju bencana ekologis dengan proporsi yang tak terkirakan. Pertanda ini bukanlah berarti bahwa kita sedang menyerah pada “katasropisme”, tetapi untuk memverifikasi sekaligus mengkonfirmasi bahwa dinamika pertumbuhan yang tak terbatas dibawah ekspansi kaum kapitalis telah dan sedang mengancam fondasi alam kehidupan manusia di planet ini [1].

Bagaimana seharusnya kita besikap terhadap bahaya ini? Sosialisme dan ekologi-atau setidaknya beberapa arusnya-memberikan beberapa tujuan objektif yang menyiratkan sebuah pertanyaan tentang otomatisme ekonomi, dari rezim kuantifikasi, dari produksi sebagai tujuannya sendiri, dari kediktatoran uang, dan dari reduksi sosial yang berangkat dari kalkulasi keuntungan dan kebutuhan untuk akumulasi modal. Baik sosialisme dan ekologi mempunyai daya tarik nilai-nilai kualitatif-untuk para sosialis misalnya yakni nilai guna, kepuasan kebutuhan, kesetaraan sosial; untuk para enviromentalis yakni melindungi alam dan keseimbangan ekologi. Keduanya memahami ekonomi sebagai suatu entitas yang terlekat dalam lingkungan sosial maupun lingkungan alam.

Dikatakan bahwa perbedaan latar belakang telah memisahkan ‘si merah’ dan ‘si hijau’, kaum Marxis dari enviromentalis. Aktivis lingkungan menyalahkan Marx dan Engels atas produktivisme. Apakah ini dapat dibenarkan? Iya dan tidak.

Tidak, sejauh tidak seorang pun mengancam logika produksi kapitalis untuk tujuan produksi itu sendiri-serta akumulasi kapital, kekayaan, dan komoditas sebagai tujuan-seperti yang Marx lakukan dengan gigih. Gagasan sosialisme-yang kontra terhadap deformasi birokrasi yang busuk-adalah produksi tentang nilai guna, dimana barang yang diperlukan diperuntukkan untuk kepuasan kebutuhan manusia. Bagi Marx, tujuan paling tinggi dari kemajuan teknologi bukanlah akumulasi tak terbatas dari barang (“memiliki”) melainkan pengurangan hari kerja dan akumulasi waktu luang (“menjadi”).

Ya, sejauh yang sering ditemukan dalam Marx dan Engels (dan Marxisme belakangan) bahwa ada tendensi untuk membuat “perkembangan kekuatan produktif” menjadi prinsip utama kemajuan, bersama dengan sikap kurang kritis terhadap peradaban industrial, terutama dalam hubungannya yang merusak alam.

Pada kenyataannya, kita dapat menemukan materi dalam karya-karya Marx dan Engels untuk mendukung kedua interpretasi diatas. Persoalan ekologi, menurut saya, merupakan tantangan besar bagi pembaruan pemikiran Marxis di ambang abad ke-21 ini. Hal itu menyaratkan bahwa para Marxis mesti melakukan pembacaan kritis dan mendalam atas “kekuataan produktif” menurut tradisi pemikiran mereka, dan juga menyaratkan perlunya pembongkaran secara radikal ide tentang kemajuan dengan paradigma teknologi dan ekonomi yang menjadi kecendrungan masyarakat industrial saat ini.

Walter Benjamin dulunya adalah salah seorang Marxis pertama di abad ke-20 yang mengartikulasikan pertanyaan ini. Di tahun 1928, didalam bukunya yang berjudul One-Way Street, ia mengecam doktrin imperialis yakni gagasan dominasi alam dan kemudian mengusulkan konsepsi baru tentang teknologi sebagai bentuk “penguasaan hubungan antara alam dan manusia.” Beberapa tahun kemudian dalam On the Concept of History, ia mengajukan proposal untuk memperkaya materialisme historis dengan ide-ide Fourier, yang mempunyai visi utopis yang bermimpi tentang “buruh, yang jauh dari tindakan mengeksploitasi alam, akan mampu untuk membangkitkan kreasi yang masih tidur dalam kandungannya.”[2]

Hari ini marxisme masih jauh dari tindakan untuk memperbaiki ketertinggalan dalam hal tersebut. Namun, beberapa arus pemikiran tertentu sedang mulai mengatasi masalah tersebut. Setapak jalan yang subur telah dibuka oleh ahli ekologi Amerika sekaligus seorang “Marxis-Polanyis” bernama James O’Connor. Ia mengusulkan bahwa kita perlu menambahkan kontradiksi kapitalisme Marx yang pertama- yakni antara kekuatan dan relasi produksi dan yang kedua- antara kekuatan produktif dan kondisi produksi- dengan memperhitungkan kelas pekerja, ruang kota dan alam. Melalui dinamika ekpansionis itu, O’Connor mengemukakan, modal bisa membahayakan atau menghancurkan latar kondisinya sendiri, dimulai dengan lingkungan alam-sesuatu yang tidak dipertimbangkan dengan memadai oleh Marx.[3]

Pendekatan menarik lainnya, baru-baru ini, dikemukakan oleh salah seorang “ekomarxis” Italia, Tiziano Bagarollo: “Formula yang dimana transformasi kekuatan produksi berpotensi menjadi destruktif, terutama dalam hal lingkungan, tampaknya lebih tepat dan bermakna daripada skema kontradiksi (yang selama ini terkenal) antara kekuatan produksi dan relasi produksi. Lebih dari itu, formula ini menyediakan kritik, non-apologetik, bagi fondasi ekonomi, teknologi, dan perkembangan saintifik, dan dengan begitu juga elaborasi atas konsep diferensiasi kemajuan (E. Bloch).[4]

Entah Marxis atau bukan, gerakan tradisional buruh di Eropa-serikat, partai sosial-demokratik dan komunis- tetap, secara garis besar, dibentuk oleh ideologi tentang “kemajuan” dan produktifisme, bahkan mengarah pada, dalam beberapa kasus tertentu, pembelaan terhadap energi nuklir atau industri otomotif. Namun, sensitivitas ekologi mulai muncul, terutama bagi serikat buruh dan partai kiri negara-negara Nordik, Spanyol dan Jerman.

Krisis Peradaban
Kontribusi besar ekologi telah, dan sedang, membuat kita sadar akan bahaya yang mengancam planet sebagai akibat dari corak produksi dan konsumsi saat ini. Pertumbuhan masif serangan terhadap lingkungan dan meningkatnya ancaman terhadap keseimbangan ekologi merupakan skenario bencana yang mempertanyakan kelangsungan hidup spesies manusia. Kita menghadapi krisis peradaban yang menuntut segera perubahan radikal.

Masalahnya adalah bahwa proposal yang diajukan lingkaran enviromentalisme-politik terkemuka di Eropa sangat tidak memadai dan bukanlah solusi yang pantas terhadap krisis ekologi. Kelemahan utamanya adalah bahwa mereka tidak mengetahui hubungan antara prduktivisme dan kapitalisme. Sebaliknya, reformasi seperti eco-taxes yang mampu mengendalikan “ekses” atau ide-ide “ekonomi hijau” menggiring kita kepada ilusi “kapitalisme yang bersih”. Atau, lebih jauh lagi, menerima sebagai alasan imitasi produktivisme Barat oleh birokrasi ekonomi yang despotik.Mereka memahami kapitalisme dan sosialisme sebagai varian dari corak yang sama- sebuah argumen yang telah kehilangan banyak daya tarik setelah runtuhnya apa yang kita sebut sebagai “sosialisme yang eksis.”

Para enviromentalis akan keliru jika mereka membayangkan dapat melakukannya tanpa pendekatan kritik Marxian atas kapitalisme. Enviromentalis yang tidak mengenal hubungan antara produktivisme dan logika profit ditakdirkan untuk gagal- atau, yang paling buruk, terhisap oleh sistem itu sendiri. Contohnya banyak. Kurangnya sikap anti-kapitalis sebagian partai Hijau Eropa-terutama di Prancis, Jerman, Italia, dan Belgium-akhirnya menggiring mereka menjadi mitra “eko-reformis” dalam pengelolaan sosial-liberal kapitalisme oleh pemerintahan yang cenderung berhaluan tengah-kiri.

Perihal buruh yang dikhususkan untuk produktivisme, para enviromentalis tertentu bahkan menghindari gerakan buruh dan mengkonfirmasi diri dengan slogan “tidak kiri atau kanan.” Ex-Marxis buru-buru mengatakan “selamat tinggal kelas pekerja” (Andre Gorz), sementara yang lain (Alain Lipietz) bersikeras untuk meninggalkan “yang merah”-yakni Marxisme atau sosialisme-untuk bergabung dengan “yang hijau”, yakni paradigma baru yang dirasa menjadi jawaban atas semua masalah ekonomi dan sosial.

Akhirnya, apa yang kita sebut “fundamentalis”, atau mereka dalam lingkaran deep-ecology, kita lihat, dengan dalih menentang antroposentrisme dan penolakan atas humanisme, telah memimpin mereka menuju posisi yang cenderung relativis yang mana menempatkan semua spesies di bidang yang sama. Haruskah seseorang benar-benar menganggap bahwa nyamuk Koch basilus atau Anopheles mempunyai hak yang sama untuk hidup dengan seorang anak yang menderita tuberkolosis atau malaria?

Ekososialisme
Lantas apakah yang dimaksud dengan ekososialisme? Ekososialisme adalah tradisi pemikiran ekologikal terkini dan tindakan yang menyesuaikan kemajuan fundamental Marxisme sementara mengibas sampah produktifis-nya. Bagi para ekososialis, logika keuntungan pasar, dan logika birokrasi otoritariansime dipenghujung akhir keberangkatan “sosialisme yang eksis,” ini tidaklah cocok dengan kebutuhan untuk melindungi lingkungan alam. Sementara yang lain mengkritik ideologi dari sektor dominan gerakan buruh, ekososialis tahu bahwa para pekerja dan organisasi mereka merupakan kekuatan yang sangat diperlukan untuk setiap transformasi radikal dari sistem serta pembentukan sebuah masyarakat sosialis dan ekologikal yang baru.

Ekososialisme telah berkembang hampir 30 tahun ini, terima kasih bagi kerja-kerja para pemikir utama seperti Raymond Williams, Rudolf Bahro (dalam karya awalnya) dan Andre´ Gorz (juga dalam karya awalnya), serta kontribusi yang sangat bermanfaat dari James O’Connor, Barry Commoner, John Bellamy Foster, Joel Kovel, Joan Martınez-Alier, Francisco Fernandez Buey, Jorge Riechman (tiga terakhir dari Sapnyol), Jean-Paul Deleage, Jean-Marie Harribey (France), Elmar Altvater, Friede Otto Wolf (Jerman), dan masih banyak lagi, yang mempublikasikan jurnal seperti Capitalism Nature Socialism dan Ecologıa Politica.

Mereka, yang baru-baru ini, masih jauh dari homogenitas politik. Namun, sebagian besar lainnya berbagi tema-tema umum tertentu. Mereka yang memutuskan diri dengan ideologi berkemajuan ala produktivis-dengan segala bentuk birokratik dan/atau kapitalisnya-dan menentang ekspansi tak terbatas dari corak produksi dan konsumsi yang menghancurkan alam, merepresentasikan upaya orisinilnya dalam menghubungkan ide fundamental dari sosialisme Marxian untuk meningkatkan kritik terhadap ekologi.

James O’Connor menunjukan bahwa ekososialis akan cenderung menggunakan teori-teori dan gerakan-gerakan yang berusaha untuk mensubordinasikan nilai tukar ke nilai guna dengan mengorganisasikan produksi sebagai fungsi dari kebutuhan sosial dan kebutuhan untuk memproteksi lingkungan. Tujuan mereka, sebuah sosialisme ekologis, akan menjadi sebuah masyarakat ekologis yang rasional yang berdiri pada kontrol demokratis, kesetaraan sosial, dan keunggulan dari nilai-guna[5]. Saya akan menambahkan bahwa konsepsi ini mengasumsikan kepemilikan kolektif atas alat-alat produksi, perencanaan secara demokratis yang memungkinkan bagi masyarakat untuk mendefinisikan tujuan dari investasi dan produksi, dan sebuah struktur teknologi baru dari kekuatan produktif.

Penalaran para ekososialis bersandar pada dua argumen penting:

  1. Corak produksi dan konsumsi negara-negara kapitalis maju saat ini, yang mendasarkan diri pada logika akumulasi tak terbatas (modal, keuntungan, dan komoditas), pemborosan sumber daya, konsumsi yang mewah, dan percepatan penghancuran lingkungan, tidak bisa dengan cara apapun diperluas ke seluruh planet tanpa menghasilkan krisis ekologi. Menurut kalkulasi terakhir, jika corak konsumsi energi rata-rata di Amerika diperluas ke seluruh dunia, maka cadangan minyak bumi akan habis dalam sembilan belas hari[6]. Dengan demikian, sistem ini tentunya dijalankan pada pemeliharaan dan kejengkelan atas ketimpangan yang mencolok antara Utara dan Selatan.
  2. Apapun penyebabnya, kelanjutan atas kemajuan kapitalis dan ekspansi peradaban yang didasarkan pada ekonomi pasar-bahkan dibawah bentuk ketidakadilan yang brutal dimana mayoritas dunia justru kurang konsumtif- akan langsung mengancam, dalam jangka menengah (setiap perkiraan yang tepat akan berisiko), kelangsungan hidup spesies manusia. Proteksi atas lingkungan alam ini dengan demikian menjadi keharusan yang sangat humanis.


Rasionalitas yang dibatasi oleh pasar kapitalis, dengan perhitungan picik atas laba dan rugi, berdiri didalam kontradiksi yang intrinsik atas rasionalitas ekologis, yang memperhitungkan siklus alam. Hal ini bukan persoalan mengkontraskan antara kapitalis “buruk” penghancur alam dan kapitalis hijau yang “baik”; Melainkan, ini adalah persoalan sistem itu sendiri, yang mendasarkan diri pada kompetisi kejam, tuntutan atas profitabilitas, dan perlombaan mencari keuntungan dengan cepat, yang merupakan perusak keseimbangan alam. Para kontestan kapitalisme hijau tidaklah lain sebagai jurus publikasi, sebagai label untuk tujuan dagang, atau-pada kasus terbaiknya-sekadar inisiatif lokal yang setara dengan setetes air di tanah gersang gurun kapitalis.

Terhadap fetisisme komoditas dan reifikasi otonomisasi ekonomi yang ditimbulkan oleh neoliberalisme, tantangan kedepan untuk ekososialis adalah realisasi dari apa yang dinamakan “ekonomi yang bermoral”. Ekonomi moral ini harus eksis dalam terma yang digunakan E. P. Thompson, yakni, kebijakan ekonomi yang berdiri pada kriteria non-moneter dan ekstra-ekonomik. Dengan kata lain, ekonomi moral ini mesti mengintegrasikan kembali ekonomi kedalam ekologi, sosial dan politik.[7]

Reformasi secara parsial sangatlah tidak memadai; apa yang dibutuhkan adalah penggantian mikro-rasionalitas profit dengan makro-rasionalitas sosial dan ekologi, yang menuntut perubahan sesungguhnya dari peradaban[8]. Hal itu tidaklah mungkin terjadi tanpa orientasi teknologi yang bertujuan untuk mengganti sumber energi saat ini dengan sumber non-polusi dan terbarukan lainnya, seperti energi angin atau matahari[9]. Pertanyaan pertama, karenanya, kekhawatiran kontrol atas alat-alat produksi, terutama keputusan berinvestasi dan perubahan teknologi, mesti diambil dari bank dan korporasi kapitalis agar dapat melayani kepentingan umum masyarakat.

Dapat diakui, perubahan radikal menaruh perhatian tidak hanya pada produksi melainkan konsumsi juga. Namun, masalah peradaban borjuis/industrial-seperti yang sering ditegaskan oleh para enviromentalis-bukanlah “konsumsi berlebihan” penduduk. Dan solusinya bukan membatasi konsumsi, seperti yang diterapkan di negara kapitalis maju. Hal itu, sebetulnya, adalah jenis umum dari konsumsi, yang berdasarkan diri pada kesombongan, ketidakbergunaan, alienasi perniagaan, dan obsesi akumulasionis, yang mesti dipertanyakan.

Ekonomi dalam transisinya menuju sosialisme, yang “ditanam ulang” (seperi kata Karl Polanyi) ke dalam lingkungan sosial dan alam, akan ditemukan dalam pilihan prioritas demokratis oleh masyarakat itu sendiri, dan bukan oleh “hukum pasar” atau politbiro. Lokal, nasional, dan, cepat atau lambatnya, perencanaan demokratik akan menentukan:

  • produk apa yang akan disubsidikan atau bahkan didistribusikan dengan gratis;
  • pilihan energi apa yang akan dikejar, bahkan jika tidak, yang paling menguntungkan;
  • bagaimana mengatur sistem transportasi yang sesuai dengan kriteria sosial dan ekologisnya; dan
  • langkah apa yang harus diambil untuk memperbaiki, secepat mungkin, kerusakan lingkungan yang sangat besar, yang telah diwariskan kepada kita oleh kapitalisme. Dan seterusnya…


Transisi ini tidak hanya membawa kita ke corak produksi baru dan sebuah masyarakat demokratis yang egaliter, tapi juga terhadap corak alternatif baru kehidupan, peradaban ekososialis baru, yang melampaui rezim uang, melampaui kebiasaan konsumsi yang diproduksi oleh iklan, dan yang melampaui produksi tak terbatas atas komoditas, seperti contohnya otomobil, yang berbahaya bagi lingkungan.

Kedengaran utopis? Dalam arti etimologisnya (“berantah”), itu tentu. Namun, jika kita tidak percaya, seperti Hegel, bahwa “segala sesuatu yang nyata adalah rasional, dan segala sesuatu yang rasional adalah nyata,” bagaimana caranya seseorang berpikir tentang rasionalistas tanpa terlihat utopia? Utopia sangat diperlukan untuk perubahan sosial, asalkan didasarkan pada kontradiksi yang ditemukan dalam kenyatan dan gerakan sosial yang nyata. Hal ini menunjukan ekososialisme yang sejati, yang mengusulkan aliansi strategis “si merah” dan “si hijau”-bukan dalam arti sempit yang digunakan oleh politisi yang diterapkan pada partai sosial-demokrat dan partai hijau, tetapi dalam arti yang lebih luas antara gerakan buruh dan gerakan ekologi-dan gerakan solidaritas dengan ketertindasan dan keter-eksploitasi-an negara Selatan.

Aliansi ini mengimplikasikan bahwa enviromentalisme meninggalkan tendensi naturalisme (yang anti-humanis) dan menggantikannya dengan kritik atas ekonomi politik. Dari sisi yang lain, Marxisme harus mengatasi produktifisme-nya. Salah satu cara melihat ini adalah dengan menyingkirkan skema mekanistik pertentangan antara kekuatan produksi dan relasi produksi, yang telah menghambat mereka (marxisme). Skema ini harus diganti -atau setidaknya, disempurnakan-oleh ide yang menunjukan bahwa kekuatan produktif dalam sistem kapitalisme menjadi destruktif. Ambil, misalnya contoh, industri persenjataan, atau berbagai cabang produksi yang merusak kesehatan manusia dan lingkungan alam[10].

Dinamika Perubahan
Utopia revolusioner sosialisme hijau ataupun solar communism, bukan berarti yang seharusnya tidak bertindak saat ini. Tidak mempunyai ilusi tentang “meng-ekologi-sasikan” kapitalisme bukan berarti bahwa seseorang itu tidak dapat bergabung dalam perjuangan untuk perubahan. Misalnya, beberapa jenis eco-taxes bisa bermanfaat, menyediakan mereka suatu basis logika sosial egalitarian (membuat si penyumbang polusi untuk membayar, bukan publik) dan yang satunya dengan menyingkirkan mitos kalkulasi ekonomi dari “harga pasar” bagi kerusakan ekologi, yang mana tidak selaras dengan sudut pandang moneter apapun. Kita harus bergegas, berjuang segera menentang HCFC yang merusak lapisan ozon, berjuang untuk moratorium rekayasa genetika, berjuang untuk membatasi dengan ketat emisi gas rumah kaca, dan berjuang untuk mengklaim hak istimewa kita akan transportasi publik yang direnggut oleh korporasi otomobil[11].

Jebakan yang menunggu kita disini adalah pengakuan secara formal atas tuntutan kita, tetapi sayang sekali tidak berisi. Salah satu contoh kasus adalah Perjanjian Kyoto tentang Perubahan Iklim, yang mengatur tentang pengurangan 5 persen gas oleh negara yang bertanggung atas pemanasan global-tentu hal itu terlalu minim untuk mencapai hasil apapun. Dan seperti yang kita ketahui, Amerika, yang juga bertanggung jawab atas emisi gas ini dengan keras menolak untuk menandatangani perjanjian. Adapun Eropa, Jepang dan Kanada, telah menandatangani perjanjiannya sambil menambah beberapa klausul seperti “hak pasar atas emisi”, yang membatasi perjanjian ini. Sangat disayangkan, bukannya memihak kepada kepentingan jangka panjang dari manusia, hal itu justru menggambarkan pandangan jangka pendek yang sudah didominasi perusahaan minyak multinasional dan industri otomotif [12].

Perjuangan reformasi ekososial dapat menjadi kendaraan untuk perubahan yang lebih dinamis, sebuah “transisi” antara tuntutan minimal dan program maksimal, asalkan menolak tekanan dan argumen dari kepentingan penguasa seperti: “kompetisi” dan “modernisasi” atas nama “hukum pasar”.

Beberapa tuntutan tertentu telah, atau bisa dengan cepat, menjadi lokus dari konvergensi antara gerakan sosial dan ekologi, serikat pekerja dan pembela lingkungan, “si merah” dan “si hijau”:

  • memajukan transportasi publik yang murah dan gratis-kereta, metro, bus, trem-sebagai alternatif atas polusi di kota dan desa yang diakibatkan oleh mobil pribadi dan sistem alat berat;
  • penolakan terhadap sistem utang dan “penyesuaian struktur” bercorak ekstrim neoliberal yang dikenakan oleh Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia di negara-negara Selatan, dengan konsekuensi sosial dan ekologi yang dramatis: pengangguran besar-besaran, penghancuran perlindungan sosial, dan perusakan sumber daya alam melalui ekspor;
  • ketahanan kesehatan masyarakat terhadap polusi udara, air dan makanan, yang disebabkan oleh keserakahan perusahaan besar kapitalis; dan
  • pengurangan waktu kerja untuk mengatasi pengangguran dan menciptakan masyarakat yang mempunyai hak atas waktu luangnya selama waktu akumulasi barang[13].

Semua gerakan sosial emansipatoris harus dirangkul untuk melahirkan peradaban baru yang lebih manusiawi dan menghormati alam. Seperti yang tepat dikatakan oleh Jorge Riechmann: “Proyek ini tidak boleh menolak salah satu dari warna pelangi-baik merah dari gerakan anti-kapitalis dan egaliter buruh, maupun warna violet dari perjuangan pembebasan perempuan, warna putih dari gerakan anti kekerasan untuk perdamaian, warna hitam dari gerakan anti-otoritarianisme para libertarian dan anarkis, dan bahkan warna hijau dari perjuangan untuk kemanusiaan yang bebas dan adil didalam sebuah planet yang layak huni[14].”

Ekologi Si Miskin
Politik ekologi yang radikal telah menjadi kekuatan sosial dan politik yang hadir di sebagian besar negara Eropa, dan juga, sampai tingkat tertentu, di Amerika. Bagaimanapun, tidak ada yang lebih salah daripada menganggap persoalan ekologi hanya menjadi perhatian negara-negara Utara-masyarakat elit dan kaya. Malah fakta menunjukan bahwa gerakan sosial dengan dimensi ekologi yang berkembang di negara-negara kapitalisme pinggiran- negara bagian Selatan-semakin banyak dan berkembang.

Gerakan-gerakan ini bereaksi dengan kemarahan yang meningkat atas masalah ekologi di Asia, Afrika dan Amerika Latin yang dihasilkan oleh kebijakan “ekspor polusi” yang disengajakan oleh negara-negara imperialis. Legitimasi ekonomi-dari sudut pandang ekonomi kapitalis pasar-bahkan secara blak-blakan diartikulasikan dalam catatan untuk Bank Dunia oleh kepala lembaga ekonomi, Lawrence Summers (saat ini presiden Universitas Harvard) di media The Economist pada awal tahun 1992.
Summers mengatakan:

Hanya antara kau dan aku, tidakkah seharusnya Bank Dunia terus mendukung migrasi industri kotor ke negara-negara yang kurang berkembang? Saya bisa memikirkan tiga alasan: 1) Ukuran biaya polusi yang merusak kesehatan bergantung pada pendapatan yang dikorbankan dari peningkatan morbiditas dan mortalitas. Dari sudut pandang ini jumlah tertentu kesehatan yang terganggu akibat polusi sebaiknya diselesaikan di negara dengan biaya terendah, yakni negara dengan upah terendah. Saya pikir logika ekonomi di balik pembuangan limbah beracun di negara dengan upah terendah adalah hal yang sempurna, dan kita harus yakin akan itu. 2) Biaya polusi cenderung non-liner karena kenaikan awal pencemaran mungkin memiliki biaya yang sangat rendah. Saya selalu berpikir bahwa negara-negara dengan populasi sedikit di Afrika jauh dari pencemaran; kualitas udara mereka mungkin jauh tidak efisien jika dibandingkan dengan kota Los Angeles atau Mexico…3) Tuntutan atas lingkungan yang bersih untuk alasan estetika dan kesehatan cenderung memiliki pendapatan yang sangat tinggi. Kekhawatiran individu pada kesempatan menderita kanker prostat jelas akan jauh lebih tinggi di negara di mana orang-orang menderita kanker prostat dibandingkan di negara dimana tingkat kematian balita adalah 200 per ribuan….[15]

Dalam pernyataan tersebut kita melihat formulasi sinis yang jelas mengungkapkan logika kapital global-berbeda dengan semua pendapat oleh lembaga moneter internasional yang cukup menenangkan mengenai pembangunan.

Di negara-negara Selatan, dengan demikian kita melihat kelahiran gerakan yang Joan Martinez sebut sebagai “ekologi si miskin” atau bahkan “ekologi ala neo-narodnisme”. Gerakan itu termasuk mobilisasi terpopuler dalam membela agrikultur petani, komunal akses ke sumber daya yang terancam oleh ekpansi pasar (atau negara). Serta perjuangan melawan degradasi lingkungan yang disebabkan oleh pertukaran yang tidak setara, ketergantungan terhadap industrialisasi, modifikasi genetika dan perkembangan kapitalisme (agribisnis) di desa-desa. Seringkali gerakan-gerakan ini tidak mendefinisikan diri mereka sebagai gerakan ekologikal, tapi perjuangan mereka bagaimanapun juga mempunyai dimensi penting ekologikal[16].

Tak usah dikatakan bahwa gerakan-gerakan ini tidak bertentangan dengan perbaikan yang dibawa oleh kemajuan teknologi; sebaliknya, kebutuhan untuk listrik, menjalankan air, limbah, dan apotik medis sangat mencolok dalam platform mereka. Apa yang mereka tolak adalah pencemaran dan perusakan lingkungan alam atas nama “hukum pasar” dan keharusan untuk “ekpansi modal”.
Artikel baru-baru ini oleh pemimpin petani Peru, Hugo Blanco, sangat mencolok terlebihnya dalam mengartikulasikan makna dari “ekologi si miskin:”

Pada pandangan pertama, para pembela dan konservasionis lingkungan muncul sebagai orang-orang yang baik, sedikit gila, yang tujuan utama hidupnya adalah untuk mencegah hilangnya paus biru dan beruang panda. Namun, di Peru banyak orang-orang hebat yang membela lingkungan mereka. Yang pasti, jika salah satu mengatakan kepada mereka “anda seorang enviromentalis,” mereka mungkin akan menjawab “enviromentalis pandanganku”. Meskipun demikian, dalam perjuangan mereka melawan polusi yang disebabkan oleh peruasahaan tembaga Peru Selatan, bukankah penduduk kota Ilo dan desa-desa sekitarnya membela lingkungan? Dan bukankah penduduk Amazon betul-betul enviromentalis, yang siap mati membela hutan mereka terhadap penjarahan? Hal yang sama berlaku bagi penduduk miskin di Lima, ketika mereka memprotes pencemaran air.[17]

Diantara manifestasi yang tak terhitung dari “ekologi si miskin,” salah satu gerakan sangat patut dicontoh, dari keluasannya, yang mengakomodir sosial dan ekologi, lokal dan global, “si merah” dan “si hijau”: perjuangan Chico Mendes dan Aliansi Masyarakat Hutan dalam membela Amazon Brazil melawan aktivitas destruktif pemilik tanah besar dan agribisnis multinasional.

Mari kita secara singkat mengingat aspek utama dalam konfrontasi ini. Pada awal 1980-an, seorang yang tergabung dalam serikat militan buruh Konfederasi Pekerja Bersatu dan juga partisan dari gerakan sosialis baru yang diwakili oleh Partai Buruh Brazil, Chico Mendes mengorganisasikan okupasi lahan oleh petani yang mendapatkan mata pencaharian dari menyadap karet (seringueiros) melawan para latifundistas yang mem-buldoser hutan dalam rangka membangun padang rumput. Setelah itu Mendes berhasil menyatukan petani, pekerja agrikultural, seringueiros, anggota serikat buruh dan masyarakat adat-dengan dukungan basis komintas gereja-untuk membentuk Aliansi Masyarakat Hutan, yang membendung upaya-upaya deforestasi. Protes internasional yang dihasilkan dari tindakan ini membuatnya mendapatkan United Nations Global 500 Prize di tahun 1987.Tapi tak lama setelah itu, pada bulan Desember 1988, para latifunditas membuatnya dibunuh oleh pembunuh bayaran.

Melalui keterkaitannya dengan sosialisme dan ekologi, perjuangan petani dan masyarakat adat, serta tanggung jawabnya akan kelangsungan hidup penduduk lokal dan permasalahan global (perlindungan hutan hujan tropis terbesar), gerakan ini dapat menjadi paradigma bagi masa depan mobilisasi gerakan di Selatan.

Gerakan Yang Besar
Hari ini, pada pergantian abad ke-20, politik ekologi radikal telah menjadi salah satu dari berbagai macam bumbu penting dari gerakan besar melawan globalisasi neoliberalisme, yang berkembang di Utara dan juga Selatan. Kehadiran banyak para enviromentalis merupakan salah satu aspek yang mencolok dalam demonstrasi besar di Seattle melawan Organisasi Perdagangan Dunia pada tahun 1999. Dan pada Forums Sosial Dunia di Porto Alegre tahun 2001, salah satu tindakan simbolik paling kuat dalam acara ini adalah operasi yang dipimpin oleh aktivis dari Landless Movement dan Konfederasi Petani Prancis Jose Bove: penggalian sebuah ladang jagung hasil rekayasa genetika perusahaan agrikultur Monsanto. Pertempuran melawan penyebaran tidak terkontrol atas makanan yang dimodifikasi secara genetik telah dimobilisasi di Brasil, Perancis dan negara-negara lain. Perjuangan ini menyatukan tidak hanya gerakan ekologi tetapi juga gerakan petani, gerakan kiri, dan masyarakat umum yang merasa terganggu oleh konsekuensi tak terduga atas modifikasi genetika kesehatan masyarakat dan lingkungan alam. Perjuangan ini juga melawan komodifikasi dunia dan kediktaturan perusahaan multinasional, yang mana perjuangan untuk ekologi ini sangat berkaitan erat dalam refleksi dan gerakan praksis dunia melawan globalisasi liberal kapitalisme.

Ref:
1.Ver al respecto la excelente obra de Joel Kovel, The Ennemy of Nature. The end of
capitalism or the end of the world?, Zed Books, Nueva York, 2002.

2. W. Benjamin, Dirección única, Alfaguara, Madrid, 2002 y «Tesis de la filosofía de la
historia», en Discursos interrumpidos, Taurus, Madrid, 1973.

3. James O’Connor, «La segunda contradicción del capitalismo: causas y consecuencias»,
Actuel Marx n° 12, «L’écologie, ce matérialisme historique», París, 1992, pp. 30 a 36.
4. Tiziano Bagarolo, «Encore sur marxisme et écologie», Quatrième Internationale, n° 44,
París, mayo-julio de 1992, p.25.

5. James O’Connor, Natural Causes. Essays in Ecological Marxism, The Guilford Press,
Nueva York,1998, pp. 278, 331.

6. M. Mies, «Liberación del consumo o politizacion de la vida cotidiana», Mientras Tanto,
n° 48, Barcelona, 1992, p. 73.

7. Cfr. Daniel Bensaïd, Marx intempestivo, Herramienta, Buenos Aires, 2003, pp. 385 a
386 y p. 396 y Jorge Riechmann, ¿Problemas con los frenos de emergencia? Revolución,
Madrid, 1991, p. 15.

8. Ver el notable ensayo de Jorge Riechmann, «El socialismo puede llegar solo en bicicleta»,
Papeles de la Fundación de Investigaciones Marxistas, Madrid, n° 6, 1996.

9. Ciertos marxistas reivindican ya un «comunismo solar»: véase David Schwartzman, «Solar
Communism», Science and Society. Special issue «Marxism and Ecology», vol. 60 ; n° 3,
1996.

10. Daniel Bensaïd, Marx Intempestivo, pp. 391 y 396.

11. Jorge Riechmann, «Necesitamos una reforma fiscal guiada por criterios igualitarios y

12. Véase el esclarecedor análisis de John Bellamy Foster, «Ecology against Capitalism»,
Monthly Review. vol. 53, n° 5, octubre de 2001, pp. 12-14

13. Ver Pierre Rousset, «Convergence de combats. L’écologique et le social», Rouge, París, 16 de mayo de 1996, pp. 8-9.

14. Jorge Riechmann, «El socialismo puede llegar solo en bicicleta», cit., p. 57.

15. Cfr. «Let them eat pollution», The Economist, 8 de febrero de 1992.

16. Joan Martínez-Alier, «Political Ecology, Distributional Conflicts, and Economic
Incommensurability», New Left Review, n° 211, mayo-junio de 1995, pp. 83-84.

17. Artículo en el periódico La República, Lima, 6 abril 1991 (citado por Martínez-Alier,
Ibid. p. 74)

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.