Opini, Sastra dan Diary

Melihat Teater Kosmik dari Samping Kos

Beberapa bulan yang lalu baru terasa hingar bingar Gerhana Matahari Total di beberapa provinsi di Indonesia. Kampung saya, Kota Palu, Sulteng, mulai berbenah diri menyambut wisatawan lokal, domestik, maupun asing. Ya, daerah sana menjadi salah satu titik yang akan dilintasi dan akan terlihat GM secara total/penuh.

Sikap saya saat itu cuma sekedar biasa saja. Beberapa bulan yang lalu, GMT, menjadi angin lalu bagiku. Tapi, tepatnya 2 hari sebelum GMT, saya mulai kalang kabut. "Duh, mau lihat dimana ya? di DIY ada tidak ya?", tanyaku. Musababnya, sore 2 hari kemarin saya membaca koran Kompas. Beritanya soal GMT itu. Ada satu berita yang membuatku begitu kemudian ingin melihat GMT. Intinya, Teater Kosmik itu jangan sampai dilewatkan. Belum lagi di Tempo menyebut peristiwa ini sebagai sebuah Atraksi Alam Semesta.

Alhasil, 2 hari kemarin, saya mulai meluncur di dunia maya untuk mencari-cari terkait GMT. Saya kemudian faham bahwasanya di Jogja GMT tidak 100% melainkan cuma 80%. Ah, tak masalah, pikirku. Saya kemudian mendapati bahwa melihat GMT tak bisa dengan mata telanjang. Bisa meata telanjang apabila GMT sudah terjadi dimana Bulan menutupi Matahari secara penuh/total. Lalu di berbagai media memberitakan informasi terkait cara melihat GMT dengan sederhana. Yakni dengan kotak lubang jarum.

Saya agak dilema saat itu. Soalnya di Tugu Jogja, akan diadakan nobar GMT oleh kerjasama BMKG dan Taman Pintar. Disana juga akan dibagikan beberapa kacamata khusus. Tapi H-1 saya berubah pikiran. "Ah, kenapa tidak dari belakang kos saja."

Apalagi dibelakang kosku pemandangan cukup apik nan hijau: Persawahan. Saya kemudian punya inisatif untuk membuat kotak lubang jarum tersebut. Di kos ada kotak sepatu. Namun saya memilih kotak setrika berukuran kurang lebih 30x10x10cm. Cukup kecil memang. Saya kemudian membuat lubang yang berbentuk persegi empat. Dimana lubang itu nantinya akan dilapisi alumunium foil dan akan dilubangi dengan jarum. Lubang itu berfungsi memproyeksikan sinar matahari kedalam ujung kotak yang diseberangnya.

Namun saya keliru, saya justru melubanginya dengan paku. Alhasil, saat jam 7.00 am, dimana matahari tertutup 20%, saya balik lagi ke kamar untuk mengganti alumunium foil. Kemudian melubanginya dengan jarum yang ada di pin Papua Damai-ku.

Ahasil, saya bisa sedikit menikmati teater kosmik tersebut meski hanya berupa proyeksi cahayanya saja, yang tergambar kecil. Mulai dari Matahari yang seoalah digigit kecil, terus menjadi seperti pisang. Ya benar, saya berhasil membuktikan sendiri bahwa di Jogja GMT tidak terjadi secara total. Hanya seperti buah pisang tadi.
Persiapan 2 kotak lubang jarum, yang satu agak panjang, yang satu besar namun agak pendek


Samping Kos


Hasil proyeksi cahaya kedalam kotak. Terlihat matahari tidak bulat sempurna

1 komentar:

  1. Wih. Bisa ngeliat gerhana dari kreasi sendiri. Kereeen. :')

    BalasHapus

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.