Opini, Sastra dan Diary

, ,

Dana Apresiasi Untuk Mengapresiasi

Saya sedih melihat kader-kader potensial Persma seperti Iqbal Ramadhan dan Nurcholis ART yang progresifitas dan militansinya belum disupport secara finansial oleh organisasi yang telah membesarkan dan dibesarkan oleh mereka. Akhirnya, mau di apa, mereka justru mencari peruntungan dengan menjadi pekerja paruh waktu di sebuah kedai- Mufli Muthaher
Tepat minggu lalu, saya membagikan kuosioner ini kepada kawan-kawan. Tak ada niatan apa-apa dalam riset ini kecuali ingin melihat perlukah dana stimulus bagi kader-kader persma untuk memperbaiki kualitas jurnalisme yang ada dan motif pribadi saya belajar riset. Pertanyaan barusan sebenarnya berangkat dari kegelisahan saya terkait kualitas jurnalisme sekaligus nasib awak persma yang anggaplah "bekerja" demi kepentingan organisasi tersebut.

Mungkin kecendrungannya kawan-kawan menolak "digaji" karena, "Buat apa? Kita kan masuk organisasi untuk mengabdi kepada masyarakat kampus, untuk membangun gerakan-gerakan yang berorientasi kerakyatan," sehingga, "Bayaran kepada kita yang paling logis adalah pengalaman-pengalaman, ilmu, pemikiran, dan mungkin calon bini."

Tetapi, saya sendiri coba melepaskan pandangan-pandangan seperti itu demi keagungan objektifitas penelitian (Ndyasmu objektif...)

Namun (serius nih), jujur sejujur-jujurnya, penelitian ini sebenarnya adalah upaya saya untuk mencari legitimasi ilmiah untuk mempengaruhi kebijakan organisasi tempat saya "kerja" dan sebagai upaya penyambung lidah kader persma yang dimiskinkan secara struktural (Wasyu tenan bahasamu cok), padahal kader persma tersebut sangat-sangat ideologis dan rela mati-matian kesana-kemari untuk menemui narasumber, rela begadang menulis berita dengan atau tanpa rokok yang menemani. Pun, rela memutuskan hubungan dengan teman-teman seangkatan bahkan calon gebetannya yang ia sayangi.

Saya sedih melihat kader-kader potensial Persma seperti Iqbal Ramadhan dan Nurcholis ART yang progresifitas dan militansinya belum disupport secara finansial oleh organisasi yang telah membesarkan dan dibesarkan oleh mereka. Padahal mereka adalah kader-kader persma yang militan nan kritis, yang banyak berkontribusi bagi KM UII. So sad...

Seharusnya, kader-kader potensial ini tidak menggadaikan waktunya menjadi pekerja paruh waktu dan malahan harus terus melakukan pekerjaan-pekerjaan intelektual untuk kampus dan masyarakat-yang tentu finansialnya bisa disupport oleh organisasinya. Inilah yang saya sebut sebagai sebuah relasi kader-organisasi yang saling menguntungkan dimana kader tetap produktif-progresif, organisasi menjadi produktif, dan kesejahteraan kader tetap terjaga, setidaknya untuk uang rokok dan paket data.

Tak usah berlama-lama, demikian dibawah ini saya paparkan hasil data kuosionernya.

70% pria dan 30% wanita dari total 30 orang  yang mengisi kuosioner online ini (Miris, sedikit sekali)

Data responden yang mengisi kuosioner totalnya adalah 30, dan itu sangat jelas-terang-benderang tidak merepresentasikan suara kader persma di UII yang totalnya lebih dari 100 orang.

40% yang mengisi merupakan tahun ke-2 di Persmanya. 26.7% tahun ke-4, 20% Tahun 3 dan 10 % tahun 1. Sisanya, mungkin alumni yang iseng ngisi.



Sebanyak 90% responden menjawab bahwa teknologi saat ini bisa meningkatkan kualitas jurnalisme Persma di UII dan 10% mengatakan tidak

96,7 % responden dari 30 total responden menjawab bahwa mereka termotivasi untuk memperbaiki mutu jurnalisme di Persma nya sedangkan sisanya mengatakan tidak tahu
Selanjutnya bisa dibaca sendiri.
66.7 % mengatakan bahwa dana intensif/stimulus/apresiasi ini perlu (Kawan yang pro dana, PM ane, mari kita buat gerakan "Buruh Persma Menuntut Upah"....Sedangkan 20% menjawab tidak perlu dan 10% tidak tahu, sisanya menjawab "other".


Nah, kalau soal duit, cukup variatif lah. Mayoritas 26.7% memilih kisaran 50rb-100rb untuk satu tulisan longform (Terkait longform ini, sebenarnya ada subjektifitas peneliti dan generelalisasi. Saya sendiri membahasakan longform ini untuk jenis tulisan yang mendalam, yang dibingkai dengan gaya-gaya feature, Misalnya seperti tulisan Lapsus Majalah persma anda).

Nah ini dia, anggaplah dana apresiasi ini sudah diterapkan di masing-masing persma dan sepakat memberikan dana 100rb. Persma A misalnya mempunyai kebijakan untuk  mengeluarkan 3 tulisan mendalam dalam 3 bulan -yang masing-masing tulisan digarap 1 orang kader. Jika tiga-tiganya lolos kurasi, dalam 3 bulan persma A tersebut mengeluarkan dana sebesar 300rb atau 100rb perbulannya. Jika massa efektif kerja (dalam 1 periode) persma adalah 14 bulan, maka tinggal dikalikan saja, 14bulan x 100rb dan hasilnya = Rp. 1.400.000.

Jika dinaikkan sedikit saja, misalnya 250 ribu, maka totalnya menjadi 250rb x 14= Rp. 3.500.000/ 1 periode.

Berarti dalam satu periode, persma tersebut telah menerbitkan 14 tulisan mendalam yang in sa allah berkualitas. Tapi lagi-lagi, itu hanya hitung-hitungan secara subjektif belaka tanpa memikirkan pertimbangan-pertimbangan lainnya.


46.7% responden menjawab 250rb-500rb, sisanya baca sendiri.
Misalkan ada 3 Tim yang masing-masing tim terdiri dari 3 orang. Mereka diberikan tenggat waktu selama 2 bulan untuk menghasilkan 1 tulisan longform. Berarti dalam 2 bulan, ada total 3 tulisan longform (1.5 tulisan longform/bulan). Dalam 14 bulan ada (1.5 x 14bulan) 21 tulisan longform. Anggap masing-masing tim mendapatkan dana 500rb/1 tulisan, maka total dana yang dikeluarkan persma untuk dana insentif dalam 1 periode tersebut adalah, 21 x 500rb = Rp. 10.500.000 rupiah. Namun, anggap 1 tulisan longform itu sepanjang 4 halaman A4, maka 21 tulisan tersebut merepresentasikan 84 halaman. 84 halaman ini, jika dijilid maka jadilah 1 majalah utuh dengan 21 Laput/lapsus.

Sekian presentasi saya, Ditunggu sarannya.

3 komentar:

  1. Jinguk namaku pula di bawa bawa

    BalasHapus
  2. Kok kayaknya pertanyaan "Mau dikemanain dana triwulan kalo beralih ke online" kejawab? Haha

    BalasHapus

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.