Opini, Sastra dan Diary

Sedikit Catatan Tentang Irigasi Mataram

Saluran irigasi sekunder didaerah Minggir, Sleman yang sumbernya dari irigasi mataram.

Jaringan irigasi mataram mempunyai sejarahnya tersendiri. Mulai dari ramalan salah satu Sunan yang mengatakan bahwa bumi mataram dan rakyatnya akan makmur bila Kali Progo dan Kali Opak disatukan, sampai siasat Sultan Hamengkubuwono IX membangun kanal irigasi tersebut untuk menyelamatkan rakyat Jogja dari kerja romusha. Kini, menurut saya, irigasi mataram bisa dibilang tidak berfungsi maksimal untuk memakmurkan rakyat dan petani jogja. Persoalan teknis dan nonteknis tak pernah selesai. Berikut sedikit catatan kecil saya.

Beberapa waktu yang lalu, saya berksempatan menyusuri jaringan irigasi mataram dari barat jogja (daerah minggir) sampai timur jogja (daerah kalasan).  Di daerah barat jl. Magelang, terdapat banyak lahan pertanian. Saya sempat berbicara dengan salah seorang petani. Saat itu bpk itu sedang mengairi lahannya (untuk proses pembajakan nantinya) dengan mengambil dari saluran irigasi -nampaknya sekunder- saluran mataram. 

Dibagian ujung saluran irigasi tsb, ia membendungnya dengan karung goni (entah berisikan apa) agar permukaan air naik dan bisa mengairi lahannya.  Ketika saya menanyakan masalah keairan di daerah ini, Kakek itu mengatakan kalau, "Disini air melimpah, turah, tak ada masalah soal air."Perbincangan kami pun berlanjut sampai ia menceritakan bahwa dulu, saat jaman Soekarno msih menjabat sbagai presiden, ia sempat bergabung dengan barisan pemuda Partai Nasional Indonesia. Saya kemudian pergi. Tapi memang scara kasat mata, meskipun airnya agak kecoklatan, namun jaringan irigasi sekunder disana mengalir cukup kencang. Hal itu berlaku bagi daerah selatan saluran mataram, tempat Kakek tadi. Sedangkan Daerah utara mataram, karena perbedaan elevasi antara muka "kali" mataram yang lebih rendah dibanding lahan pertanian, beberapa petani terpaksa menyedot air irigasi tsb dengan pompa. Saluran irigasi nonteknis yang telah dibuat pun bukannya diisi oleh air, melainkan diisi oleh selang karet berdiameter lebih besar sdikit dari bola takraw.


Dalam ranah kajian sipil, agak sulit memang jika daerah utara kali mataram tsb harus diairi oleh kali mataram yang berada dibawahnya, yang sudah jelas berbeda ketinggian. Bisa dipastikan desain peta layout daerah pertanian di utara mataram tsb memang dirancang untuk tdk diairi oleh kali mataram yang berada tepat dibawahnya. Tapi biasanya, daerah dengan kondisi geografis seperti itu justru diairi oleh kali percabangan sungai yang berada di atasnya, karena tidak mungkin air mengalir dari rendah ke tinggi.  

Setelah itu saya berangkat menyusuri saluran mataram ke arah timur, melewati UGM, Gejayan, sampai daerah timur ringroad (daerah Kalasan). Mulai dari situ, kecepatan air mataram mulai mengurang, terlihat juga beberapa sampah plastik tergenang dan tumbuhan sungai walau hanya beberapa sentimeter. Hal ini menunjukan perbedaan yang sangat kontras dengan daerah barat tadi terkhususnya dibidang pertaniannya. Saya bertemu salah seorang petani dan berbincang-bincang soal pengairan didaerah tsb. Kebetulan Bpk petani tsb sedang menunggu kawannya untuk membajak lahan dengan traktor. Ternyata pertanian didaerah tsb, tepat di daerah selatan kali mataram, tidak bergantung kepada air irigasi mataram. Padahal saya melihat, jarak dari lahan dengan kali mataram sangatlah dekat, kurang lebih 10 m.

Bpk petani tsb mengatakan bahwa sumber pengairan mereka bukan dari irigasi mataram. Hal itu karena perbedaan elevasi, lagipula debit airnya sangat kurang, dan pastinya kualitasnya sudah memburuk karena sudah tercemar oleh sampah. Di daerah itu beberapa petani juga menggunakan sumur bor, dan sumber air yang dialiri melintasi, secara tegak lurus, dengan kali mataram. Terlihat memang beberapa gorong-gorong kecil, yang dimanfaatkan juga sbagai tempat penyeberangan pejalan kaki. Dan ada air mengalir disitu. Dipastikan air yang mengalir itu berasal dari kali yang berada di "utara jauh" kali mataram.

Saya tidak habis pikir, didaerah yang tidak jauh dari jaringan irigasi mataram, yang sudah melegenda itu, ternyata tidak bisa menyumbang secara maksimal air untuk kebutuhan pertanian.

Namun, argumentasi saya tersebut belum tentu benar. Yang perlu di cek, terkhusus kondisi di bagian timur Jogja tsb, adalah apakah peta pengairannya sejak dahulu kala memang diairi oleh irigasi mataram, atau memang didesain sebaliknya? Peta tersebut tidak dapat saya peroleh ketika mengunjungi kantor desa setempat. Tetapi, saya menemukan peta tersebut di Kantor Pengamat Pengairan yang berada di sekitaran Berbah. Kantor tersebut bertanggung jawab langsung kepada, kalau tidak salah, Balai Pusat sumber daya air DIY, kalau tidak salah ya, saya lupa nama balainya. Disitu saya memperoleh peta layout daerah  pengairan yang diamati oleh kantor tersebut. Namun, sayangnya, desain peta itu dirancang pada sekitar tahun 2007. Padahal saya ingin mengetahui sejarah pertanian daerah itu mulai dari saat berfungsinya jaringan irigasi mataram di masa kolonial Jepang.

Setelah berbincang-bincang, saya kemudian menyusuri kembali kali mataram sampai mentok di jalan Solo-Yogya. Saya mentok karena sudah malas juga untuk menyeberangi Jl. Solo-Yogya. Namun sayang, hasil yang saya dapatkan semakin menunjukan kemirisan dari kali mataram. Satu kilometer dari "mentok" saya tadi, kali mataram sudah kering. Kali mataram dipenuhi tumbuhan-tumbuhan dengan betang yang cukup runcing. Di sisi lain, ada banyak sampah berserakan termasuk kasur busuk yang sudah dibuang pemiliknya.

Menurut pengamat di kantor pengamat pengairan tersebut, kali mataram saat tahun 2014 masih mengalir sampai ke kali Opak, namun entah kenapa tahun 2015 kemarin tidak sampai ke kali Opak. Beragam spekulasi muncul, mulai dari tingkat penggunaan air di hilir (daerah Barat) yang sangat masif dan tidak terkontrol (apalagi dengan adanya tambak ikan di daerah barat tsb), ditambah lagi dengan pencurian-pencurian air, hal itulah yang membuat mengapa semakin ke timur air irigasi mataram semakin berkurang.

Sampah bertebaran di irigasi mataram daerah Timur Jogja (Kalasan)



Rekayasa Teknik dan Sosial Perlu Dilakukan

Dari pengamatan saya, bisa dirangkum beberapa persoalan:

1. Daerah Barat Jogja, khususnya bagian utara selokan mataram, lahan pertanian terlihat kesusahan air, dan beberapa masih menggunakan pompa dan menyedot langsung kali mataram,

2. Problem kuantitas jaringan irigasi di daerah timur Jogja dan mengapa jaringan irigasi mataram justru menjadi sumber alternatif pertanian di sana, terhususnya daerah selatan kali mataram.

3. Problem kualitas air dari hulu sampai hilir dan pencemaran air oleh sampah yang sangat masif didaerah timur Jogja.

4. Problem kekeringan kali mataram di daerah timur Jogja.

5. Stigmatisasi warga terhadap usaha tambak ikan yang berkembang di tataran petani pengguna air irgasi.


Beberapa, mungkin, penyelesaian yang bisa dilakukan:

1. Untuk kasus 1, penggunaan pompa penyedot air menunjukan bahwa kondisi saluran irigasi tidak berfungsi dengan baik. Saya tidak mau berspekulasi, perlu ada penelitian lebih lanjut apakah daerah tersebut telah masuk dalam peta layout pengairan setempat atau tidak. Pun, apakah ada cabang-cabang sungai diatasnya yang bisa menjadi sumber air.

2. Untuk kasus 2. Jaringan irigasi Mataram sebenarnya mempunyai suatu badan/lembaga/instansi tersendiri yang memang fokus mengamati jaringan irigasi tersebut. Karena jaringan irigasi mataram mencapai 30-an km, dibagi beberapa wilayah pengamatan. Untuk daerah yang saya tinjau termasuk dalam wilayah pengamatan 2. Saya berkesempatan berkunjung di kantor tersebut, Seorang pegawai yang sudah agak tua merasa cukup malu dengan irigasi mataram.

Dia bilang, kalau mengenai kuantitas, perlu ada kerjasama dengan daerah hulu, karena bisa jadi problem utama ada di hulu. Berangkat dari sini, perlu adanya perbaikan kelembagaan di tubuh instansi pengamat irigasi mataram tersebut. Selain itu, rekayasa teknik perlu dilakukan dengan menambah bendung untuk menaikan dan mempercepat aliran sungai. Pintu-pintu air yang berada di hulu juga perlu ditinjau secara berkala agar terjaga. Pemerintah dan kelompok petani pengguna air irgasi bisa dilibatkan dalam mengontrol pintu-pintu air, bahkan jaringan irigasi mataram yang terdapat dalam desanya. Disatu sisi yang lain mereka bisa bersinergi dengan kantor pengamat pengairan irigasi setempat.

3. Untuk kasus 3. Selain rekayasa teknik, rekayasa sosial perlu dilakukan agar perilaku masyarakat dalam menjaga kelestarian bangunan irigasi bisa meningkat. Peran Balai pengelola sumber daya air perlu dikawal disini. Disatu sisi, yang paling utama adalah bagaimana Kantor Pengamat Jaringan Irigasi Mataram bisa dipantau dan terus dikawal oleh masyarakat. Masalah sampah, mereka bisa berkordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk kerja bakti membersihkan sampah di kali mataram tersebut.

4. Rekayasa teknik bisa dilakukan.

5. Perlu adanya musyawarah bersama pengguna jaringan irigasi mataram: antara pengusaha tambak ikan dengan petani pengguna irigasi dan perlu adanya batasan dalam pengusahaan ternak ikan yang mengambil dari jaringan irigasi. Hal itu dikarenakan penggunaan debit air yang sangat banyak hanya di satu kolam saja.

Sedikit catatan ini tidak mengandung argumentasi yang ilmiah, keterbatasan riset menjadi alasan yang pasti.  Mohon koreksinya.

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.