Opini, Sastra dan Diary

Hubble dan Ruang Hidup

Hubble saat ini merasakan bahwa tempat tinggalnya, tanah airnya, semakin menunjukan jati dirinya: Masyarakat semakin pintar, agresif, progresif, serta revolusioner. "Inikah efek kebebasan berpendapat itu?," tanya Hubble.

Belum lama ini, timbul berbagai macam penolakan kepada gubermen. Gubermen di tempatnya semau-maunya memanfaatkan ruang-ruang kota untuk kepentingan bisnis. "Tentu si gubermen mendapatkan fee juga!," pikirnya.

Muda-muda lah yang menginisasi penolakan terhadap orientasi pembangunan gubermen itu. Hubble saat ini masih melihat-lihat dan memantau. Ia masih sedikit berpikir untuk bergabung dengan aliansi tersebut.

Kota, ditangan gubermen itu, kian menjadi porak poranda. Pohon-pohon ditebangi. Dibangun gedung-gedung pencakar langit. Sudah dengan pasti organisme-organisme yang ada dalam ruang hijau itu "dimatikan" secara paksa. Belum lagi timbul suatu fenomena sosial: Ketimpangan kehidupan. Disekitaran gedung pencakar langit itu adalah perkampungan kecil, dimana masyarakatnya hidup sejahtera, sederhana tanpa terlalu banyak harta, dan gaya hidup yang berlebihan.

Hubble merasakan ada sebuah adrenalin dalam melihat kota yang seperti itu. Ia seolah terbakar dan ingin bergerak. Tapi, Hubble tidak memiliki cukup ilmu. Daya analisanya masih kurang. Tentu, pikir Hubble, "Adalah sebuah persoalan dari berbagai aspek dan bisa dilihat dari berbagai sudut pandang juga."

Hubble kini sadar, bahwa persoalan ini, ujung-ujungnya adalah keserakahan.


0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.