Opini, Sastra dan Diary

Sedikit Catatan Tentang 9 Elemen

Untuk kelas 9 elemen jurnalisme Magang 2015 LPM Solid. Salam kenal yach.

Bagaimana kita memaknai jurnalisme? Dalam pengertian umum yang ada dalam KBBI, jurnalisme adalah pekerjeaan yang mengumpulkan, menulis, mengedit dan menerbitkan berita dalam surat kabar dan sebagainya. Tampaknya, dalam pengertian umum ini, jurnalisme hanya dpandang sebagai seperangkat pekerjaan atau dalam arti lain adalah sebuah proses, bukan seperti yang kita ketahui tentang isme-isme lain yang dinyatakan sebagai sebuah ideologi, pemikirian, paradigma atau bahkan tujuan hidup seseorang.

Dalam buku yang ditulis Bill Kovach dan rekannya, Tom Rosentiel dengan judul 9 Elemen Jurnalisme, saya secara subjektif berpendapat bahwa jurnalisme betul-betul lahir sebagai ideologi dan juga tindakan: Ada seperangkat konspetual pemikiran sekaligus menyinggung juga ranah-ranah teknis atau praktik seperti halnya pengertian dalam KBBI tersebut.

Secara teknis pun, perdebatan mengenai jurnalisme dan jurnalistik akan terselesaikan. Menurut Wisnu Prasetya Utomo selaku peneliti media, dalam salah satu media, kedua istilah tersebut sebenarnya memiliki makna yang relatif sama. Namun istilah jurnalisme lebih mengarah kepada hal-hal yang berbau ide atau pandangan, "Misalnya jurnalis harus berpihak kepada kepentingan publik, jurnalis harus berpihak kepada kebenaran dll."

Disatu sisi yang lain, apa yang dikatakan Wisnu tersebut sebenarnya merupakan salah 2 dari 9 elemen jurnalisme yang dibuat Kovach dan Rosentiel.

Sebelum berbicara mengenai elemen-elemen jurnalisme, Kovach & Rosentiel sendiri, dalam bukunya, mengajak pembaca untuk berpikir panjang. Dalam Bab 1 buku tersebut, pembaca pasti akan disodori pertanyaan, yang sekaligus judul bab itu tentang, "Untuk Apa Jurnalisme?"

Kembali kepada suatu pagi yang Mendung di Desember 1981. Ia menulis bahwa seseorang wanita bernama Anna Semborska setelah bangun tidur langsung menyetel radio kegemarannya, yaitu 60 MPH (Sixty Minutes Hour). Mereka yang suka mendengar acara tersebut adalah mereka yang, "Termasuk berani untuk ukuran rezim komunis Polandia". Pada intinya, acara itu adalah buatan mereka yang beroposisi terhadap rezim komunis di Polandia itu.

Yang menarik adalah acara itu seoalah mewakili perasaan sebagian banyak orang Polandia yang bisa dibilang mengecam rezim tersebut.Mendengar 60 MPH bagi Anna seolah merasakan dirinya bebas. "Kami  merasa bahwa jika hal-hal seperti ini bisa disiarkan radio maka kami orang bebas," begitu ucap Anna.

Namun, beberapa tahun setelah itu organisasi yang satu frame dengan penyiaran radio 60 MPH itu, yakni Solidaritas. ditetapkan pemerintahan sebagai organisasi terlalarang. Konsekuensi logis atas itu? Periode keterbukaan informasi Polandia berakhir.

Pada akhirnya gerakan rakyat di berbagai kota mulai menunjukan sikap. Setiap jam 19.30 tepat media pemerintahan tayang, masyarakat selalu keluar dan membawa anjingnya berjalan-jalan. Disatu tempat, masyarakat membalik TV nya ke arah jalan raya yang menunjukan bahwa, "Kami tak mau menonton ini,"

Beberapa peristiwa itu menunjukan bahwa masyarakat tak sudi mendengar versi kebenaran yang diungkapkan pemerintahan komunisme saat itu. Saya tak ingin berpanjang lebar,pemerintahan Polandia selanjutnya menyadari bahwa telah muncul apa yang namanya opini publik. Rakyat geram dengan media yang dibatasi dan pers pemerintahan yang memberitakan kepentingan mereka saja.

Informasi, pada akhirnya menjadi sebuah kebutuhan mendasar dalam masyarakat. Dan dengan sendirinya, jurnalisme menjadi kebutuhan bagi masyarakat.

Yang menjadi pertanyaan, kebutuhan apa? Mengapa masyarakat membutuhkan jurnalisme?

Ini erat kaitannya dengan apa yang dikatakan Kovach dengan "Naluri Kesadaran". Sejarawan Mitchell Stepehen, seperti dimuat dalam buku itu, dalam peneletiannya mendapatkan bahwa ada konsistensi yang sangat mengagumkan mengenai fungsi berita dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah. Kovach dan Rosentiel mengatakan bahwa:
Manusia membutuhkan berita karena naluri dasar, yang kita sebut sebagai Naluri Kesadaran. Merela perlu mengetahui apa yang terjadi di balik bukit, untuk menyadari kejadian-kejadian diluar pengalaman mereka. Pengetahuan tentang sesuatu memberi mereka rasa aman, membuat mereka bisa merencanakan hidup mereka.
Pada akhirnya, "Untuk Apa Jurnalisme?" bisa terajawab: Tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup bebas dan mengatur diri sendiri.

Elemen Pertama: Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran 

Pertanyaan yang langsung muncul tentang prinsip pertama adalah, kebenaran seperti apa? kebenaran punya siapa?

Kovach dan Rosentiel sendiri mengakui bahwasanya elemen pertama ini adalah, "Yang paling membingungkan," Namun, dalam buku Agama Saya Jurnalisme, wartawan senior Andreas Harsono meringkas 1 bab itu dengan cukup baik. Kebenaran yang dimaksudkan dalam elemen pertama itu adalah kebenaran fungsional. Ia menjelaskan bahwa: 
Kovach dan Rosenstiel menerangkan bahwa masyarakat butuh prosedur dan proses guna mendapatkan apa yang disebut kebenaran fungsional. Polisi melacak dan menangkap tersangka berdasarkan kebenaran fungsional. Hakim menjalankan peradilan juga berdasarkan kebenaran fungsional. Pabrik-pabrik diatur, pajak dikumpulkan, dan hukum dibuat. Guru-guru mengajarkan sejarah, fisika, atau biologi, pada anak-anak sekolah. Semua ini adalah kebenaran fungsional. 
Bingung? Mari kita diskusikan bersama. Hahaha

Elemen Kedua: Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga.

Pekerjaan sebagai jurnalis adalah pekerjaan kemanusiaan dan kemasyarakatan. Dalam konteks ini, pers yang benar adalah bagaimana dia menempatkan segala pemberitaannya untuk kepentingan warga atau kepentingan publik atau kepentingan bersama. Loyalitas tersebut, kadang kala tergerus karena pers lebih memanfaatkan penerbitannya untuk kepentingan perusahaan yang memodali mereka. Hal itu diakui Bill Kovach dalam buku 9 elemen. Mengapa harus kepada warga? Secara sentimen saya menjawab karena itulah yang membedakan jurnalisme dengan entertainment ala gosip-gosip. Masih bingung?

Elemen Ketiga: Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi

Elemen ketiga ini adalah bagaimana cara jurnalis mendapatkan kebenaran atau fakta yang terjadi dilapangan. Pengertian disiplin verifikasi disini adalah bagaimana jurnalis disiplin dalam memverifikasi kabar-kabar, isu-isu yang terdengar, desas-desus yang terdengar sehingga akan membawa sang jurnalis menuju fakta. Prinsip verifikasi identik dengan pekerjaan detektif yang mencari fakta atas suatu kasus pembunuhan. Ia harus menemui orang-orang yang dianggap saksi, perlu mengetahui jam berapa kejadian, perlu mencari bukti-bukti dilapangan dll.

Elemen Keempat: Wartawan tetap harus independen dengan apa yang mereka liput

Penting untuk diketahui bahwasanya pengertian independen bukanlah netralitas atau ketidakberpihakan. Independen yang dimaksud disini adalah sesuai pengertiannya yaitu: Tidak bergantung, bebas dari pengaruh atau dalam artian sederhana tidak mudah terpengaruhi. Apa jadinya jika wartawan terpengaruh? Artinya dia sudah tidak independen, karena pemberitaanya sudah terkontaminasi dengan bujukan-bujukan politik misalnya, Anggota DPR, Bupati, atau pemangku-pemangku kebijakan. Apa jadinya kalau organisasi berita terpengaruh? Ia bisa dihujat masyarakat dan kredibilitasnya akan terancam.

Elemen Kelima: Jurnalisme harus menjadi pemantau kekuasaan dan menyambung lidah yang tertindas.

Ini erat kaitan dengan pers sebagai penegak demokrasi. Dalam alam demokrasi kita di Indonesia, kita mengenal sistem TriasPolitika, atau Legislatif, Ekeskutif dan Yudikatif. Pers bisa menjadi pilar demokrasi ke-4 karena ia menjadi anjing penjaga. Ia akan siap menggonggong ketika pejabat-pejabat dalam lembaga negara korup, dan membuat kebijakan yang tidak masuk diakal  yang mengancam hajat hidup orang banyak. Maka daripada itu, tak usah heran mengapa media umumnya memberitakan terkait kebijakan pemerintahan, menulis berita terkait Satu tahun pemerintahan Presiden Jokowi-JK atau gubernur didaerah-daerah bahkan sampai ditingkat kabupaten. Selain itu mereka mengangkat terkait kondisi ekonomi, hukum dll. Itu semua masuk dalam tanggung jawab pers sebagai kontrol. Intinya pers harus mengontrol kinerja-kinerja para kekuasaan sehingga kedamaian dan kesejahteraan akan tercipta. Itu semua demi tegaknya demokrasi kita.

Elemen Keenam: Jurnalisme harus menyediakan forum kritik atau komentar publik.

Pernah nonton berita di TV, kemudian pembawa acaranya menerima telpon dari masyarakat? Nah itu yang namanya bagaimana jurnalisme harus menyediakan forum publik dimana masyarakat berhak mengajukan pendapat. Terus lambat laun kita kenal acara-acara tv dipagi hari yang mengundang masyarakat atau ahli-ahli dalam membahas isu. Atau yang paling terkenan seperti Mata Najwa. Kalau dalam penerbitan surat kabar, forumnya melalui surat pembaca atau rubrik opini, dimana masyarakat bisa mengirim keluhan atas suatu persoalan yang diharapkan keluhan itu akan diterima oleh pemangku kebijakan. Ya, yang namanya media, ia harus berfungsi sebagai fasilitator.

Elemen Ketujuh: Jurnalisme harus membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan

Tentunya kita suka yang menarik kan? Maka daripada itu, jurnalis perlu membingkai peristiwa dengan menarik tanpa menonjolkan sensasional layaknya infontainment. Tapi bagaimana kategori menarik itu? ini erat kaitan dengan isu yang diangkat, pasalnya masing-masing warga punya cita rasa terhadap suatu peristiwa. Maka daripada itu solusinya ada pada gaya penulisan peristiwa tersebut. Pada umumnya, media cetak harus menguasasi gaya penulisan narasi atau feature yang tidak kaku.

Elemen Kedelapan: Jurnalisme harus menyiarkan berita komprehensif dan proporsional

Ini erat kaitannya dengan pengalaman Bill Kovach yang melihat kebanyakan wartawan di Amerika yang hanya membuat judul yang sensasional namun tidak memberitakan berita yang proporsional. Wartawan harus menjaga berita dalam proporsi dan menjadikannya komprehensif.

Elemen Kesembilan: Wartawan punya tanggung jawab terhadap hati nurani

Andreas Harsono mengatakan:
SETIAP wartawan harus mendengarkan hati nuraninya sendiri. Dari ruang redaksi hingga ruang direksi, semua wartawan seyogyanya punya pertimbangan pribadi tentang etika dan tanggungjawab sosial. Ini elemen yang kesembilan.



0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.