Opini, Sastra dan Diary

Tak Tahu Mau Menulis Apa

Beberapa minggu ini sepertinya daya militansiku mulai menurun. Menulis jarang, membaca pun sama. Penyebabnya sebenarnya bukan persoalan gampang: Aktifas intelektual itu dibenturkan dengan agenda-agenda yang tak bisa kulewatkan.

Kalau kata orang, alasan itu memang betul-betul klasik. Ya, aku mengakui itu. Beberapa postingan sebelumnya aku cuma menulis tentang Hubble dan segala keresahan hatinya. Hubble adalah tokoh fiksi yang berada didalam kepalaku.

Mungkinkah Hubble merupakan representasi dari penulisnya?

Ah, itu bisa ya dan bisa tidak.

Sebenarnya aku juga bingung terkait kondisiku saat ini. Kenapa aku jarang menulis? mungkin karena beberapa minggu yang lalu aku melihat sebuah status dari seorang penulis yang sering menulis di Mojok.co. Ia bisa dibilang cukup frustrasi karena tidak bisa mendapatkan ide untuk menulis. Menurutnya, hal itu dikarenakan ia, saat itu, hanya fokus menulis. Menulis dan menulis. Ia melupakan pasangan dari menulis itu: Membaca.

Alasannya begini, apa yang kerap kali kita tulis bisa dibilang bersumber dari apa yang masuk kedalam pikiran kita. Membaca adalah sebuah proses menyerap ilmu pengetahuan. Kekurangan membaca akan berdampak kepada daya berpikir yang selanjutnya berdampak kepada pemikiran kita. Akhirnya? Ya kita menjadi susah mendapatkan inspirasi, susah menulis dan bingung mau berbuat apa (mungkin itu berlaku bagi seorang yang pekerjaannya menulis)

Tapi, betulkah aku jarang menulis karena aku ingin fokus membaca? Tidak juga.

Maka dari pada itu, saat ini aku lagi menulis tentang itu. Karena tak tahu lagi mau menulis apa.

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.