Opini, Sastra dan Diary

Komunitas Kopi Itam: Menaruh Pondasi Menuju Perubahan FTSP

Belum lama ini, sebuah grup Line terbentuk. Isinya adalah mereka-mereka yang ingin belajar, ingin berbagi, ingin berdiskusi, ingin mengenal, dan ingin bergerak. Ini patut diapresiasi. Ini patut diacungi jempol. Pasalnya, ini adalah, bisa dibilang, cikal bakal dan pondasi menuju mahasiswa FTSP yang berkarakter  Organisatoris dan Akademis namun tetap Progresif, Militan, dan Revolusiener (OA-PMR)

Mahasiswa yang tergabung didalam grup itu bisa dibilang masih minim dalam wacana. Masih minim dalam membaca. Tapi satu, mereka punya niat dan kemauan merubah. Mereka --mahasiswa  dari golongan akademis, organisatoris, sampai ke-panitiaan-is -- ingin mengkritisi kultur lama yang menjadikan kekeluargaan sebagai tujuan utama. Mereka ingin mengkritik sebuah budaya dimana kesenioritasan tidak dijadikan alat untuk bergerak bersama melawan kesewenang-wenangan, entah itu didalam kampus maupun luar.

KKI bisa dibilang terbentuk karena sebuah kegagalan. Kegagalan wacana, politik, dan selanjutnya pergerakan. Beberapa orang pencetus KKI adalah seorang organisatoris karena pengalaman dan pengamalan. Mereka maju di kursi legislatif dengan modal keberanian belaka.

Tapi itulah yang membuat kita semua sadar. Bahwa keberanian  menjadi utama, tetapi, keberanian itu harus didukung dengan sebuah muatan. Belajar dari kegagalan itu, maka KKI dipastikan menjadi sebuah wadah dalam menampung segala kegelisahan sambil mencoba membangun progresifitas di tubuh FTSP.

Beberapa waktu yang lalu kita bisa melihat bagaimana progresifitas itu mewujud. Pemutaran film dan diskusi mengenai reformasi disaat Pekta, Pemutaran film dan diskusi terkait Munir dalam memperingati sumpah pemuda, pemutaran film dan diskusi Kala Benoa, diskusi di grup line terkait Pembangunan pabrik semen yang mengancam Bumi Pati dan Rembang. Terus tak lupa pula beberapa orang yang pergi ke Semarang untuk mendukung petani Pati dalam pengadilan melawan Pabrik Semen. Kalau tak salah, mereka yang pergi ke Semarang itu adalah Bung Pataks, Bung Dompu, Bung Alfin dan Bung Kibo, yang semuanya anggota KKI.

Tapi, satu yang mesti digarisbawahi, saya sendiri tidak berpikiran ingin membuat KKI layaknya sebuah organisasi dengan struktur dan  mengharuskan open recruitmen dll. KKI menurut saya, harus diposisikan sebagai wadah berdiskusi saja. Implementasi atas diskusi itu silahkan diterapkan dimasing-masing lembaga. Kita juga sudah tahu bahwa anggota KKI, untuk saat ini, adalah mereka yang menjadi pengurus di kelembagaan FTSP dan Universitas.

Semangat perubahan menuju FTSP yang "OA-PMR"  mesti dimulai dari sekarang. Bahwa Kekeluargaan tidak menjadi hal utama, tapi Kekeluargaan adalah suatu cara agar mahasiswa FTSP tak dipandang anarkis belaka, tak dipandang hanya bisa menggerakan massa untuk supporter Bola dan Wisuda, tak dipandang hanya mengurusi Makrab dan tak dipandang layaknya Macan yang tak punya taring.





0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.