Opini, Sastra dan Diary

Kelalaian atau Kewajaran?

Ada seorang manusia yang lalai, yang berbuat sesuatu bukan dengan kemauannya tetapi sekaligus juga berbuat sesuatu atas permintaan hal-hal yang abstrak. "Ketidak-kongkritan" itu menjelma, mewujud, bermanifes menjadi "Ia" yang kekinian dan saat ini sedang "koma" karena sebuah delusi yang tak terputus-putus.

Kadang kala ia mencoba menahan nafsu, tetapi ia juga kemudian melepaskan birahinya. Sesuatu yang bisa dinamakan: Penyesalan yang direkonstruksi dan dibangun diatas ketidakmengertian itu.

Tapi manusia itu kadang digemari. Ia digemari karena perihalnya dalam "komune-nya". Ia dielu-elukan. Bak seorang revolusioner yang berhasil melawan kelaliman raja terdahulu. Ibarat V.I Lenin yang memimpin revolusi kala menggulingkan Tsar.

Ia pun digemari karena antusiasmenya dalam mencatat dan mencoba menembus ketabuan yang ada didalam komunenya itu. Kini manusia itu masih mencari-cari dan merumuskan apa sebenarnya yang ingin dilakukannya kini dan kelak; saat ini dan nanti; nowaday and someday.

Diantara pencarian-pencarian akan kebenaran itu dia hidup dalam sebuah ambiguitas dan seolah-olah menjadi paradoksal jika ia terus saja melakukan hal yang paradoks pula.

Sebuah kelalaian atau kewajaran?


0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.