Opini, Sastra dan Diary

Ini adalah sedikit catatan ringan dan sedikit pendapat pribadi terkait Aksi KM UII Menagih Tahu. 

Beberapa hari belakangan terdengar suatu seruan yang mengajak seluruh mahasiswa untuk bergerak menuntut haknya, transparansi dana pembangunan UII, serta sudah seberapa jauh UII mendistribusikan "pendapatan yang diperoleh dari mahasiswa" untuk membangun pendidikan.

Entah, saya sendiri masih belum tahu asal usul seruan yang disebarkan lewat akun media sosial line Mahasiswa UII tersebut, apakah atas nama sebuah organisasi atau personal. Pasalnya, dibawahnya tertera nama Aldhi Setyawan serta jabatannya yakni Ketua Dewan Permusyawaratan Mahasiswa Universitas.

Yang jelas, amat sangat disayangkan jika seruan yang sudah dikumandangkan belum dikolegialkan terlebih dahulu di internal "dewan-dewan yang terhormat itu". Simpelnya, akan sangat disayangkan ketika Ketua DPM U bermanuver secara individu dan mentasbihkan diri sebagai representasi mahasiswa UII. Ketua DPM UII bukanlah representasi mahasiswa UII maupun KM UII.

Jika dilihat secara ideal, jabatan tidaklah merepresentasikan, melainkan "lembaga"-yang terdiri dari anggota-anggota- itulah yang layak disebut penjelmaan atau representasi dari mahasiswa. Sehingga, akan lebih bijak ketika pengawalan yang dilakukan atas nama mahasiswa tersebut didasari atas keteduhan hati dan dengan membawa serta prinsip-prinsip kebersamaan di tubuh lembaga tersebut serta lembaga-lembaga perwakilan yang ada ditingkat fakultas.

Kekeliruan lainnya adalah aksi tersebut terkesan hanya sebagai sebuah perayaan semata akan suatu momen internasional bernama Hari Hak Untuk Tahu. Memang kadang kala atau malahan kebanyakan aksi-aksi dilakukan sebagai bentuk memperingati suatu momen tertentu. Dan itu sangat sering sekali dilakukan. Seperti hari buruh, hari pendidikan, dan hari-hari selanjutnya. Tetapi hal itu bukanlah tujuan utama. Akan sangat aneh jika semangat student movement "hanya" disesuaikan dengan suatu momen-momen khusus itu. Student Movement mesti lebih dari itu. Student movement mesti bergerak tanpa menunggu momen. Momentum bukanlah hal utama.

Memang, gerakan mahasiswa tidak bisa lepas dari aksi atau demonstrasi. Aksi menunjukan bagaimana mahasiswa bisa mengfungsikan dirinya sebagai kelompok penekan yang menekan pemangku kebijakan, sehingga pemangku kebijakan tersebut bisa terketuk hatinya untuk merasakan berbagai penderitaan. Dan pada akhirnya bisa menyesuaikan kebijakannya.

Tetapi, akan lebih baiknya jika aksi dilakukan atas pembacaan yang betul-betul mendalam.dan dengan usaha-usaha "mencari tahu" yang sekiranya sudah betul-betul dilakukan dari periode-periode sebelumnya sampai periode saat ini. Mengenai hal itu, timbul pertanyaan, apakah usaha-usaha untuk "mengetahui" itu berjalan kontinus tanpa ada suatu rentang kevakuman yang cukup lama? Atau jangan-jangan tidak? Apakah aksi itu berdasarkan "kemarahan" akan periode sebelumnya- dimana BW sangat susah ditemui- dan  kemarahan tersebut diakumulasikan dan kemudian dilampiaskan setelah beberapa bulan lembaga mahasiswa atau DPM U sendiri sempat vakum dalam usaha-usaha untuk "mencari tahu" itu?

Melihat logika seperti itu dan jika itu benar adanya, saya menyimpulkan, tentu tak ada bedanya "KM UII Menagih Tahu"- yang diorkestrakan oleh "Bung" Aldhi Setyawan- dengan seorang remaja hebat-galau-anti-mainstream yang langsung menembak tanpa melalui tahap PDKT yang panjang dan cukup. Atau jangan-jangan orkestrasi ini menerapakan prinsip Ta'aruf?

Benarkah KM UII Menagih Tahu adalah Gambaran Remaja Galau Yang Minim PDKT dan Langsung Main Tembak?

6 komentar:

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.