Opini, Sastra dan Diary

Tentang Pamflet Ernest Mandel (Bagian 2- Habis)

Ernest Mandel (gambar; Ernestmandel.org)

Dalam tulisan saya sebelumya, setidaknya ada beberapa poin penting demi kesuksesan suatu gerakan revolusioner: Kesatuan antara teori dan praktik atau aksi. Dan itu semua harus dibalut dalam satu konsistensi yang utuh. Revolusi tidak akan terjadi dalam satu kali hantaman. Membutuhkan niatan dan memang konsistensi yang kuat. Maka dari pada itu, berbicara teori dan praktik gerakan revolusioner tanpa berbicara organisasi yang mewadahinya sangatlah tidak lucu.

Mandel dalam subbab terakhir tulisannya, membeberkan penting dan perlunya sebuah organisasi revolusioner dibentuk. Organisasi tersebut harus permanen dan sifatnya serius. "Saya  secara  pribadi yakin bahwa  tanpa organisasi yang revolusioner, bukan  suatu  formasi yang  longgar  tapi sebuah organisasi yang  serius  dan permanen sifatnya,  maka kesatuan teori dan praktek tidak  akan bertahan lama," kata Mandel.

Dalam ranah mahasiswa, memang kita bisa menemukan organisasi kemahasiswaan yang sudah lama berdiri. Semisal organisasi intra kampus dan eksternal kampus. Saya rasa organisasi seperti ini sifatnya memang permanen. Karena sudah didukung oleh sejarah dan juga aturan-aturan dasar organisasi tersebut. Organisasi-organisasi mahasiswa itu juga bisa dibilang serius. Kita bisa melihat bagaimana pergantian rezim kepemimpinan di Indonesia tak bisa lepas dari mereka. Teori-teori serta aksi sudah jutaan kali dilakukan. 

Dalam perspektif pergerakan, organisasi-organisasi tersebut cenderung berbeda haluan, tergantung ideologi yang menjadi landasan mereka.Secara dominan, ada yang dari kalangan Nasionalis, Islamis, dan Marxis. Dan dari semua gerakan mahasiswa itu setidaknya mempunyai pandangan tentang bagaimana seharusnya mereka mengontrol pemerintahan dan tetap menyuarakan aspirasi rakyat yang tertindas. Tentunya dengan metode-metode yang berbeda-beda pula. 

Dalam kacamata Marxis sendiri, Mandel, dalam pamfletnya, menyinggung pemimpin-pemimpin partai komunis di Eropa. Pemimpin partai komunis itu agak sedikit sinis dengan gerakan mahasiswa revolusioner. Mengutip pamflet itu, pemimpin-pemimpin partai komunis dengan sinis mengatakan, "Siapa mahasiswa-mahasiswa itu? Hari ini mereka berontak, besok mereka akan menja­di bos yang menindas kita. Kita tidak perlu memperhitungkan aksi-aksi mereka dengan serius."

Mungkin argumen itu ada benarnya, jika ditinjau dari segi sejarah. Dimasa-masa  dimana pendidikan tinggi hanya bisa diakses oleh segelintir orang saja. Mandel mengatakan bahwa, "Apa yang mereka (baca: pemimpin partai komunis) khawatirkan mungkin saja  menjadi kenyataan  jika  jumlah  lulusan itu hanya 10.000,  15.000  atau 20.000 orang dalam satu tahun." Akan tetapi, lanjut Mandel,  "Sekarang ada satu juta, empat juta,  lima  juta mahasiswa, dan tidak  mungkin kebanyakan  dari mereka  akan  menjadi kapitalis atau  manejer  perusahaan karena tidak ada lowongan sebanyak itu untuk mereka.

Argumentasi Mandel itu mengisyaratkan pembelaannya terhadap perlawanan yang dilakukan mahasiswa saat itu. Tapi, jika dikonteksan dengan Indonesia saat ini, saya rasa, argumentasi para pemimpin komunis itu bisa dipertimbangkan dan dianalisa kembali. Saya belum memiliki riset yang mumpuni soal apa yang dilakukan mahasiswa saat lulus dari universitas.Berapa persen yang menjadi kapitalis, berapa persen yang menjadi buruh intelektual dalam perusahaan, berapa persen yang tetap bergerak dalam dunia perkuliahan (menjadi dosen dll), atau berapa persen yang menjadi pengangguran. 

Tapi, saya sendiri berasumsi dengan melihat model pendidikan yang cenderung mengarah ke korporasi, dimana mahasiswa setelah lulus ditargetkan untuk mengisi pos-pos kekosongan tenaga kerja di perusahaan kapitalis, dan dengan keinginan hanya untuk hidup mapan mendapatkan gaji, argumentasi pemimpin komunis itu mungkin akan saya koreksi: Bahwa lulusan-lulusan universitas akan berpikiran layaknya seorang kapitalis, tapi belum tentu ia akan menjadi seorang kapitalis yang tulen.

Argumentasi saya itu sebenarnya didukung juga oleh ungkapan Mandel dalam pamflet tersebut.
Lingkungan  akademis memang  memiliki konsekuensi tertentu terhadap tingkat  kesadaran sosial  dan aktivitas politik seorang mahasiswa. Selama ia  tetap di  universitas, maka lingkungannya mendukung aktivitas  politik. Ketika ia meninggalkan universitas, lingkungan ini tidak ada lagi di sekelilingnya, dan ia makin mudah ditekan oleh  ideologi  dan kepentingan borjuasi atau borjuasi kecil (petty-bourgeoisie). Ada ancaman bahwa ia akan melibatkan dirinya dalam lingkungan  sosial yang  baru  ini, apapun bentuknya.  Ada  kemungkinan  terjadinya proses  mundur ke posisi intelektual reformis atau liberal  kiri yang tidak lagi berhubungan dengan aktivitas revolusioner.

Dalam kacamata pertautan ideologi di eropa kala itu memang menimbulkan pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan atau aktivitas politik mahasiswa. Saya berasumsi bahwa tahun-tahun diterbitkannya pamflet itu, mungkin akan serupa dengan tahun-tahun diberkahinya gerakan mahasiswa di Indonesia, seperti 40'an, 60'an, serta 90'an. Bagaimana dengan kondisi di Indonesia akhir-akhir ini, terkhususnya UII? Saya rasa hanya segelintir mahasiswa saja yang masih ingin berkecimpung dalam aktivitas politik kampus. Sisanya? Sibuk dengan dunia akademiknya. Saya justru kepikiran, bagaimana jika di UII ada ilmu politik? Bagaimanakah mahasiswanya? Apakah apatis juga? Sedikit intermezo saja.

Soal argumentasi Mandel soal lingkungan mempengaruhi aktivitas politik mahasiswa, Mandel sendiri mengambil contoh gerakan kemahasiswaan di jerman. Namanya SDS Jerman. Mandel bercerita dalam pamflet itu bagaimana setelah lulus universitas, mahasiswa-mahasiswa dari SDS Jerman itu terlibat pasif dalam dunia pergerakan. Mengutip kata Mandel, "Kebanyakan  orang-orang  militan ini terlepas dari keinginan mereka untuk tetap teguh dan menjadi aktivis  sosialis,  tidak  aktif lagi dalam  politik  dari  sudut pandang revolusioner."

Maka dari pada itu, Organisasi revolusioner perlu dibuat. Organisasi itu tidak hanya mewadahi mahasiswa saja, tapi ikut juga mewadahi buruh, dan lulusan universitas.  Mandel mengatakan:

 Jadi, untuk memelihara kelanjutan aktivitas revolusioner  ini,  kita harus punya organisasi yang lebih luas jangkauannya  dari organisasi mahasiswa biasa, sebuah  organisasi di mana mahasiswa dan bukan mahasiswa dapat bekerja sama.Dan ada alasan yang lebih penting lagi, di balik kepentingan kita memiliki  satu organisasi partai. Karena  tanpa  organisasi semacam itu, tidak akan dapat dicapai kesatuan aksi dengan  kelas buruh  industri,  dalam pengertian yang  paling  umum sekalipun. Sebagai  Marxis,  saya tetap yakin bahwa tanpa aksi  kelas  buruh tidak  akan mungkin masyarakat borjuis ini ditumbangkan  dan  itu berarti  tidak mungkin juga dibangun masyarakat sosialis.


 Dalam kaca mata Marxis memang seperti itu. Bisa dibilang ada keberpihakan kepada salah satu kelas tertentu. Seperti buruh. Karena memang ideologinya menempatkan buruh sebagai kelas yang paling tertindas. Dan dalam revolusi ala Marxis juga demikian, kaum buruh bersatu dan memimpin kelas-kelas tertindas lainnya untuk menggulingkan kapitalisme. Kalau tidak salah seperti itu.

Bagaimana dengan gerakan mahasiswa berhaluan nasionalis, islamis bahkan organisasi bernama KM UII?

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.