Opini, Sastra dan Diary

Tentang Pamflet Ernest Mandel (Bagian 1)


Ernest Mandel (gambar dari spirit


Sebelum mencari-cari artikel tentang gerakan mahasiswa, beberapa hari sebelumnya  saya sempat berdiskusi dengan kawan saya dari HMI MPO. Ya, berbicara soal gerakan mahasiswa di UII dan HMI itu sendiri. Dari situ saya tertarik untuk mengkaji kembali persoalan gerakan mahasiswa. Saya ingat, ada salah satu media serikat mahasiswa progresif di UI. Namanya Semar UI. Tulisan-tulisannya sangat progresif. Saya kemudian mencari artikel dengan tag mahasiswa. Saat itu saya menemukan satu judul yang menarik. "Demokratisasi Kampus: Tawaran Strategis untuk Gerakan Pengawalan Isu Kampus". Karya itu ditulis oleh Rio Apinino dan D. Ananta. Tulisan itu yang membawa saya kepada pamflet Ernest Mandel berjudul “Gerakan Mahasiswa Revolusioner: Teori dan Praktek”


Ini adalah beberapa poin yang saya anggap penting dalam pamflet yang diambil dari pidato Ernest Mandel dalam acara Majelis Internasional Gerakan Mahasiswa Revolusioner.

Kesatuan antara teori dan aksi
Bahwa revolusi-revolusi yang telah berlalu di daratan eropa tak bisa lepas dari kesatuan antara teori dan praktek dari si motor penggeraknya. Teori disini dimaknai dengan cara bagaimana kita mengetahui realitas sosial yang ada dan mengerti betul kekuatan-kekuatan yang mendorong terjadinya realitas sosial-ekonomi dalam masyarakat itu. “Dengan kata lain, jika ia tidak mengerti kekuatan yang menggerakkan evolusi sosial, ia tidak akan sanggup mengubah evolusi itu menjadi sebuah revolusi. Ini adalah konsepsi utama yang diberikan Marxisme kepada gerakan mahasiswa revolusioner di Eropa,” kata Mandel. Sedangkan aksi adalah cara bagaimana kondisi kekuatan sosial tersebut akan diubah.

Saya sendiri, diluar pemikiran Mandel tersebut, memaknai bahwa teori dan praktek ibaratnya perkataan dan perbuatan. Sudah semestinya antara perkataan dan perbuatan sama. Orang yang hanya ngomong tok, tanpa melaksanakan apa yang dikatakan itu, tak lebih dari pada wacana tok. No action talk only. Begitu juga dengan teori, banyak intelektual yang hanya berkutat dengan teori tanpa melaksanakan prakteknya.

Dalam kancah pergerakan revolusioner sendiri, hal tersebut dianggap kemudian dianggap Mandel sebagai kecatatan. Dan salah kaprah. Dalam organisasi revolusioner, seharusnya tidak ada yang namanya pembagian kerja antara kerja intelektual dan kerja kasar. Simpelnya begini, orang yang kerja intelektual ada dibelakang layar dan hanya sibuk-sibuknya mengatur strategi, menulis teori, menulis pamflet propaganda dll. Sedangkan orang yang kerja kasar adalah orang yang ikut bergabung dalam barisan aksi. Mandel sangat garang dengan pemisahan-pemisahan kerja seperti itu. Begini Mandel menjelaskan.
Saya katakan bahwa setiap pernyataan yang menyebut adanya pemisahan kerja manual dan kerja pikiran di dalam gerakan revolusioner, yang memisahkan barisan aksi yang kerja kasar dan elit yang kerja pikiran, secara mendasar bukan pernyataan sosialis. Pernyataan itu bertentangan dengan salah satu tujuan utama dari gerakan sosialis, yang ingin mencapai penghapusan pemisahan kerja manual dan intelektual bukan hanya dalam organisasi tapi, lebih penting lagi, dalam masyarakat secara keseluruhan.

Maka daripada itu, menurut saya, adanya kesatuan dan aksi harus melekat dalam masing-masing orang yang ada dalam pergerakan revolusioner. Saya sepakat dengan pernyataan Mandel tersebut.

Lantas, Mandel lebih jauh mengutarakan perihal teori dan aksi. Ia mengatakan bahwa kadang kala teori ada didepan aksi. Maksudnya, teori bisa kita temukan setelah kita beraksi. Dan, kadang kala juga aksi tampil didepan teori. “Setiap bentuk teori yang tidak diuji melalui aksi bukan teori yang sahih, dan dengan sendirinya menjadi teori yang tidak berguna dari sudut pandang pembebasan manusia.”

Yang menarik lagi, ketika membaca Mandel tersebut, konteks gerakan mahasiswa di sana muncul akibat adanya bentuk-bentuk pendidikan yang tidak diharapkan. Dimana pendidikan, dalam bidang sosial terutamanya, seolah-olah jauh dari realitas sosial yang ada. “Pelajaran yang mereka peroleh tidak memberikan analisis ilmiah yang obyektif tentang apa yang sedang terjadi di dunia atau negara-negara Barat lainnya. Tantangan terhadap wewenang akademis dari lembaga inilah yang kemudian cepat bergeser menjadi tantangan terhadap isi pendidikannya,” kata Mandel.

Dan, dari situ pula gerakan menyasar ke pada ranah-ranah teknis perkuliahan seperti ruang kelas yang penuh dengan ribuan mahasiswa, dosen yang hanya berceramah selama berjam-jam. Tidak ada terjadinya dialog. Tapi, lanjut Mandel, meskipun hal-hal itu sudah dibenahi, “Perlu aku tekankan bahwa dorongan utama untuk melakukan pemberontakan akan tetap ada.” Hal itu disebabkan, menurut Mandel, karena sturuktur otoriter dari universitas dan substansi yang sangat lemah dari pendidikan, paling tidak dalam bidang ilmu sosial, lebih menjadi penyebab ketimbang kondisi material di atas.

Mandel kemudian lebih lanjut memaparkan tentang keterasingan mahasiswa. Hal itu disebabkan karena dalam kerangka universitas borjuis, fungsi universitas tersebut di- subordinatkan tepat dibawah kebutuhan ekonomi neo-kapitalis. “Hal ini akan menggerakkan keterasingan mahasiswa yang makin besar,” kata Mandel.

Apa yang terjadi di Indonesia saya kira persis dengan hal itu. Kita bisa melihat sekarang bahwa universitas dituntut untuk memenuhi kebutuhan pasar. Universitas yang tidak memiliki jurusan-jurusan yang tidak sesuai dengan keinginan pasar, akan tersingkir. Bahkan dibeberapa universitas, jurusan-jurusan yang tidak seusai tersebut dihapuskan. Itu semua karena tidak menghasilkan profit.

Dalam arus masyarakat kapitalis dan universitas yang ikut menjadi kapitalis juga, menurut Mandel, perlu adanya propaganda mahasiswa seperti “student power”. Namun, slogan-slogan dan propaganda itu, menurut Mandel:
Tidak akan mengubah akar-akar alienasi mahasiswa karena mereka tidak terletak di dalam universitas itu sendiri, melainkan dalam masyarakat secara keseluruhan. Dan kita tidak akan sanggup mengubah sebuah sektor kecil dalam masyarakat borjuis, dalam hal ini universitas borjuis, dan berpikir bahwa masalah sosial dapat diatasi di segmen tertentu tanpa mengubah masalah sosial dalam masyarakat sebagai keseluruhan.Selama kapitalisme masih ada, maka terus akan ada kerja yang terasing, baik itu kerja manual maupun kerja intelektual. Dan karena itu tetap akan ada mahasiswa yang terasing, seperti apapun aksi-aksi kita menghantam kemapanan dalam lingkup universitas.
Maka dari itu, perlu dibentuk organisasi revolusioner. Hal ini akan coba saya paparkan ditulisan berikutnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.