Opini, Sastra dan Diary

gambar: bekas.com


Note: Catatan ini terinspirasi dari kegelisahan kawan-kawan saya dalam grup chatting Whatsup Geram Merah tentang ketidakdilan dalam dunia usaha Indekost.

Kita nyatanya, apalagi mahasiswa, sering berdiskusi dengan teman-teman kita tentang kost. Paling kalau baru kenalan, setelah bertanya nama dan asal, langsung tanya, "Oi bro, kost-an mu dimana eee?"

Setelah itu si penanya bertanya berapa harga kost-an perbulan atau pertahunnya. Pembicaraan kemudian mengarah ke segala tetek bengek kost-an itu. Mulai dari ada jam malam atau tidak, apa uang kost sudah sekaligus dengan uang listrik dan air, fasilitasnya apa saja, kamarnya ada berapa, ada "spooki-nya" atau tidak, . Dan terakhir, kalau memang kita suka dengan kost-an kawan kita ini, pasti kita langung bertannya, "Eh coy, ada yang kosong enggak?"Selanjutnya, kita menjadi sedikit lebih akrab dengan kawan yang baru kita kenal itu.

Perbincangan kost-an tersebut memang terkesan remeh temeh. Sudah terlalu, meminjam istilah anak muda jaman sekarang, "mainstream". Lantas, bagaimanakah perbincangan kost-kost-an yang anti-mainstream?

Perbincangan kost-an yang anti-mainstream baru saya temukan ketika bergabung dengan sebuah grup/komunitas/gerakan mahasiswa di UII. Ya, grup itu memang masih kecil. Hanya beberapa orang saja, dan kebanyakan yang isi adalah anak Himmah. Grup itu semacam grup berdiskusi ria tentang hal-hal yang ringan, setengah ringan setengah berat, sampai yang agak berat juga.

Komunitas /gerakan tersebut memiliki semacam grup chating WA. Ya biasalah, di jaman sekarang yang serba canggih dan diantara kegagapan kita semua tentang pola komunikasi saat ini, niat menjalin komunikasi dan bergaul justru tambah syip. Apalagi bagi kalangan aktivis persma. Hasrat untuk berdiskusi dan berpendapat sekaligus mengajukan tesis-tesis sekaligus antitesa dan sintesa terkait persoalan kekinian layaknya kemarau di musim sore. (eh istilah apa lagi ini). Maaf, maksud saya, layaknya hasrat para pejuang bangsa yang ingin membebaskan Hindia Belanda dari terkaman penjajah. Ah, apa pula ini?

Yang jelas begini, kembali ke persoalan "indekost" dan "indehoy"  tadi, kawan saya di grup chat itu mengeluh akan harga kost yang melambung tinggi bagaikan "cintaku-kepadamu-Manisku". Berbagai pertanyaan diajukan, "Ada apa dengan kostan ini, kok naiknya gak masuk diakal?".

"Mengapa?"

Setelah itu, kawan saya yang lainnya menawarkan solusi: Membuat gerakan kost, kalau tidak salah, berbasis koperasi.

Ya, soal itu, akan selalu ada progresifitas dan idealisme apapun jika berdiskusi dengan kawan-kawan aktivis. Saya sudah sangat mengerti tentang kawan-kawan aktivis yang berang terhadap kapitalisme dan apa-apa saja yang bersifat represif kepada kita.

Bisa dibilang, soal kostan melambung tinggi itu, ada semacam daya kritis yang kemudian memantik kita semua -dalam grup itu- untuk berbicara dari akar persoalan sampai tawaran solusi atau metode gerakan. Saya melihat diskusi yang anti-mainstream soal kos itu mulai mewujud. Makanya dalam tulisan kali ini saya akan sedikit berkomentar soal kost-kost an itu.

Begini kawan-kawanku yang tercinta, pertama-tama saya ingin mengucapkan "Salam Revolusioner" bagi kita semua.

Dizaman masyarakat kapitalis saat ini, modal layaknya Tuhan baru. Tanpa modal kita tak bisa hidup. Tentu dalam hal ini modalnya adalah uang. Entah itu fresh money atau alat produksi seperti tanah dll. Dari usaha kelas kakap sampai kelas menengah kebawah, akumulasi kapital (modal) haruslah tercipta. Agar apa? Agar kita hidup sentosa dan damai. Mana ada orang yang berusaha mau impas? Tentu harus ada keuntungan yang terus diakumulasi.

Logika tersebut sudah pasti juga berjalan di usaha Kost atau indekost, atau kost-kostan indehoy  (ho ho ho). Dimana, modus usaha tersebut ya untuk mencari keuntungan. Maka tak usah diprediksi lagi kalau dalam waktu tertentu harga semakin melambung tinggi "bagaikan diriku yang akan terbang-melayang jika kau membalas pesanku, Cantikku"

Sebenarnya yang menjadi persoalan adalah parameter apa yang digunakan untuk menentukan tarif/harga kostan seperti itu? Dasarnya apa sich?

Kalau saya melihatnya ada berbagai macam faktor. Jika kita konteksan kost-an dalam terma pasar secara umum, maka, kostan (berupa sebuah kamar dan fasilitas yang disediakan) adalah sebuah produksi dari produsen (pengusaha kost). Sudah sangat jelas produsen menawarkan kostnya. Sedangkan kita adalah konsumen atau pengguna barang itu. Faktor-faktornya, sejauh yang saya ketahui, adalah tempat. Tempatnya strategis, maka harganya cenderung tinggi. Terus, fasilitasnya, harga produksi satu kamar kost tersebut, tingkat percepatan balik modal si produsen dll. Dari segi konsumen, mungkin lebih mengarah ke latar belakang konsumen itu. Kelas menengah keatas jelas akan dimanfaatkan oleh sang produsen. Apalagi kostan sudah menjadi kebutuhan mahasiswa.

 Pada konteks ini, apakah hukum jual beli ekonomi masih berlaku? Seperti permintaan dan penawaran? Jual dan beli?. Dalam konteks jual beli, saya juga masih bingung, soalnya ihwal kost, kita kan menyewanya, bukan membeli. Mungkin kawan-kawan ekonomi bisa (ehem, ekonomi) membantu saya soal hal ini. Nah, apakah bijak jika kita menempatkan proses sewa menyewa itu, meskipun berhubungan dengan persoalan ekonomi, sebagai salah satu proses dalam mekanisme pasar?

Pasalnya begini, kawan saya yang lain mengatakan, bahwa kita perlu mengintervensi pasar kostan tersebut  untuk melawan mekanisme pasar (lebih condong ke harga kostan mahal). Dalam hal ini, saya masih menggunakan terma umum bahwa pasar adalah kegiatan transaksi dan jual beli. Yang saya bingungkan, apa sewa termasuk kedalam kegiatan membeli?

Saya sih cenderung mengamini intervensi pasar tersebut, sebelumnya. Dimana, kita kita bisa mengganggu antara konsumen atau si produsen, dalam hal mengatasi antagonisme serta dominasi kelas pemodal tersebut.

Bisa saja, dengan jalan diplomasi, lobi-lobi dengan sang produsen. Tapi, saya rasa, kawan-kawan aktivis yang mempunyai semangat revolusioner tidak akan mau melobi, dan cenderung akan keluar dari kostan itu. Tapi kawan, saya masih meyakini bahwa dengan kita lari dari kostan itu (keluar) dan cenderung cari kontrakan (salah satu tawaran solusi mengatasi dominasi pemilik kostan yang rakus), tetap saja akan ada manusia-manusia lain yang tidak mendapatkan keadilan dan akan terbelenggu dalam permainan/modus usaha sang pemilik modal. Apalagi mekanismenya sewa yang cuma mempunyai hak guna/pakai, bukan hak milik.

Maka dariapada itu, kawan-kawan Geramers, kita perlu melakukan tinjauan kritis akan itu. Kita perlu, setidaknya, mengkaji segala istilah yang kita rapal, agar sesuai dengan kenyataan objektif dan ilmu pengetahuan. Tapi, tawaran solusi untuk memaksa KM UII untuk kembali memaksa rektor membuat asrama mahasiswa, saya rasa akan sama saja. Paling, dalam biaya perkuliahan, sudah ditambahkan anggaran menginap beberapa bulan bahkan tahun. Yang, lagi dan lagi, kita justru sulit untuk mengetahui transparansinya.




0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.