Opini, Sastra dan Diary

Lama Nian

Ah, lama nian tak kusentuh blog ini. Terasa rindu yang sangat dalam tuk mencurahkan isi hati ini. Saat ini memang tak ada tempat untuk menampung segala keluh kesah hati. Tak ada. Hanya inilah wadahnya.

Kalau curahan hati ini ada yang menanggapi, ya syukurlah. Kalau tidak ada pun tak masalah. Aku tak terlalu mempersoalkan itu.

Momen ospek memang yang menyebabkan absennya diriku beberapa hari ini dalam menulis catatan harian. Deadline bertubi-tubi, keinginan untuk mengangkat isu A B sampai C, dan belum lagi persoalan hati dan akal yang terus berkecamuk dalam diri ini.

Belum lagi selesai persoalan bijak sejak dalam pikiran, persoalan baru kian muncul. Sebenarnya tidak tepat juga disebut persoalan, mungkin lebih enaknya tanggung jawab atau tugas.

Padahal, ingin rasanya bermeditasi. Sendiri memikirkan persoalan bijak sejak dalam pikiran itu. Tapi, apa daya, perkataan yang sering kulontarkan terkait, "Dahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi," terus menghantuiku. Seolah-olah malu sendiri jika persoalan bertapa itu didahulukan.

Apa perlu bervakansi?

Ah, kemana juga harus berliburan.

Hari ini aku menyempatkan diri untuk hadir dalam aksi solidaritas untuk petani urutsewu kebumen. Acaranya lumayan mengena. Banyak aktivis yang datang. Mungkin cuma aku sendiri yang aktivis abal-abal. Sok-sok an mengikuti dunia aktivisme. Padahal, aku belum bisa adil sejak dalam pikiran.

Bukannya semangat, tetapi dari mulai acara sampai selesai, aku justru tak begitu semangat. Meskipun berbagai orasi yang membakar dan puisi-puisi yang menghentak batin, aku juga biasa saja.

Ada yang aneh dengan diriku. Tak seperti hari-hari yang lalu. Tak seperti aksi-aksi yang sebelumnya ku hadiri. DImana saat itu api semangat muncul. Tapi kali ini kok berbeda?

 Apa aku merasa tak pantas berada di acara tersebut, melihat banyak aktivis yang tidak abal-abal? Atau aku sudah pesimis dengan bangsa ini? Apa aktivisnya kurang untuk menghantam penguasa? Atau kurang kompak?

Salah seorang budayawan mengatakan bahwa tanah itu seharusnya tak hanya dimonopoli satu kelompok saja. Ia mengkritik pihak TNI yang merampas tanah para petani di urutsewu kebumen. Tapi, bukankah sejak dari dulu tanah itu dimonopoli? Dimonopoli para petani daerah itu, sejak turun-temurun?

Lantas bagaimana yang dinamakan keadilan? Bagaimana orang lain yang bahkan tidak mempunyai tanah?

Aku bingung


0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.