Opini, Sastra dan Diary

Entah Mengapa

Badanku hari ini tidak enak. Entah, mungkin mau sakit. Kondisi diluar sana aku tak tahu. Bagaimana bentuk bulan malam-malam yang lalu dan malam ini? Bagaimana panas matahari hari-hari yang lalu dan hari ini? Aku tak tahu. Aku terkungkung dalam ruang ini. Kalau kata anak muda jaman sekarang, "MaGer"- Malas Gerak.

Entah mengapa.

Tadi aku baru saja menyelesaikan tulisan resensi buku Tan Malaka. Ah, sungguh pekerjaan yang menguras akal dan tenaga. Tulisan itu rencana mau dimuat di buletin Landscape edisi khusus Pekan Ta'aruf (Semacam Ospek Fakultas). Menggarap resensi itu sebenarnya bisa selesai hari jumat, cuma aku selalu menunda-nundanya. Cukup malas, memang.

Beberapa hari yang lalu, aku selalu begadang. Kadang, aku ingin ada orang yang bertanya kepadaku, seperti Ibu Gie yang bertanya ke Gie, "Aku heran, kenapa kamu mau melakukan semua ini."

Tapi, apa daya. Tak ada orang yang peduli. Mungkin dunia perlahan mulai membenamkanku kedalam tanah. Membuatku seolah ada, tapi sekaligus tidak ada. Sebuah paradoks yang aneh dan menjijikan.

Aku juga akhir-akhir ini terkadang merasa begitu romantik. Bukan dalam asmara. Bukan soal cinta kepada seorang wanita. Tapi merasa romantik yang lebih cenderung ke arah melankolis. Gembira dalam kemuraman. Suka cita dalam kesedihan.

Berbagai perasaan berkecamuk dalam diri. Tanda seorang yang gusar akan jalannya. Masih ragu menandakan tapal batas. Enggan berpikir tentang masa depan. Dalihku, "Ah, jalani saja, tak usah terlalu memikirkan."




0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.