Opini, Sastra dan Diary

Tentang Pengagum Rahasia

(gambar: Santrihitamputih.blogspot)

(Catatan: Untuk seseorang yang mengagumiku secara "rahasia" maupun tidak rahasia)

Apakah memang benar-benar ada yang namanya pengagum rahasia? Atau, jangan-jangan, pengagum rahasia justru hanyalah sisa-sisa ketenaran yang sebelumnya telah dihantam gejolak prahara-sehingga mengakibatkan sangyang dikagumi perlahan, lambat tapi pasti, masuk kedalam jurang kesendirian-dan membuat ilusi tentang orang yang mengaguminya?

Atau yang lebih parah lagi, diluar subjek pengagum rahasia itu, mungkinkah justru sang objeklah yang terlalu merasa pongah akan segala hal ketenaran yang mungkin saja hanyalah sebuah ilusi. Sebuah delusi akan dunia indah, dimana berbagai macam bunga, surat cinta, anggur, puisi, didapatkan oleh sang yang dikagumi tersebut tanpa susah payah. Seakan-akan ketenaran dan kekuatan yang didapatkannya sudah garis Tuhan dan yang dikerjakannya hanyalah mengurusi kuda putihnya, bagaikan prince yang bisa kita dapatkan di daratan Eropa.

Tapi, sebenarnya, jika diluar konteks "puitisasi" atas pengagum rahasia tersebut, apa sebenarnya yang menjadi dasar seseorang kagum kepada orang lain dengan cara "rahasia" ? Atau gampangnya, kenapa harus rahasia?

Di jagat ini, seperti yang sudah kita ketahui, pengagum rahasia justru direpresentasikan oleh film-film asmara, karya-karya sastra yang dibuat oleh sastrawan penyembah anggun dan rembulan, dan kisah-kisah yang sebenarnya biasa saja, kemudian terlalu diromantisir-sehingga menjadi sebuah melodrama.

Hegemoni itu membentuk kita, sehingga hanya ada satu tafsir tentang pengagum rahasia: Ia, lelaki atau perempuan, yang cintanya tak bisa disampaikan secara langsung, dan kemudian sampai maut memisahkan jiwa dan raga rasa cintanya tak kunjung tersampaikan.

Dari tafsir itu, seakan-akan ada sebuah hasrat yang memendam untuk menyampaikan rasa kepada objek. Ada sebuah laku "kucing-kucingan" dengan sangyang dikagumi. Ada romansa asmara sekaligus kabut hitam yang menghiasi sang pengagum. Namun, pertanyaan mengapa "rahasia" masih terus menimbulkan kebingungan. Apakah sang pengagum tersebut sengaja-karena ia hanya ingin melihat seseorang tersebut dari kejauhan-atau ada hal diluar itu yang memaksanya untuk sekedar mengatakan, "Hai, aku cinta kamu!" ?

Tak ada yang pasti dan tuntas-purna tentang hal itu.

Namun, pengagum rahasia tetaplah menjadi rahasia jika ia merahasiakan kekagumannya. Tak ada namanya pengagum rahasia yang mewujudkan jati dirinya dihadapan sangyang dikagumi. Kita bisa memaknai bahwa pengagum rahasia merupakan sesosok manusia yang soliter. Dalam kesendirian dan kejauhan, diam-diam ia mengagumi seseorang.

 Lantas, nilai apa yang harus diberikan kepada "sang pengagum rahasia" yang justru tidak merahasiakan dan membabi buta mengatakan kepada kita, "Akulah pengagum rahasiamu!". Atau, dengan sengaja (hanya sekedar basa-basi) mengungkapkan, "Aku dulu pengagum rahasiamu!". Perusak adegan romantis?

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.