Opini, Sastra dan Diary

Tentang Catatan Harian


gambar: Tommykovac.blogspot

Praktis, setelah balik ke Jogja, aku tidak melakukan apa-apa selain memandangi laptop. Entah itu Youtube-an, baca berita, kepo di medsos, nonton film, mengutak-atik laptop (karena aku sekarang telah meninggalkan OS Windows dan beralih ke Ubuntu) dan yang terakhir: Menulis.

Selain didepan laptop, aku sekali-kali membaca buku yang telah aku beli waktu di Semarang kemarin. Ya, tentang Tan Malaka. Hari ini aku membaca dua bab saja dan berencana untuk menuliskannya di blog. Tapi nantilah. Aku masih ingin belajar bagaimana menulis suatu catatan harian yang baik.

Dari beberapa pengalaman yang aku dapatkan, entah melalui tv, film, dll, orang-orang kebanyakan menulis catatannya sebelum beranjak tidur. Itu agar ia bisa merangkum kegiatan apa saja yang dilakukan mulai dia bangun tidur tadi sampai sebelum tidur.

Ah, aku sih tidak memilih cara seperti itu. Kapan punya mood menulis, ya menulis. Namun kekurangannya adalah kita tidak bisa mengabadikan kejadian-kejadian apa yang telah kita lakukan. Simpelnya, ada keterputusan cerita dari hari-hari yang kita telah lakukan.

Sebenarnya aku sudah mempunyai catatan harian. Namun tidak terlalu sering aku menulis "dear diary" itu. Coba kalau tiap hari aku bisa menulis dear diary, pasti kelak akan menarik bukan? Orang-orang dan keluargaku bisa mengetahui diriku melalui tulisan itu. Dan, setidaknya aku sudah bisa memberikan sesuatu di masa depan nantinya.

Kan menarik, jika aku bisa membaca kembali. Ya, sekedar bernostalgia tentang hari-hari yang telah kulalui. Namun, itu semua terasa sulit. Paling tidak, aku berencana untuk menulis "diary" dalam rentang waktu seminggu sekali. Mungkin di hari minggu. Agar aku bisa sedikit panjang menceritakan hari-hari yang telah kulalui dalam minggu itu. Kemana saja aku pergi, dengan siapa, melakukan apa. Tapi, pasti ada sedikit kecacatan. Dalam kurun satu hari saja orang bisa melupakan apa yang telah dia lakukan, apalagi dalam seminggu.

Tapi, paling tidak, aku akan menulis sebisaku dan coba merangkum kejadian-kejadian penting  yang menimpaku. Soalnya, aku perlu--selain menulis diary--menulis sastra, opini, dan mengomentari isu-isu yang sedang marak terjadi. Soal menceritakan apa yang telah habis kubaca, mungkin lebih enak dijadikan resensi buku (walaupun aku jarang sih me-resensi buku, karena tidak ada buku yang habis kubaca, haha)

Soal sastra, aku punya ambisi untuk mencetak sajak-sajak puisi yang telah aku buat. Makanya, menulis puisi sangat penting bagiku. Puisinya bebas saja. Yang penting aku bisa menulis semauku. Tanpa ada kekangan. Menulis tanpa dipaksa itu, aku bisa bilang, akan menjadikan tulisan itu lebih baik.

Aku bisa melihat itu ketika mengetahui banyak aktivis yang menulis di penjara. Seperti Pram, Gramsci, Tan Malaka dan beberapa Founding people kita. Mereka, dalam suasana di pengasingan, tetap saja menulis. Menulis dan menulis. Entah itu terkait propaganda ataupun sekedar catatan harian.

Soal ini, aku benar-benar terinspasi Hatta. Aku punya otobiografi karangannya. Aku juga terinspirasi oleh Gie. Luar biasa ia menginspirasiku dalam menulis dan membaca. Ya, aku memang mengakui, tulisanku tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka semua. "Apalah awak ini, ya kan?," kata anak FTSP. Tetapi aku ingat satu pesan penting yang dituangkan Pram kedalam novel romannya. Pesan-pesan itu membuatku termotivasi dalam hal tulisan. Tulisan apapun. Aku lupa novel yang mana yang memuat pesan itu. Paling tidak salah satu dari tetralogi buruhnya. Kalau tidak salah begini pesannya.

"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari"

Itu pernyataan Mama kepada Minke. Mama sungguh menyayangi Minke, karena dia: Menulis!

Ada juga pesannya, "Menulis adalah sebuah keberanian..."

Ah, sungguh kata-kata yang luar biasa super. Tak mungkin lah selevel dengan Mario Teguh.

Ya, benar kata Pram bahwa menulis adalah sebuah keberanian. Di zaman edan ini, orang-orang sudah terlalu terpukau dengan gawai mereka masing-masing. Terlalu terlena oleh modernitas. Paling-paling mengabadikan momennya dengan cara selfie. Bukan menulis. Watak pragmatisme sudah semakin akut. Padahal, dari SD kita sudah diajarkan menulis dan pentingnya menulis catatan harian.

Budaya menulis kita masih minim. Soalnya jaman juga sudah berubah. Kalau dulu memang karena media hanya cuma tulisan, ya sudah orang-orang ramai menulis. Ataukah karena itu bagian dari pekerjaannya ya? Seperti wartawan atau sastrawan atau seorang revolusioner?

Ah, mungkin saja. Aku tidak memiliki data-data soal kenapa orang dulu ramai menulis. Hipotesaku tersebut juga bisa salah. Ah, sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Tapi, aku membayangkan, mungkinkah suatu hari nanti tidak ada tulisan? Mungkinkah ada dunia tanpa tulisan?
 

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.