Opini, Sastra dan Diary

Penilaian Atas Kenyataan


(gambar dari devianart)

Baru saja aku mendapatkan ilham agar tidak responsif dalam suatu isu tertentu. Responsif yang kumaksudkan adalah tanpa pertimbangan panjang. Tanpa menggali lebih dalam. Tanpa membaca dan mencari lebih banyak informasi. 

Akhirnya, yang ada hanya laku responsif seperti halnya ditunggangi media. Media apa pun. Entah itu dari berita online, status ahli dan pengamat di facebook. Pun, status atau segala macam pendapat aktivis tentang suatu persoalan.

Daya skeptis tak pernah muncul. Daya untuk meragukan apa yang diucapkan maupun ditulis orang ramai masih kurang.

Lantas, orang sepertiku ini sangat mudah dimanfaatkan. Sangat mudah ditunggangi. Sangat mudah "dibentuk".

Sama seperti isu KPK sebelumnya. Pun isu Papua yang hanya aku dapatkan dari salah satu seminar yang diadakan sebuah lembaga sosial. Tak perlu lama-lama, semuanya langsung kutulis. Tanpa mengecek lagi. Bolehlah kalau itu hanya semacam rekonstruksi peristiwa. Tapi, ada opini yang masuk kedalam tulisan itu.

Ada opini lain yang masuk. Opiniku belum berdiri sendiri. Singkatnya, sebagian opini tersebut merupakan opini dari sang pembicara (dalam kasus Papua). 

Kekuranganku adalah belum bisa membaca dan menganalisa apa yang seharusnya aku yakini. Intinya adalah kebenaran apa yang seharusnya aku pilih?

Kemampuanku dalam membedah kenyataan belum mampu untuk memberikan nilai terhadap kenyataan itu. Yang jelas, nilai itu seharusnya berujung kepada kebijaksanaan. Entah moral atau etika atau logika.

Lantas, bagaimanakah memberikan sebuah "nilai" pada realitas itu? Apa usaha yang harus dilakukan? Dan bagaimana konklusi itu muncul?

Akupun masih bertanya-tanya. Atau, jangan-jangan, akulah yang belum mengerti apa itu kenyataan? Apa itu realitas dan apa itu nilai?

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.