Opini, Sastra dan Diary

Karena Menulis Bukanlah Monopoli Disiplin Ilmu Tertentu Saja



Saya selalu salut ketika seorang alumni teknik, khususnya teknik sipil, tetap terus kritis melihat problema zaman.Apalagi, jika muatan kritik-membangun tersebut diangkat melalui tulisan, bahkan buku. Saya sempat merasa bahwa seorang alumnus dari rumpun teknik, apalagi teknik sipil, akan selalu bertemu dan berkutat dengan proyek, hitungan, gambar, mandor, tukang dan hal-hal yang sudah pernah ditemui dibangku kuliah.

Saya juga sempat berpikir bahwa kontribusi alumnus teknik sipil bagi indonesia hanyalah sebagai engineer, konsultan perencana, pelajsana, pengawas dalam proyek-proyek infrastruktur pemerintah dll.

Soalnya, dosen-dosen saya selalu mengatakan hal-hal seperti itu, "kamu harus belajar maksimal agar di dunia kerja bisa ada daya tawar". Dan, kerja-kerja yang selalu disebutkan dosen-dosen itu adalah apa yang saya sebutkan di awal. Saya belum pernah mendapatkan dosen saya bercerita tentang pentingnya menjadi orang yang kritis terhadap persoalan bangsa dan pentingnya membuat karya semacam OPINI di media massa atau BUKU. Pemikiran jahiliah itu kemudian mulai menghilang setelah saya berjumpa dan berdiskusi dgn alumni pers mahasiswa Solid dan Himmah Uii, mas IB Ilham Malik.

Beliau pernah mengatakan bahwa "makanannya" seorang intelektual (apalagi mahasiswa yang katanya kaum intelektual) itu adalah MEMBACA, BERDISKUSI, dan MENULIS. Saya justru tidak pernah menemukan seorang dosen berkata seperti itu. Paling ya cuma baca dan buat kelompok untuk berdiskusi untuk kerja tugas bareng. Tapi tidak untuk Menulis!

Sempat dulu saya ditanya oleh dosen, "Mas, kamu nanti mau kerja apa?", saya menjawab, "Saya mau jadi peneliti pak" (karena menjadi peneliti saya rasa akan membuat saya akan terus kritis dan tetap menulis, paling ya kerja di Pusat studi atawa LSM yang entah sesuai atau tidak dengan disiplin ilmu saya).

Lantas dosen tersebut menjawab, "Ah, apa itu mas, anda jangan mengada-ada, coba cari yang lebih bonafit seperti kontraktor atau konsultan,"

Terus saya jawab, "Bagi saya itu pekerjaan pak", terus dosennya jawab, "Anda ini memang aneh"

Saya kemudian menyadari bahwa dosen ini pandangannya sempit. Dan memang saya yang beda sendiri ketika menjawab pertanyaan tersebut. Teman-teman saya yang lain menjawabnya dengan hal-hal yang cukup menyenangkan bagi dosennya seperti: Menjadi kontraktor, masuk di perusahaan BUMN seperti Adhikarya, menjadi Konsultan perencana proyek bangunan dll.

Apa yang menjadi cita-cita teman saya di kelas tsb tidak menjadi masalah. Tetapi hal itu menjadi masalah jika cita-cita itu membuat kita menjadi tidak kritis dan tidak peduli akan konteks sosial masyarakat. Sehingga, pada akhirnya alumnus teknik sipil menjadi apolitis.

Saya rasa membuat karya melalui tulisan seperti opini dan buku bukanlah monopoli disiplin ilmu tertentu saja. Setiap orang sangat berhak untuk berkarya dan kritis terhadap realitas sosial yang ada.


0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.