Opini, Sastra dan Diary


Pertama-tama, izinkanlah saya untuk mengucapkan Mohon Maaf Lahir Batin. Sembari mendengar lagu Utha Likumahuwa yang judulnya Tersiksa Lagi, saya hanya ingin menuliskan beberapa gagasan, pemikiran, yang dari tadi berkeliaran di otakku. Oke, tak usah berlama-lama.

Apa yang hendak saya tulis disini adalah sedikit inti yang kudapatkan dari Khotbah shalat Id di masjid di Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah. Seperti biasa khotbah-khotbah shalat Id, kita pastinya mendapatkan beberapa selembaran isi khotbah tersebut. Khotnah ini disampaikan oleh Anis Malik Thoha, seorang master agama dan juga doktor filosofi. Judunya adalah "Idul Fitri Momentum Mengenal Diri".

Bahwa Idul Fitri adalah suatu momentum yang sangat pas untuk berelaksasi, rekreasi, melepas kepenatan dan juga mengenal diri, begitu pendapatnya. Selanjutanya, Khatib mempertanyakan suatu pertanyaan yang sekiranya filosofis menurut saya, "Apa gerangan yang terjadi pada ummat manusia, alam semesta di depan mata kita, di sekeliling kita?".

Pertanyaan tersebut setidaknya membuatku terdiam sejenak (lalu langsung khusyuk bak kerasukan malaikat dalam mendengar sampai habis ceramahnya). Setidaknya, ia mengungkapkan bahwa yang terjadi justru dalam ummat manusia ini justru perilaku-perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang berketuhanan Yang Maha Esa.

Sungguh suatu kalimat atau pernyataan yang betul-betul memantik. Ia kemudian melanjutkan bahwasanya praktik-praktik penodaan, penistaan, perampasan, pengingkaran dan pencabulan hak-hak Tuhan dan hak-hak manusia, semakin hari semakin menjadi.

Dan, yang sangat memprihatinkan, praktik-praktik tersebut, lanjut dia, justru dilakukan oleh sesama manusia, terlebih khususnya sesama pemeluk agama Islam sendiri. Gambaran yang brutal tentang kehidupan ini kemudian mulai terpanggil dari memori paling dalam ku. Bahwa, justru manusialah yang memporak-porandakan sendiri kehidupan manusia tersebut.

Khatib melanjutkan, manusia-manusia yang melakukan praktik-praktik tersebut sejatinya hanya untuk memperkaya diri sendiri, kelompok atau golongan. Pun, hanya untuk mendapatkan keuntungan sesaat yang bersifat duniawi dan materiil. (saya kemudian berpikir sejenak, Uztad ini Kiri kah?)

Namun, kegelisahanku itu terjawab setelah ia mengatakan, "Jutaan jiwa teralienasi hak-haknya untuk hidup secara layak, bermanfaat dan terhormat". Teralienasi? sungguh penggunaan kata yang cermat. Saya lantas semakin meyakini bahwa Uztad ini adalah jelmaan Haji Merah: Misbach. Kata alienasi menurut saya, memang kurang begitu familiar secara umum. Bahasa soal alienasi sempat, kalau tidak salah, menjadi salah satu percikan Karl Marx dalam tulisannya untuk menggambarkan proses "keterasingan/alienasi" buruh dari produk-produk yang dihasilkan. Alienasi sama saja halnya dengan terasing, terisolasi, terbelenggu, dan segala hal yang, secara konteks sosial-budaya-ekonomi, bertentangan dengan hak-hak manusia.

Kenapa dia tidak menggunakan kata "terasing" saja dalam khotbah itu? Ah, sudahlah.

Namun, dari hal itulah sebenarnya saya terinspirasi untuk menulis ini. Saya kemudian berpikiran, (saat dalam solat jumat tadi) bagaimana jika momentum Idul Fitri dikaitkan dengan momentum pembebasan manusia? Soalnya, saya sering sekali mendengar bahwa Idul Fitri adalah momen dimana kita, manusia yang menjalani puasa dan ibadah secara penuh, "terbebaskan" dari segala dosa-dosa. Atau, kembali ke fitrahnya, bersih nan suci.

Saya sendiri sebenarnya baru memaknai pembebasan itu setelah berkecimpung didalam kegiatan organisasi. Setelah melakukan diskusi-diskusi dan membaca. Dari berbagai perspektif dan ideologi, pembebasan memang dimaknai secara berbeda-beda tapi tetap dengan landasan-landasan tertentu.

Dari perspektif Karl Marx sendiri, pembebasan atau sering disebut sebagai emansipasi, dibagi menjadi beberapa poin. Pertama merupakan emansipasi politik, dimana proses pembebasan dilakukan untuk tercapainya kesamaan derajat antar sesama manusia dalam berkewernegaraan, sama didepan hukum, tanpa ada tendensi agama yang dianut, ras, harta benda, serta ciri pribadi seseorang tersebut.

Namun, Marx menganggap emansipasi politik tersebut masih tahap separuh dari pembebasan manusia secara kolektif. Maka, dalam emansipasi politik, bisa dibilang manusia masih tetap teralienasi/terasing. Apa yang sebenarnya dimaksudkan Marx soal pembebasan/emansipasi manusia?

Dalam tulisan karya Ken Buddha, Emansipasi Politik di Indonesia Dalam Perspektif Marxis, yang diterbitkan di media Indoprogress, emansipasi manusia ala Marx adalah keadaan dimana manusia telah berhasil meleburkan kekuasaan sosial dan kekuasaan politik didalam dirinya, melalui pengenalan dan pengorganisiran kekuasaan tersebut.

Tetapi, tetap saja, dalam konsep Diktator Proletariat ala Marx, pembebasan seharusnya merupakan hasil karya dari kelas pekerja, tapi bukan berarti monopoli kelas pekerjaan. Melainkan, perjuangan pembebasan oleh kelas pekerja tersebut ditempatkan dalam konteks emansipasi manusia dan penghapusan segala unsur kelas yang ada dalam struktur sosial yang ada. Simpelnya, ditangan kelas pekerja (buruh) lah revolusi sosial tercipta.

Seperti yang sudah kita ketahui, Marx sendiri membangun argumentasinya tersebut setelah melakukan penyelidikan dan kerja-kerja ilmiah dalam membedah sistem kapitalisme saat itu. Saya sebenarnya bukan simpatisan Komunis, tapi saya jujur kagum dengan metode-metode analisa sosial ala Marx, dimana ia meletakan materialisme historis dan dialektika sebagai perangkat filsafatnya. Saya juga sadar diri, bahwa kerja-kerja yang saya lakukan ini hanyalah sekedar penjabaran yang kurang menarik tanpa ada kritik dan solusi. Saya akui itu.

Maka daripada itu, tulisan ini hanyalah dear-diary bagiku dalam mengisi hari yang membawa berkah ini.





0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.