Opini, Sastra dan Diary



Jujur. Saya sangat terpukau dengan strategi-strategi yang dilancarkan masing-masing kubu dalam SU ini. SU kali ini berhasil menunjukan bahwasanya politik ulur waktu menjadi mode/tren utama. Politik yang dimainkan oleh para legislatif ini sungguh mewarnai SU yang begitu suram ini.

Usaha-usaha menunda sidang untuk berlanjut menjadi semacam hal yang mutlak ada. Saya justru bingung ada apa gerangan dibalik penguluran waktu ini. Seperti contoh kemarin malam. Kalau tidak salah, tinggal menunggu satu orang peserta lagi, sidang bisa dimulai. Tetapi, 1 orang peserta itu tak kunjung datang. Akhirnya sidang di pending sampai hari ini. Praktis, kemarin tidak ada pembahasan mengenai periodesasi DPM/LEM -yang alot bingit.

Saya tidak habis pikir, dari mana para dewan yang terhormat ini mendapatkan ilmu-ilmu politik seperti itu. Ya, mereka memanfaatkan tata tertib persidangan sidang dimulai hanya dan jika kuorum peserta telah cukup. Jika tidak kuorum, ya tidak dimulai. Padahal, peninjau sudah banyak hadir. Sungguh kasihan melihat muka-muka peninjau itu saat pimsid mengetok palu untuk menyepakati pending. "Disitu kadang saya merasa sedih".

Para legislatif yang "pintar main politik" ini tak sadar. Semakin mereka mengulur-ngulur waktu, semakin banyak dampak yang terjadi kedepannya. Mulai dari waktu efektif kerja yang berkurang, SU fakultas yang akan molor, dan akan berdampak sampai pada tataran himpunan dan proker-prokernya.

Lagi pula, pembahasan periodesasi, yang saya amati selama ini, tidak menjangkau ranah ideologis seperti arah gerak KM UII, bisa tidaknya menyelesaikan persoalan-persoalan klasik, advokasi kebijakan kampus dll. Selalu landasan yang dibawa adalah terkait teknis Pesta, Pekta, normalisasi dll. Intinya itu. Titik.

Saya sih ya maklum saja, mungkin para dewan ini capek dan lelah karena telah beberapa hari menguras otaknya -yang dianugerahi kepintaran politk. Mungkin mereka atit. Sehingga pikirannya menjadi kacau balau. Atau mungkin, 1 orang peserta yang tidak datang itu tidak berani naik ke SCC karena takut kedinginan. Kalau soal kedinginan, saya usulkan untuk buat api unggun  didalam ruang sidang SCC. Biar semuanya hangat. Atau tidak pindah saja sidangnya di kampus bawah. Atau kalau ada yang berani, mungkin paduka yang mulia legislatif yang terhormat ini bisa memindahkan gedung SCC ke tempat yang lebih strategis.





0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.