Opini, Sastra dan Diary

Persma UII dan Bobroknya Kualitas Pergerakan Mahasiswa UII


"Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku tenggelam dalam lautan luka dalam"- Butiran Debu oleh Rumor. 

(Catatan: Saya meyakini bahwa kawan-kawan persma UII adalah penggemar fanatik Rumor dan Butiran Debu-nya,  terutama Angin yang menghempaskannya. Makanya saya sedikit mengutip lirik lagunya kali ini. If You Know What I Mean)

Apakah Persma UII masih menjadi bagian dari elemen gerakan mahasiswa? Saya rasa untuk saat ini belum. Persma UII belum mempunyai keberanian dan kepercayaan diri untuk mengambil sikap: Sebagai agen  insiator pergerakan mahasiswa UII. Kenapa demikian saya sampaikan, karena lihat saja bagaimana kualitas pergerakan mahasiswa di UII dan mahasiswa pada umumnya. Tentu kawan-kawan tahu bukan?

Saya masih meyakini bahwasanya media merupakan suatu instrumen jitu dalam menggiring opini publik. Kita bisa melihat bagaimana pers nasional akhir-akhir ini. Contohnya TEMPO dalam menggiring opini publik saat Pesta Demokrasi, dimana hebatnya mereka memframing Prabowo dengan produk jurnalistiknya dan memframing Jokowi. Kita bisa lihat bagaimana opini di masyarakat terkait Jokowi dan Prabowo saat itu. Pastinya, TEMPO ikut membantu menggerakan dan menambah massa pro Jokowi. Ada politik media bermain disitu. Belum lagi konflik KPK dan Polri. Kita bisa melihat bagaimana antusiasme gerakan massa saat itu. Intinya, TEMPO berhasil setidaknya -dengan framing dan fakta-fakta yang diberikan- mengompori sekaligus menyulut api pergerakan massa.

Itu sekelumit cerita tentang bagaimana media berperan menggiring opini publik. Saya rasa kawan-kawan persma nan superkritis ini mengetahuinya dan pastinya lebih pahamlah dari saya soal hal yang beginian. Namun ada hal yang tidak bisa ditoleransi ketika suatu media justru membodohi masyarakatnya. Contoh kongkritnya adalah media TV. Selama ini berapa korban yang terkena dampak akan tayangan TV yang tidak masuk diakal?

Dalam konteks tersebut, saya coba mengaitkannya dengan Pers Mahasiswa, khususnya di UII. Sejauh manakah Persma UII bisa melakukan penggiringan opini sehingga nantinya akan timbul perubahan sosial yang berkeadilan dan mempunyai nilai-nilai ke-universalan islam?

Dalam konteks pergerakan mahasiswa, sudah sejauh apakah Persma UII ini menjadi inisator gerakan massa melalui tulisan dan produk-produk jurnalistiknya? Coba tanyakan pertanyaan tersebut kedalam relung hati dan jiwa kawan-kawan pegiat persma UII. Sudah sejauh apakah kawan-kawan nan superkritis ini, untuk setidaknya, menularkan daya berpikir kritisnya sehingga memunculkan suatu gerakan massa untuk melakukan perubahan-perubahan?

Dari pertanyaan tersebut, ketika mengkontekskan dengan peran media, saya menyimpulkan suatu thesis yaitu: "Bobroknya Kualitas Mahasiswa UII dan Pergerakan mahasiswa UII adalah sejalan dengan Kualitas Persma UII yang Bobrok juga".

Kita tidak usah menyalahkan lembaga lain karena mereka bobrok, kita perlu mengevaluasi bagaimana peran kita selama ini dalam kebobrokan sautu lembaga tersebut. Permasalahan memang muncul dengan tiba-tiba, tanpa sepengetahuan kita. Kalo soal itu pastinya bisa ditoleransi. Tapi persoalan klasik seperti mahasiswa yang pragmatis, lembaga kemahasiswaan yang mandul, pergerakan mahasiswa yang tak ada bargaining posisi-nya, persoalan itu semua yang menjadi rancuh dan setidaknya menimbulkan pertanyaan: Kemana saja Persma UII selama ini?

Maka dari itu, saya menganjurkan kepada pegiat persma UII untuk setidaknya kita sering-sering Ngopi dan tidur  bareng. Hidupkan kembali media-media sosial seperti FKPM FB untuk memikirkan persoalan ini dan mencari solusi atas persoalan klasik tersebut.

Dari hasil diskusi itu kita bisa membuat suatu isu bersama dan memasifkan pengaruh (hegemoni) ke gerakan mahasiswa dan mahasiswa pada umumnya. Isu yang kita telah tulis kita follow up lagi dengan membuat diskusi dengan mengundang setiap elemen gerakan mahasiswa UII untuk menentukan langkah praksis-emansipatorisnya. Awak-awak persma bisa terlibat dalam aliansi tersebut, asalkan tidak membawa nama lembaga pers nya. Saya rasa tidak akan ada independensi yang dilacurkan pada kondisi ini. Mau gabung aliansi ya monggo, mau tidak gabung atau dibelakang layar saja ya monggo-monggo saja. Pasalnya selama ini pastinya kita hanya membiarkan isu tersebut menyebar tanpa ada tindak lanjut praksisnya.

 Tak lupa juga, kerap kali dengan berdalih soal independesi,  kita membiarkan isu tersebut menguap di kalangan mahasiswa dan pada akhirnya meredup dengan sendirinya, tanpa memastikan apakah sudah ada langkah kongkrit dari lembaga kemahasiswaan lainnya.

Saya rasa tidak akan ada gunanya Persma UII ada hanya untuk memberitakan peristiwa dan kemudian pasrah saja terhadap pemberitaan tersebut, tanpa, lagi dan lagi, mencoba memastikan langkah kongkrit yang akan diambil.

Jika logika itu yang dibangun Pegiat Persma UII, maka, kita tinggal menunggu saja kehacuran dari KM UII sebagai representasi mahasiswa UII. Tinggal menunggu waktu saja bung!

Saya rasa dengan begitu, persma UII bisa menjadi agen inisiator perubahan dikalangan mahasiswa UII.

Demikian. Tabik, Salam Persma!


0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.