Opini, Sastra dan Diary



Akhir-akhir ini mahasiswa UII, khususnya mayoritas angkatan 2012 dan mungkin sebagian 2011 serta 2010, sedang heboh-hebohnya soal KKN. Apalagi hari ini, hari dimana peserta KKN tahu ia dapat unit berapa, serta kawan-kawan seunitnya siapa saja. Alhasil, bertebaranlah di media sosial mulai dari pertanyaan-pertanyaan seputar rekan unitnya seperti, "Ini ada yang tahu orangnya  ama kontaknya gak?",. sampai pernyataan rasa syukur karena dia sudah tahu unitnya berapa, "Alhamdullilah dapat unit x".

Ada juga yang kemudian mencari rekan seunitnya itu di media sosial semacam Facebook dll seraya ingin mencari tahu apakah mahasiswa/mahasiswi itu face-nya mumpuni atau tidak. Atau ada juga yang sengaja membuat status terkait KKN itu supaya ingin ditahu orang banyak kalau dia akan KKN dan akan "mengabdi kemasyarakat".

Namun, di era postmodern ini (saya gak tahu juga apa itu postmodern, istilahnya keren aja), KKN mendapat ragam tafsir. Mulai dari sebulan merakyat, sampai pada tafsir yang sungguh romantik dn menggiurkan muda-mudi: sebulan menjalin "Kisah Kasih Nyata". Entah itu dengan teman se-unit atau dengan gadis desa ataupun pemuda desa.

Saya sendiri membuat tafsir sejauh pengamatan saya. KKN bagi saya adalah waktu dimana ribuan mahasiswa itu "turun ke bumi setelah beberapa tahun berumah di kayangan". Kenapa? ya suka-suka saya saja. Terus ente mau marah saya buat tafsir seperti ini?

Ya, tafsir itu menggambarkan bahwasanya setelah sekian lama mahasiswa berada di kayangan, baru saat ini mereka turun kebumi. Setelah sekian lama mereka berkutat dengan ilmu, baru saat ini mereka "mau mengabdi". Eh, apakah niatanya memang mau mengabdi? Atau jangan-jangan karena ngikuti agenda wajib kampus saja?

Inilah yang kemudian saya sebut sebagai: Ilusi Pengabdian ala Mahasiswa jaman kini. Saya berani bertaruh, bahwasanya para peserta ikut KKN karena merupakan agenda formal kampus. Coba bukan agenda formal kampus, pasti sepi-lah peminatnya. Itupun karena KKN juga ada mendapatkan beban SKS. Alhasil, KKN persis sederajat dengan mata kuliah lainya, yang pastinya nanti akan ada nilainya. A, B, C dst.  Kan lumayan, bisa nambah IPK. Hal tersebut menjadi bukti kongkrit bahwasanya agenda pengabdian masyarakat menjadi semacam hal yang berbau transaksional. Ada hubungan timbal balik. Pada akhirnya, mahasiswa tidak benar-benar tulus dalam mengabdi kepada masyarakat. Dan pada akhirnya pula, ilusi pengabdian ini semakin mempertegas posisi mahasiswa ditengah masyarakat. Bahwa mereka terpisah dari rakyat. Mereka hanya akan turun dari kayangan ke bumi bila waktu KKN telah memanggil!




0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.