Opini, Sastra dan Diary



Note: Mudah-mudahan, tulisan ini tidak menjadi angin lalu -yang telah "menghempaskan Butiran Debunya Rumor"- bagi kawan-kawan Persma UII nan superkritis ini. Amin!

Beberapa bulan yang lalu, mungkin masih teringat samar-samar di memori kawan-kawan pegiat persma UII, bahwa saya pernah menulis di grup FB FPKM UII yaitu: "Perlu tidak isu bersama?". Yang melihat status itu, terakhir saya lihat barusan, adalah 26 orang. Namun, tak ada yang menanggapi. Saya lagi-lagi mafhum soal kondisi ini, meskipun, "Disitu kadang saya merasa sedih". Ah,"Aku mah apa atuh", kata Cita Citata, lagi! (Oh Tuhan, sampai kapankah saya  harus  mengutip quote Cita Citata itu terus menereus? Haduh, pusing pala beb)

Ya, saya tak perlu menjelaskan kembali disini soal bagaimana keaktifan teman-teman dalam berjejaring dan berdiskusi masalah-masalah kampus, terutama di FB FKPM. Soalnya, begini kawanku,  jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah : Menyepelekan Grup FB FKPM UII.

Tapi begini guys, kembali ke topik, meskipun tidak ada sama sekali tanggapan terkait "isu bersama" yang saya lontarkan ini, izinkanlah saya untuk mengemukakan pendapat ihwal isu kolektif tersebut. Saya kira tidak perlulah memamaparkan apa itu isu dan apa itu bersama. Langsung saja. Begini, diskursus tersebut saya rasa menjadi suatu problema klasik bagi kawan-kawan persma, khususnya yang tergabung dalam PPMI.

Pasalnya, PPMI setidaknya, dulu, pernah mempunyai isu bersama untuk di kemudian hari kawan-kawan persma bisa mengangkat isu tersebut. Saya dulu tidak tahu maksudnya apa dan kenapa ada wacana isu bersama tersebut. Tetapi saya baru akhir-akhir ini merenung. Mungkin ada suatu koneksi batin antara kawan PPMI -yang menawarkan isu bersama untuk nantinya di"eksekusi kawan persma lainnya- dengan diriku. Ya terserahlah, kawan-kawan mau percaya atau tidak. Soalnya saya sudah punya guru spritiual terkait hal tak kasat mata dan berbau astral seperti kasus saya diatas tersebut. Namanya, Arifin Agus Setiawan. Divisi "Jarang Kerja" "Jaringan Kerja" PPMI.

Begini "teman-teman persma UII-ku yang berbahagia karena telah diberikan akal nan superkritis ini", dari hasil astral dengan kawan PPMI itu, saya kemudian menyadari dan terilhami setelah sekian lama berkontemplasi, bahwa: Persma UII mesti mempunyai suatu isu bersama dan agenda bersama!

Alasanku begini kawan-kawan nan luhur, alasanku simpel yaitu saya meyakini kekuatan suatu media untuk mengubah keadaan, membuat suatu perubahan sosial, dan menghidupkan kembali animo mahasiswa akan tanggung jawab dan fungsi mereka. Media juga bisa setidaknya yang mempersatukan gerakan mahasiswa entah eks maupun internal kampus.

Keyakinanku tersebut merupakan suatu romantisme persma di jaman penggulingan Rezim Soeharto. Disini bukan bermaksud untuk menjatuhkan suatu rezim pemerintahan (mungkin  bisa kalo mau menghantam DPM U dan LEM U haha) tetapi bagaimana persma bisa menggiring dan menyatukan gerakan mahasiswa saat itu. Dari buku PPMI karya Fathoni, saya sekiranya membaca bagaimana romantisme gerakan mahasiswa dengan persma saat itu.

Nah, setelah itu, saya ingin menanyakan, apakah selama ini, setelah mengeluarkan produk, sejauh apakah perubahan sosial itu terrjadi? apakah sesuai harapan kita?

Saya rasa teman-teman semua sudah diajarkan pentingnya analisa sosial, yang saya yakini adalah alat membaca realitas sosial sehingga pada nantinya timbul langkah praksis-emansipatoris untuk merubah realitas sosial sesuai dengan norma-norma kemanusiaan. Nah, apakah kita selama ini telah menganalisa dengan bijak akar persoalan yang selama ini hadir dalam lembaga kemahasiswaan, birokrasi kampus, dll? Atau permasalahan paling utama mahasiswa yaitu siapakah dalang dari pembelengguan mahasiswa sehingga mahasiswa kita akhir-akhir ini, katakan saja, apatis?

Saya rasa teman-teman sudah mencoba dan bahkan sudah mengangkat isu tersebut dalam produk kawan-kawan, tapi lagi dan lagi, sejauh mana perubahan sosial itu terjadi?

Maka dari itu, setidaknya untuk menghegemoni mahasiswa di UII, perlu kiranya agar kita, masing-masing persma, agar sering ngopi dan tidur bareng. Kita perlu membuat suatu isu bersama dan mencari akar persoalan realitas kehidupan sosial kampus. Awalnya kita melakukan pembacaan. Setelah itu ada semacam brainstorming, buat silabus dll. Sama seperti diskusi yang sempat dilakukan" grup ngopi Maha UII Bergerak".(Meskipun akhirnya wacana itu hanya berakhir di Mato Cafe saja). Saat itu pembacaan kita adalah bahwa dalang dari pembelengguan mahasiswa selama ini adalah Badan Wakaf UII. Nah siapa tahu dalam pembacaan kita (anak persma), dalang itu tak lain dan tak bukan adalah Parto OVJ, siapa tahu aja yakan.

Nah setelah itu, kita buat produk deh. Terserah mau sampai kapan kita terus menerus mengangkat isu itu (ya gak isu-isu itu juga keles, kan ada yang namanya angel dan framing, pintar-pintar kitalah buat imporvisasi). Nah teman-teman bisa bayangkan tidak, semua persma yang ada di UII, memberitakan suatu persoalan dengan angel dan framing yang berbeda-beda, tetapi tetap satu tujuan? Saya sih bisa saja membayangkan, bahwa pada nantinya kita bisa menggerakan mahasiswa dan melakukan penyadaran yang lebih massif.

Soal isu apa, saya menjamin tak akan ada yang namanya saling menunggangi. Pasalnya, pembacaan secara kolektif saya rasa murni rasionalitas. Silahkan berdiskusi dan berdialektika. Kawan-Kawan juga bisa untuk mengklaim bahwa "isu bersama" itu tidak penting dll, yang jelas siapkan argumentasi kawan-kawan yang bisa dimengerti awak persma yang lain.

Saya rasa tidak ada salahnya media massa berpolitik, asalkan, lagi dan lagi tetap menjunjung prinsip jurnalisme yang beretika. Dimana yang harus kuat adalah data, verifikasi, wacana, narasumber yang mumpuni, data yang mumpuni dll. Persoalan independensi, jika kawan-kawan berdalih bahwasanya isu dengan isu bersama ini akan mempengaruhi independensi, saya rasa tidak. Disini dipertanyakan bagaimana peran persma sebagai dinamisator dan berpihak kemanakah persma UII jika selama ini mahasiswa umum secara sistemik telah dihancurkan mental dan isi kepalanya?

Pada akhirnya, inilah beberapa argumentasi dan pendapatku. Monggo teman-teman jika ingin mengkritisi dan mengajukan kritik balasan. Saya siap menerima dan dengan senang hati akan membalas kembali. Saya berharap agar dengan semakin intimnya hubungan persma, bisa membawa suatu perubahan bagi realitas kehidupan sosial UII. Tabik, Salam Persma !


0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.