Opini, Sastra dan Diary

Papua Tanah Damai



Karena tidak ada kerjaan di hari ini, aku terpaksa mencari-cari pekerjaan, yaitu dengan mengikuti acara diskusi tentang "Papua Tanah Damai" di UIN Suka. Acara itu diselenggarakan oleh beberapa lembaga: Social Movement Institute (SMI), Jaringan Damai Papua (JDP), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Lembaga Pers Mahasiswa Rhetor.

Saat memasuki ruang diskusi yang bertempat di Gedung Teatrikal Fakultas Tarbiyah, aku diberikan 3 buku pegangan kecil. Buku saku itu dibuat oleh JDP. Masing-masing buku itu adalah Serap Aspirasi Rakyat Papua tentang Papua Tanah Damai, Indikator Papua Tanah Damai Versi Masyarakat Papua, dan Dialog Internal Papua.

Seperti yang diketahui, Papua masih terus dijajah oleh negeri sendiri. Sejak Papua berintegrasi dengan Indonesia sekitar tahun 1950-an, konflik masih terus terjadi. Konflik sudah menjadi teman sehari-hari masyarakat Papua. Pelanggaran HAM marak terjadi dan sama sekali belum pernah dituntaskan. Usaha-usaha rekonsiliasi dan pekerjaan mencari solusi sepertinya mentok di tataran Pemerintahan.

Bayangkan, selama berpuluh tahun, tidak ada perubahan yang signifikan di Papua. Perlakuan-perlakukan diskrimansi terhadap masyarakat Papua telah menjadi bentuk kesadaran masyarakat non-Papua. Lihat saja, bagaimana opini yang berkembang di masyarkat luar Papua terhadap masyarakat Papua. Bahkan sejak dalam pikiran saja, kita masyarakat luar sering menggeneralisasi bahwasanya Masyarakat Papua itu bodoh, miskin, tukang mabuk, sering buat rusuh dan onar dll.



Tak pelak, stigmatisasi ini muncul akibat kita hanya mendapatkan satu versi saja tentang masyarakat Papua. DImana sumber utama itu hanya dari TNI dan Pemerintah yang sudah pasti sarat politis. Citra masyarakat Papua yang sebegitu jeleknya tiap tahun dan tiap hari direproduksi terus menerus, sehingga stigma tersebut masih ada sampai sekarang ini.

Pemerintah, TNI, dan Masyarakat non Papua memperlakukan masyarakat papua, meminjam perkataan Filep Karma, "Seakan Kitorang Setengah Binatang". Miris dan bergelimang ironis ketika melihat manusia bahkan negara menancapkan kekuatannya atau begitu mendominasi dan membelenggu masyarakat Papua dengan segala macam dalih ekonomi maupun politiknya.

Acara diskusi ini setidaknya memberikan suatu muatan yang benar-benar bermakna dimana dialog merupakan suatu langkah praksis menuju solusi atas permasalahan Papua selama ini. Maka dari itu, acara tadi tidak seperti seminar-seminar dimana peserta bertanya kepada narasumber. Melainkan peserta justru yang lebih banyak berbicara. Sejak dari awal, JDP, memang telah melakukan banyak acara diskusi dan dialog. Dialog disini guna menyerap aspirasi-aspirasi dari setiap orang akan bagaimana menyelesaikan persoalan di Bumi Papua.



Jujur, acara ini tidak berlangsung satu arah saja. Hal itu menjadi sisi positif bagaimana kita memberikan aspirasi dan tidak hanya sekedar mendengar pendapat narasumber. Animo peserta juga tak kalah hebatnya. Banyak yang ingin beraspirasi terkait persoalan bumi Papua.

Aku tadi tidak sempat beraspirasi, tetapi aspirasi tersebut ingin ku tuliskan disini saja. Dari berbagai persoalan mendasar yang sebegitu banyaknya disinggung, menurutku persoalan yang signifikan adalah terkait pendidikan. Indikator Papua Tanah Damai menurutku adalah ketika masyarakat papua mendapatkan pendidikan yang ideal. Pendidikan dimana manusia bisa memanusiakan manusia lain. Revolusi mental sejatinya dan seharusnya bermula dari bagaimana masyarakat bisa mendapatkan pendidikan yang ideal tersebut.

Soalnya, saya meyakini bahwa pendidikan bisa merubah bangsa. Pendidikan bisa menjadi alat mencapai keharmonisan dalam kehidupan sosial. Maka dari itu, akses-akses informasi dan pendidikan harus dilancarkan dibumi papua. Pada titik ini peran cendekiawan dan peran media harus bermain.

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.