Opini, Sastra dan Diary

Cita Citata


Setelah beberapa hari yang lalu saya mengajukan kritik atas bagaimana pegiat persma UII berjejaring dan berkarib -terutama soal Grup FB FKPM- saya belum menerima tanggapan lain selain: "Siiiip", "Syap", "Wah, tulisanmu produktif bro", "Well bro", "Nice Bro" dll.  Saya kemudian berspekulasi, mungkin "kawan-friend-bos"ku  yang sangat kritis ini benar-benar menjadikan kritik ini sebagai: "Angin lalu yang telah menghempaskan Butiran Debunya Rumor". Atau, jangan-jangan, bahkan melebihi itu, seperti: anginnya Dewa 19?; Angin dalam lagu Wind Soundtrack Naruto?; Wind of Change-nya band legenda Scorpion?; Anginnya Avatar Aang? (Ah, terlalu banyak angin.)

Tetapi tidak masalah, saya sudah biasa tidak ditanggapi dengan serius (eh, curhat). "Aku Mah Apa Atuh", kata Cita Citata. Mungkin kawan-kawan pegiat persma UII yang merupakan jurnalis sejati ini sedang membuat akun FB atau mungkin meng-hack kembali akun FB yang telah di hack temannya, atau sedang kesulitan membuat akun FB. Kalo yang terakhir ini, saya siap membantu guys. Kalo urusan hack menghacker, saya punya teman yang jago. Namanya Arifin Agus Setiawan -biasa disapa Ipin-yang sudah lama bergelut dengan hack menghack akun FB.

Saya sudah begitu menyadari bahwasanya Lembaga kita sedang sebegitu sibuknya. Sedang sangat begitu on fire dan masing-masing awak persmanya memiliki kekritisan yang telah melampaui batas. Saya ingat kata-kata didalam Film The Toys, "Menuju tak terbatas dan melampauinya". Mungkin begitulah sekiranya menggambarkan kondisi lembaga kita dan kader-kader kita belakangan ini. Begitu fokusnya. Sehingga, kritik yang dibalut celotehanku tidak begitu mendapatkan tempatnya di relung jiwa kawan-kawan persma nan superkritis ini. Saya sudah mafhum dengan kondisi ini.

Tapi, begini "kawan-bos"ku, saya sebenarnya hanya ingin mengetes bagaimana konsistensi kawan-kawan dalam menulis, beropini, dan berpendapat. Dari hasil ini saya mendapatkan gambaran bahwa aktivitas intelektual yang biasa kita lakukan (terutama menulis) tidak begitu tertanam dalam diri kita. Kita menulis hanya dan jika tulisan itu adalah untuk proker: Buletin, Online, Majalah, Jurnal. Kawan-kawanku- yang pastinya lebih jago menulis dari pada saya- sayangnya hanya menempatkan aktivitas intelektual itu hanya sebatas proker organisasi masing-masing saja.

Sebenarnya, buka-bukaan saja, tulisan ini dan tulisan kritik-celotehan saya kemarin bertujuan dan bermaksud ingin mencari tahu: Ada enggak sih yang mau menanggapi tulisanku dengan sekiranya, Tulisan juga?

Jawabannya: Nihil !

Dan saya sangat begitu mafhum, budaya menulis kita hanya sampai pada tataran Buletin, Majalah, dan Online. Sangat, sangat, dan sangat mafhum. Tetapi, begini "bosku", bukankah kawan-kawan nan luhur ini sudah sering membaca Novel Pram? Dan sudah sangat begitu tahu akan pentingnya menulis dan beropini?

Saya rasa awak persma tidak mesti terus-menerus  berjibaku dengan tulisan jurnalistik.(Pada konteks ini tulisan yang dimaksud adalah tulisan diluar proker dan kerjaan kelembagaan). Saya masih meyakini bahwasanya gagasan, setidaknya, lebih komprehensif jika ia diwujudkan kedalam suatu tulisan: entah itu opini, kolom, artikel.

Maka dari itu, saya berani menulis ini karena setidaknya ingin melemparkan suatu wacana dan isu sekaligus kritik dan sekaligus juga: Eksperimen kecil-kecilan. Memang, perlu diakui, banyak sekali generalisasi dalam tulisan kali ini dan diharapkan kawan-kawan pegiat persma UII--yang mempunyai daya kritis "Menuju-tak-terbatas-dan-melampauinya"-- kiranya memaklumi hamba ini. Ampunilah hamba jika tulisan ini banyak "menyungging" kawan-kawan nan luhur ini.

Terakhir, saya masih mempunyai harapan dimana Grup FKPM FB bisa dihidupkan kembali atau dibubarkan sama sekali!



0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.