Opini, Sastra dan Diary

Beberapa Mahasiswa UII saat aksi Mayday 2014 di 0 KM 


27 Maret 2014, di Kampus FTSP. Pemutaran film "Samin VS Semen" yang pertama kali digelar di UII mendapatkan apresiasi yang lumayan dari kalangan mahasiswa, kecuali mahasiswa FTSP sendiri. Dari sejak awal publikasi, terhitung tidak ada antusiasme dari Kalangan Lembaga Kemahasiswaan FTSP: LEM FTSP, DPM FTSP, HMTS, HMTL, HMA, dan LDF.

Massa yang datang sendiri lebih dipenuhi oleh kalangan aktivis pers mahasiswa dan aktivis pergerakan mahasiswa: GMNI, PMII dan HMI. Mahasiwa murni FTSP dan non-organisasi bisa dibilang cuma dihitung satu dua. Namun, itu tidak menjadi persoalan. Harus ada memang yang menjadi pemantik kepada kawan-kawan mahasiwa UII untuk bergerak.

Setelah pemutaran film yang berdurasi 40 menit tersebut, moderator mulai membuka forum diskusi. Anna Maria, peneliti agraria, memantik diskusi dengan berbicara terkait gerakan wanita dalam konteks permasalahan Rembang. Pembicara kedua. Dimpos Manulu adalah mahasiswa S3 Jurusan Ilmu Politik UGM. Ia berbicara dalam scoop yang lebih luas dibalik persoalan agraria di Indonesia. Dari jaman Orde Baru sampai Reformasi. Ia mengatakan bahwasanya tidak ada sama sekali perubahan semenjak reformasi kecuali pemilihan yang lebih demokratis. Sedangkan konflik agraria semakin memanas pasca reformasi.

Setelah penyampaian kedua pembicara tersebut, moderator langsung membuka sesi tanya jawab. Salah seorang mahasiswa kemudian angkat tangan dan bicara. Bukan pertanyaan yang dia lontarkan, melainkan sebuah orasi yang mengajak forum untuk turut hadir dalam Putusan PTUN  di Semarang terkait kasus rembang. Dalam orasinya, ia mengkritik sikap mahasiswa UII yang apatis dan tidak bergerak terkait permasalahan Rembang.

Dan sampai seterusnya, beberapa mahasiswa yang angkat tangan untuk bicara malah berorasi dan membakar semangat forum lewat kata-kata bak seolah-olah ada di arena demonstrasi. Hanya sebagian saja yang menanggapi pernyataan pembicara. Namun, kedua pembicara tersebut malahan terpantik untuk memberikan semangat dan memotivasi mahasiswa UII yang sedang lesu pergerakannya. Di akhir diskusi, Dimpos Manulu menantang forum untuk kembali menjadikan UII sebagai Kampus Perjuangan. 

Semoga forum-forum diskusi yang membicarakan tentang "PERMASALAHAN RAKYAT" akan marak di UII dan terkhususnya di FTSP. Forum diskusi tersebut merupakan proses dialektika mahasiswa dalam menganalisa realitas sosial, ekonomi, politik yg terkadang tidak berpihak kepada rakyat. Pun permasalahan-permasalahan ketekniksipilan dan ekologi yang kadang tidak menjadi perhatian media massa dan kalangan akademisi. 

Kasus di rembang tidak hanya terjadi disana saja. Banyak persoalan serupa yang juga dialami di berbagai daerah. Di jogja sendiri, kita masih bisa melihat bagaimana upaya keras dari petani pesisir pantai Kulon Progo dalam melawan Pabrik Pasir Besi-yang sebagian besar sahamnya milik orang terdekat kraton Jogja. Pun permasalahan pembangunan bandara di Kulonprogo yang menggusur lahan pertanian warga lokal. Kita juga tidak bisa menutup mata akan permasalahan pembangunan Hotel-hotel yang beresiko mengurangi kebutuhan air warga sekitar Hotel. 

Jadikan kembali UII sebagai kampus Perjuangan dimana mahasiswanya mempunyai daya kritis dan berwawasan lingkungan yang tidak bermental "Elit-Borjuis" MARI BERDISKUSI DAN MENENTUKAN SIKAP !!!

2 komentar:

  1. Ada nepotisme toh di sana.. Kasian banget ya rakyat kecil seperti kita.. :(

    BalasHapus
  2. ia kasian... hanya asa satu kata: Lawan!

    BalasHapus

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.