Opini, Sastra dan Diary

Mahasiswa Jogja dan Petani Rembang Gerudug UGM


Berawal dari salah seorang alumni Pers Mahasiswa Himmah, isu seputar Rembang vs Pabrik Semen, dan Samin vs Semen menjadi isu yang gempar bagi awak LPM Solid, termasuk aku. Sebelumnya, aku memang pernah membaca terkait berbagai macam penolakan dari para petani di Rembang tersebut.

Saat itu isu tersebut cukup menjadi isu yang lumayan diperhatikan bagi kalangan aktivis. Tapi tidak bagi aku yang saat itu masih polos-polosnya mengenal pergerakan mahasiswa dan isu-isu skala nasional. Melalui pantikan Bung Irwan (alumni Himmah) lewat Grup Facebook Forum Komunikasi Pers Mahasiswa UII (FKPM UII), aku dan kawan pers lainnya, terutama awak Solid, menjadi terpantik.

Berbagai macam komentar dilayangkan di postingan Bung Irwan tersebut. Walhasil, timbul keinginan untuk membuat acara pemutaran film dokumenter  dan diskusi "Samin Vs Semen" di UII. Setelah beberapa hari konsolidasi dan mencari pembicara-meskipun belum ketemu-muncul postingan mendadak dari Bung Irwan. Postingan tersebut mengajak kita (awak Persma UII) untuk konsolidasi segera pada malam jumat jam 10 malam di Kantor Himmah.

Alasan konsolidasi tersebut adalah terkait petani-petani Rembang yang akan datang ke jogja pada malam itu dan pada esok harinya nanti akan melakukan unjuk rasa di UGM. Kedatangan rombongan petani Rembang tersebut dipicu oleh keterangan saksi ahli dari UGM dalam sidang di Pengadilan Tata Usaha Negara (19/03) perkara gugatan warga Rembang terhadap Gubernur Jawa Tengah. Gugatan tersebut muncul terkait penerbitan izin lingkungan kegiatan penambangan dan pembangunan pabrik PT. Semen Gresik.

Keterangan saksi ahli tersebut dinilai tidak pro terhadap petani rembang dengan berdalih bahwasanya pembangunan Pabrik Semen di Rembang akan menimbulkan dampak positif yang sangat signifikan. Seperti yang diketahui, petani Rembang sejak tahun 2012 sudah menolak pembangunan pabrik Semen tersebut. Alasannya, dikarenakan pembangunan pabrik semen itu akan mengancam keberlangsungan hidup petani dan mengancam pertanian yang menghidupi mereka.

Pada saat postingan bung Irwan tersebut aku baca, kami Awak Solid sedang berdiskusi terkait Samin Vs Semen di ruang merah SOLID. Setelah diskusi selesai, aku langsung menyampaikan seruan konsolidasi tersebut. Respon cepat langsung terlontarkan dari kawan-kawan, "Yok, turun yok."
Dengan semangat yang membara-karena baru saja melontarkan kritik pedas terhadap pemerintah melalui diskusi SOlid-kami berempat siap menerjang dinginnya Jalan Kaliurang. Seperti yang diketahui, kami berangkat dari kampus Pusat UII Jalan Kaliurang KM 14.5 menuju Kampus Cik DItiro UII yang berada di dekat UGM.

Saat sampai di kantor Himmah, forum sudah berkumpul. Saat itu hanya ada 3 perwakilan persma. Himmah, Pilar Demokrasi, dan Lpm Solid. Bung Irwan kemudian mempertanyakan sikap kami terkait unjuk rasa yang akan dilakukan petani rembang dan alian mahasiswa Jogja besok hari. Apakah kami turun aksi atau tidak?

Tidak perlu lama-lama, sikap kami sudah bulat untuk turun aksi. Lantas, bendera apa yang akan dibawa ketika aksi? Apakah bendera Organisasi masing-masing atau apa?

Keputusan timbul, bahwasanya tidak perlu membawa bendera organisasi. Pasalnya butuh waktu untuk meminta pendapat kawan-kawan yang tidak datang saat konsolidasi tersebut. Walhasil, kami membawa nama mahasiswa UII.

Pada hari H aksi, Aku tidak bisa datang tepat waktu. Saat aku datang, mahasiswa dan petani masih berorasi, namun sudah ada perwakilan 15 orang untuk melakukan audiensi dengan Rektorat UGM. Akhirnya aku hanya menonton orasi dan sedikit mengambil gambar beberapa poster aksi. Pun, mengambil gambar petani dan mahasiwa yang berorasi. Kemudian aku bertemu dengan Awak SOlid yang sudah dari awal ikut aksi. Mereka sampai bela-belakan untuk tidur di Himmah pada malam harinya. Kawan-kawan Solid tersebut adalah kawan yang pada malamnya, sebelum kami ke Himmah, telah melakukan diskusi terkait Samin Vs Semen.

Saat bertemu, aku diajak untuk naik ke depan ruang sidang rektorat yang ada dilantai 2 Gedung Rektorat UGM tersebut. Saat itu aku kaget, tidak ada sama sekali perwakilan dari UII yang mengikuti audiensi. Perwakilan Mahasiswa yang masuk adalah dari UGM, UNY, UAD dan UMY. Walhasil, apa yang kita sudah konsolidasikan malam harinya tidak sukses.

Dari hal itu aku menyimpulkan bahwa anak-anak persma tidak memiliki massa, dan memang tidak cocok untuk melakukan pengorganisasian massa. Beberapa kawan pergerakan UII pada malam sebelumnya tidak berhasil kami tarik. Memang, kawan-kawan BEM UII tidak sigap dalam menghadapi isu-isu pergerakan dan pembentukan aliansi mahasiswa Jogja. Kan, seharusnya mereka yang duluan bergerak terkait seruan konsolidasi Mahasiwa se-Jogja.

Terkait hasil audiensi sendiri, setelah beberapa jam aku dan kawan-kawan Solid beserta kawan-kawan mahasiswa lain menunggu,  UGM akan membuat suatu tim yang terdiri dari berbagai macam akademisi untuk meneliti kembali kasus pernyataan Saksi ahli UGM tersebut. Untuk tanggal dan waktu kapan mulai dibentuk dan untuk segera bekerja, pihak UGM tidak memiliki sikap pasti. Petani Rembang dan aliansi mahasiswa Jogja cukup kecewa akan hasil tersebut. Namun, tindakan unjuk rasa tersebut patut diapresiasi. Suara perlawanan harus dilancarkan. Siapapun yang berpihak kepada pabrik semen, entah itu kampus, pemerintah, dan akademisi, mereka adalah orang-orang yang harus dilawan karena tidak berpihak kepada rakyat kecil.

#RembangMelawan


1 komentar:

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.