Opini, Sastra dan Diary

Tangis dan Politik

Gambar klik disini


Saya salut dengan karya-karya Goenawan Mohamad. Ia adalah seorang sastrawan yang mempunyai ciri khas tersendiri dalam menulis. Goenawan Mohamad dalam salah satu capingnya berhasil memaparkan suatu realitas yang bisa dia temukan dalam novel Les Miserables karya Victor Hugo. Dalam novel itu, Mohamad mendapatkan bagian terkecil sekaligus terbesar dalam seluruh inti novel itu. Pun, ia berangkat dari sisi paling emosional manusia. Seakan-akan Mohamad bisa membaca pikiran sastrawan Perancis tersebut.

Tangis, begitulah judulnya. Dalam awal penulisannya, Mohamad mengutip satu kalimat pendek dalam Les Miserables, "Siapa tahu matahari seorang yang buta". Dari situ ia berangkat menjabarkan bagaimana tangis itu bergejolak.

"Matahari bisa begitu terang, tapi begitu jauh dan tak peduli kesengsaraan manusia," begitu tulis Mohamad. Victor Hugo, menurut ia, "Ingin mata kita basah dan melihat, dengan peka, ke sekitar". Mata kita harus basah, kita harus menangis, kita harus peka dalam melihat keadaan sekitar. Saya sudah pernah membaca karya termasyur Victor Hugo tersebut. Isinya sesuai yang ditulis Mohamad," Novel yang terdiri dari lima bagian panjang ini padat dengan tokoh kecil yang melata, kaya akan adegan yang menyayat hati dengan khasanah kata yang tak habis-habisnya."

Tokoh-tokoh arus bawah diperlihatkan begitu tajam. Satu per satu tokoh itu dibahas ihwal kehidupannya. Menurut Mohamad paragraf demi paragraf  novel tersebut bergerak antara renungan sang pengarang dan dialog para peran, "Sebagian besar les misérables, para nestapa. Fantine, gadis yang hamil, ditinggalkan pacar dan jadi pelacur. Cosette, yatim yang terdampar; Jean Valjean, lelaki yang dihukum keras karena mencuri sepotong roti."

Tangis menjadi semacam resensi tersendiri dari Les Miserables, namun ia bukan resensi. Tangis tak bisa disamakan dengan resensi. Ia adalah suatu karya sastra. Sastra khas Catatan Pinggir Mohamad. Mohamad berhasil membawa kita dari kesengsaraan dan kemiskinan di Les Miserables menuju hal paling kotor; Politik. Ia menjelaskan bahwa novel itu terkadang terasa seperti, "Sebuah melodrama yang majemuk."

Tetapi Les Miserables, lanjut Mohamad, "Sesungguhnya sebuah novel politik."

Memang, dalam novel itu, Victor Hugo berhasil memuat latar tentang Paris menjelang Revolusi 1830. "Suara rakyat, khususnya kaum buruh, makin nyaring di depan umum, di kedai-kedai anggur dan di salon-salon pertemuan," begitu tulis Mohamad menggambarkan salah satu adegan politik dalam Les Miserables.

Dalam adegan-adegan selanjutnya perang dan darah tak terelakan. Buruh yang turun kejalan menentang aparat. "Tembak-menembak terjadi. Darah tumpah dan asap memenuhi trotoar. Di celah-celah itu, tampak 'mulut-mulut yang menyemburkan napas api', 'wajah-wajah yang luar biasa' ," tulis Mohamad.

Politik menjadi sesuatu yang menimbulkan drama dan sekaligus menjadi bagian dari drama tersebut. Ia memainkan peran yang disebut Mohamad sebagai, " Sebuah tiwikrama, ketika manusia bergulat untuk mengubah keadaan jadi sebuah dunia yang lebih baik."


2 komentar:

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.