Opini, Sastra dan Diary

Sejarah Kita


 A section of the Bayeux Tapestry. Photo: Spencer Arnold/Getty Images. Spencer Arnold/Getty Images
(gambar klik disini)

"Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan, Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa penghianatan sejarah tidak akan lahir?  Seolah-olah bila kita membagi sejarah maka yang kita jumpai adalah penghianatan."

Begitulah ungkapan lirih Nicholas Saputra- yang memerankan Gie dalam film Gie- dalam adegan dimana dia melihat rakyat kecil antri untuk mendapatkan "mungkin sembako". Saya berpendapat bahwa kita lahir dan menyatu dengan pemerasan dan penghianatan itu. Sejarah adalah bagian dari kita, dan kita tak bisa lepas dari itu. Sejarah selalu membayang-bayangi dan menghantui kita selama yang hidup didunia ini masih sadar.

Kesewenang-wenangan; penindasan; keserakahan; Semua ada disekeliling kita. Maka pantaslah Gie mengatakan ungkapan lirih diatas. Beda halnya Gie yang menyoroti sejarah dunia, Karl Marx sendiri menyoroti sejarah dari masyarakat. Saya berani mengambil kesimpulan bahwa tanpa manusia yang ada dan masyrakat yang ada, Gie tidak bisa memikirkan tentang ungkapan lirihnya tersebut. Dunia tanpa manusia sudah menjadikan kontradiksi bagi ungkapan Gie tersebut. 

Marx sendiri lebih memilih melihat sejarah masyarakat ketimbang sejarah dunia itu. Dalam paragraf awal Manifesto Komunis yang diterbitkannya ditahun 1844, Marx menyatakan bahwa :

"The history of all hitherto existing society is the history of class struggle"

Atau dalam Indonesia," sejarah dari semua masyarakat yang ada hingga kini adalah sejarah perjuangan kelas."

Ada kelas penindas dan kelas yang ditindas, begitu Marx meng- general-kan semua.  Syahdan, apa yang diungkapkan oleh Gie bisa disatukan dengan pandangan Marx tersebut; Orang yang memeras dan orang yang diperas; kelas yang berhianat dan kelas yang dihianati; kelas yang bersedih hati karena ia ditindas dan kelas yang tertawa karena ia menindas.

Segala pertentangan itu ada dalam sejarah umat manusia. Maka apa yang harus kita lakukan terhadap pertentangan itu ? Menghapuskan antagonimse masing-masing kelas? Menghapus egosentris manusia- yang katanya adalah perasaan alamiah manusia ?

Ah, sejarah,  apakah kita harus melepaskannya dan cenderung mengasingkan diri darinya? 
Goenawan Mohamad dalam Capingnya yang berjudul Sejarah menulis:

"Seorang pengarang pernah mengatakan, masa lalu adalah sebuah negeri asing. Senantiasa asing. Kita, yang hidup hari ini, tak akan pernah kenal dunia luar dan dalamnya, jalan raya dan jurang-jurangnya, penghuni dan perkakasnya."

Atau melihat sejarah dari perspektif Rabindranath Tagore , yang menurut Goenawan Mohamad dalam tulisannya, "merupakan cerita pratyahik sukhduhkha, 'suka duka sehari-hari' manusia, yang disampaikan secara kreatif," ?




0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.