Opini, Sastra dan Diary

Kembalinya Sang Philogynik

Jejak Langkah


Baru kali ini lagi saya sedikit bersemangat dalam membaca roman karya Bung Pram ini. Tepatnya roman ke-3 dari tetralogi buru yang berjudul Jejak Langkah. 

Dalam roman sebelumnya, saya kurang begitu bergairah dalam membacanya. Anak Semua Bangsa itu pun diselesaikan dengan waktu yang cukup lama. Mungkin sekitar 5 bulan. (Bayangkan 5 bulan, betapa lamanya itu)

Menurut saya, dalam roman ke-2 itu kurang ada sosok Minke yang romantis dan philogynik

Namun, dalam roman ke-3 yang merupakan fase pengorganisasian massa ini, Mieke mulai merajut kembali jalinan cintanya dengan gadis Tiongkok: Ang san Mei.

Mendeskripsikan wanita yang disukai Minke menjadi suatu kepuasan tersendiri bagi para pembaca (mungkin).

Kecantikan morbid, sekiranya itu istilah yang digunakan Bung Pram, si Mei membuat Minke seakan memanggil memori pembaca akan kisah cinta tragis Minke di roman pertama.

"Belum lagi memasuki gangnya yang kotor dan mesin, dari mulut gang itu pula muncul seorang gadis Tionghoa yang ramping, mendekati kurus, cantik, sipit, dan pucat"

Memang, suatu kisah cinta memang diperlukan untuk merangsang pembaca dan juga sebagai suatu pelengkap roman yang menceritakan tentang sejarah Hindia itu sendiri. Tanpa Minke yang philogynik, seakan kita tidak membaca Minke.

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.