Opini, Sastra dan Diary

Jogjaku Asat (kering), Hotel Akar Masalahnya



Jogja, oh jogja. Betapapun kau dipuja, dipuji dan disenangi, toh kau masih menyimpan seribu-satu permasalahan. Yang tampak dan tak tampak. Semua ada.


Hari ini aku bersama temanku mengunjungi UGM. Tepatnya Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri. Bukan karen ada acara wayang maupun acara kebudayaan, melainkan pemutaran film.

Film yang diputar tersebut bergenre dokumenter dan bertemakan tentang salah satu dari seribu-satu permasalahan kota gudeg ini : "Jogja Asat".



Memasuki gerbang utama UGM, dan beberapa ratus meter setelahnya, motor-motor banyak berjejeran. Darisitu sudah bisa diprediksi antusiasme dari berbagai elemen masyarakat tuk menyambut film yang digarap Watchdoc ini.

Sampai diTKP, kami disuruh memutar kebelakang karena sudah kepenuhan. Ternyata saat memutar kebelakang dan masuk ke tempat pemutarannya, kami ternyata mendapatkan tempat khusus didepan. ANEHKAN.

Ruangan berbentuk persegi -dengan lorong di tiap sisinya itu -memang sengaja dirancang dengan 3 titik layar diketiga sisi lorong tersebut.
Diskusi setelah pemutaran film di PKKH UGM

Walhasil, penonton nyaman, karena tidak seperti nobar bola di cafe-cafe kecil.

Film dokumenter berjudul "belakang hotel" ini mengangkat permasalahan warga miliran dan warga daerah lain yang kekurangan air. Sumur-sumur warga tersebut kering karena pembangunan hotel-hotel yang sangat menjamur.

Akhir-akhir ini, daerah kota jogja memang lagi marak dengan pembangunan hotel. Tak ayal, masyarakat kena dampak dari pembangunan hotel tersebut.

Banyak hotel yang tidak memiliki Amdal, tetapi sudah bisa membangun. Banyak juga yang memiliki perizinan bodong.

Hal itu sekiranya membuat gerah Rani dan Paguyubannya. Rani, orang yang menyampaikan pendapat saat diskusi selepas pemutaran film tsb, mengatakan bahwa sudah sejak Juni 2014 mereka mengawal di persidangan soal penolakan pembangunan salah satu hotel.

Aku sendiri sempat melihat bahwa pembangunan hotel tsb sangat gencar publikasinya. Untuk pembebasan lahan saja, pihak hotel tersebut menaruh plang gede-gede yang bertuliskan "ground breaking".

Dari diskusi tersebut saya belajar bahwsanya air sangat penting bagi umat manusia. Kekurangan air bisa menyebabkan masyarakat cenderung individualis. Hal itu disampaikan budayawan yg juga sebagai narasumber dalam diskusi tersebut.

Menurut dia, masyarakat jogja dulu sangat rukun ihwal air. Bahkan dulu didepan tiap rumah, masyarakat jogja kuno itu menaruh gentong berisi air untuk warga-warga. Ibaratnya seperti fasilitas air gratis.

Dari diskusi dan pemutaran film tersebut, kebanyakan warga yang terkena dampaknya menyatakan bahwa kekringan ini merupakan peristiwa yang pertama kali terjadi. Hal itu yang menjadikan pertanyaan, sebegitu besarnya kah dampak negatif pembangunan hotel?

Para pakar dalam diskusi tersebut menyatakan bahwasanya ada hotel-hotel yang tidak melaksanakan pembangunan sesuai prosedurnya. Misalnya soal kedalaman muka air tanah yang mereka manfaatkan. Para pakar menyatakan bahwa ada hotel yang memanfaatkan muka air tanah dangkal, sehingga warga sekitar- yg jelas menggunakan muka air tanah dangkl juga- kekeringan sumurnya.

Secara praxis, masyarakat perlu menyadari kondisi ini dan kritis terhadap berbagai pembangunan. Upaya penyadaran di kampung2 lewat film ini adalah tindakan kongkrit untuk menyadarkan warga.

Penyadaran diri pribadi juga diperlukan. Kita perlu sadar akan pentingnya air bagi masa depan dan pentingnya menabung air untuk masa depan.

Mari ciptakan lingkungan yang kondusif bagi kita semua. Mari cintai lingkungan dan untuk para kapitalis pembangun hotel tersebut dan juga untuk pemerintah DIY, KEMBALIKAN AIR WARGA JOGJA!!!






2 komentar:

  1. Kasian ya.. Malah jatuhnya nyusahin.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tonton tuh di youtube.. keren.. buka search aja jogja asat atau watchdoc

      Hapus

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.