Opini, Sastra dan Diary

Dibalik Puisi Satire-ku

Gambar klik disini


Beberapa hari ini, postingan di blogku cuma puisi satire mulu. Mau dibilang apa coba, Penyair?, Ah gak juga. Mau dibilang apa coba, romantis? ah gak juga, puisi yang kutulis kan bukan soal asmara. Paling gak nulis puisi itu lebih gampang. Gak kayak nulis tulisan ini (haha).

Sebenarnya aku baru coba memulai untuk menulis seperti ini, soalnya aku melihat teman2 bloggerku yang lain kok nyaman banget nulisnya. Gak usah mikirin diksi segala. Gak usah mikirin kata2 yang baku. ( nah kan kalo gaya tulisan kayak gini kan bisa disingkat-singkat juga, ex: kata-kata,, jadi kata2.. haha)


Tapi kalo mau dibilang sih, masih enak nulisin puisi satire gitu... Lebih apa ya? lebih kena banget sama eke...

Aku biasanya kalo nulis puisi itu berangkat dari realitas sosial yang terjadi saat ini (itu sih karena aku lagi sadar2 nya jadi mahasiswa yang idealis, yang suka melawan pemerintah,,haha). Paling gak keunggulan puisiku itu kayak gaya bahasa yg tidak terlalu melow, tidak seperti puisi2 lain yang diksinya bukan main tingginya.

Karena basic-ku bukan orang sastra, jadi puisiku ya kayak gitu, diksinya seadanya aja. Tapi, dibalik diksi yang rendah itu aku setidaknya memiliki sikap yang tegas terkait permasalahan sosial yang ada. Menurutku menulis itu termasuk menyikapi (karena doktrin pers mahasiswa yang ada dibenakku seperti itu). Menulis adalah melawan juga. Menulis puisi satire itu merupakan bentuk keberpihakkanku kepada rakyat yang tertindas, sekaligus menyindir langsung para wakil rakyat kita yang culas. (CIEEEE)

Selain karena itu, aku juga memilih menulis puisi akhir2 ini karena ya pengen belajar menjadi penyair yang kritis aja. Aku pengen bisa juga seperti Wiji Thukul, W.S Rendra, Goenawan Mohammad dll dimana mereka menggunakan sastra sebagai upaya penyadaran dan sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap penindasan oleh apapun; entah itu negara, aparat keamanan, golongan fundamentalis dll

Puisi satire adalah suatu gaya puisi yang mengedepankan unsur ejekan atau sindiran. Begitu sih kalo ngeliat di KBBI.

Di puisi satire yang aku buat, siapa lagi coba yang aku sindir selain para penguasa b#j#ng#n itu. Penguasa yang menindas rakyat jelatah; kaum kapitalis yang melahap lahan rakyat; Kaum kapitalis beserta seluruh jajaran pemerintahan/ wakil rakyat yang merusak alam Indonesia.

Dan juga, sindiranku terkhususkan pula buat mahasiswa apatis yang tak sadar akan peran dan tanggung jawab sosialnya. (itu yang paling bikin aku gemes, selain pemerintahan yang korup)

Masalahnya mahasiswa sekarang sudah terlalu hedon, terlalu pragmatis dan apatis akut. (Sumpah ini gak bohong). Bedakan coba dengan mahasiswa2 pada jaman 98,, (gile gak itu). Mereka bisa jatuhin Soeharto coba. Hal ini bukan berarti kita harus menjatuhkan presiden Jokowi juga, bukan seperti itu. Paling tidak sikap kritisnya kan yang paling penting. Sikap kritis ditambah aksi nyata (entah menulis, turun kejalan, buat acara diskusi dll). Itu yang jarang dibuat.

Nah itu juga maksud tujuan puisi satire ku, sebagai upaya penyadaran dan upaya menolak lupa akan fungsi dan peran mahasiswa. Hanya menulislah yang aku bisa lakukan sekarang untuk melawan penindasan dan berpihak kepada yang lemah.

4 komentar:

  1. Kayaknya lo tipe aktivis yang hobi nulis puisi, udah lah jadi diri sendiri aja, klo menurut lo lebih indah nulis puisi yah bikin aja puisi sepuas-puasnya, klo bosen baru bikin tulisan kayak begini lagi. Nanti gue koment lagi. Hahaha koment doang bisanya

    BalasHapus
  2. Betul, jadi diri sendiri aja, Mas.
    Awalnya sy juga gitu, ngeblog kalo BW ke tempat lain banyak galaunya, pengen ngikutin gayanya. Akhirnya lama2 jadi nyaman nemuin gaya tulisan kita sendiri.
    Btw tulisan ini juga bagus kok.

    *maap kepanjangan.

    BalasHapus

Mengenai Saya

Foto saya

Aktivis Pers Mahasiswa LPM SOLID FTSP UII

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.